Industrialisasi di Provinsi Banten sejak era 1980-an, ditandai pertumbuhan aneka pabrik, belum juga mampu meningkatkan kesejahteraan warga. Umumnya, warga yang tinggal di sekitar pabrik masih menganggur, padahal mereka telah telanjur menjual lahan pertanian.

Warga Desa Gunung Sugih, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, misalnya, tidak bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik ketika tanah pertaniannya telanjur dijual.

Umumnya, warga yang tinggal di sekitar pabrik masih menganggur, padahal mereka telah telanjur menjual lahan pertanian.

Demikian temuan Tim Ekspedisi 200 Tahun Jalan Pos Anjer- Panaroekan, yang hari Jumat (15/8) meninggalkan wilayah Banten menuju Jakarta. Tim selanjutnya akan meneruskan perjalanan ke arah timur pada Sabtu (16/8).

KOMPAS/ TOTOK WIJAYANTO

Deretan rumah warga Desa Gunung Sugih, Kecamatan Ciwandan, Cilegon, Banten, berada di sekitar Kawasan Industri Pancapuri, Cilegon. Warga di desa tersebut minta direlokasi karena tidak tahan dengan polusi udara dan suara dari pabrik.

Tim ekspedisi

Kebanyakan warga mengandalkan hidup dari berbagai pekerjaan di sektor informal, seperti berdagang atau mengojek. Meskipun berasal dari keluarga petani, sebagian besar sawah telah dijual yang kemudian dibangun menjadi pabrik.

Badriah, salah seorang warga Desa Sugih, mengaku umumnya pekerja di pabrik-pabrik itu berasal dari kota-kota lain di Jawa. Meski saat ini salah seorang anaknya bekerja sebagai satpam di sebuah pabrik di Gunung Sugih, Badriah mengatakan umumnya warga sulit menjadi karyawan di pabrik-pabrik yang ada di sekitar desanya.

“Hanya kalau ada proyek overhaul saja, pemuda di sini dapat pekerjaan. Selebihnya sulit, kecuali ada kenalan atau dekat dengan pegawai pabrik,” tutur Badriah, Jumat (15/8).

Hal serupa dialami Masnah, warga yang tinggal di kawasan pabrik kimia di Desa Gunung Sugih. Lahan sawah warisan orangtuanya telanjur dia jual, sementara suami dan anak-anaknya tidak bisa bekerja di pabrik. Mereka kini hanya bisa menjadi buruh musiman, yang dikontrak paling banyak dua bulan per tahun.

Yang berpendidikan cukup pun kesulitan bekerja. Khaerudin, warga Gunung Sugih yang lulusan STM jurusan mesin, sedikitnya telah tiga kali melamar di berbagai perusahaan di sekitar tempat tinggalnya, tetapi semuanya gagal.

KOMPAS/ TOTOK WIJAYANTO

Aktivitas pabrik di Kawasan Industri Pancapuri, Cilegon, Banten, tengah berlangsung, Kamis (14/8/2008). Warga Desa Gunung Sugih, Kecamatan Ciwandan, Cilegon, Banten, yang tinggal di tak jauh dari kawasan industri tersebut minta direlokasi karena tidak tahan dengan polusi udara dan suara dari pabrik.

Industrialisasi

Pesatnya industrialisasi di Banten terlihat dari peningkatan nilai produk domestik regional bruto (PDRB).

Pada 2002, PDRB Banten baru mencapai Rp 60,35 triliun. Jumlahnya terus meningkat, sampai Rp 94,41 triliun pada 2006. Bahkan pada tahun 2007, nilai PDRB melonjak hingga Rp 122 triliun.

Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Banten, sektor industri pengolahan memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB.

Namun, pesatnya industrialisasi di Banten berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Setiap tahun, sektor industri pengolahan menyumbang 49,28 persen PDRB. Sumbangan PDRB itu berasal dari pendapatan yang dihasilkan lebih dari 1.500 pabrik di sepanjang pantai barat hingga pantai utara Banten.

Pabrik-pabrik tersebut tersebar di 18 kawasan industri yang membentang dari Anyer, Ciwandan, Kragilan, Cikande, Balaraja, hingga Cikupa. Namun, pesatnya industrialisasi di Banten berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Dari sekitar 6,1 juta pekerja, mayoritas atau sekitar 26,91 persen bekerja di sektor pertanian. Sementara itu, sektor industri baru bisa menyerap 22,85 persen tenaga kerja.

Tingkat pendidikan dan kompetensi penduduk Banten juga rendah. Dari 7,1 juta penduduk usia kerja, 32,18 persen di antaranya hanya lulus SD dan sebanyak 26,8 persen tidak tamat SD. Hanya 1,86 persen yang berpendidikan sarjana.

(B JOSIE SUSILO/ ANITA YOSSIHARA)