Sulit menemukan jejak asli yang tersisa dari Jalan Raya Pos. Salah satu dari yang sedikit itu adalah ruas jalan sepanjang 4 kilometer di jembatan lama Rajamandala yang melintasi Sungai Citarum.

Pembangunan Jalan Tol Rajamandala pada awal 1980-an memberikan berkah bagi situs Jalan Raya Pos yang tersisa relatif utuh di lokasi yang kini diapit perkampungan tersebut. Di wilayah perbatasan Kabupaten Cianjur dan Bandung Barat itu bahkan masih dapat dijumpai lokasi penyeberangan Sungai Citarum dengan perahu tambang di titik terendah sungai.

Merujuk catatan perjalanan Walter Kinloch, setidaknya sampai dengan 1852, kereta kuda yang ditumpangi harus naik rakit penyeberangan untuk melintasi Tjitaroem. Dalam catatan berjudul Rambles in Java and the Straits in 1852, Kinloch menuturkan, “Turunan terjal saat menuruni lembah Tjitaroem dari arah Tjiandjoer. Kereta kuda dapat menyeberang Sungai Tjitaroem dengan menumpang rakit tanpa hambatan apa pun. Selanjutnya kereta menaiki tebing terjal Tjitaroem dengan ditarik beberapa pasang kerbau. Dua utas tali dari kulit kerbau mengikat kereta dengan hewan penghela. Itulah bagian paling menegangkan saat menyeberangi Sungai Tjitaroem.”

KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHO

Warga melintasi jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Cisameng, Desa Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat dengan Desa Bantar Caringin, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Rabu (6/11/2013). Jembatan selebar sekitar 1,5 meter ini merupakan satu-satunya penghubung lalu lintas perekonomian antar desa tersebut.

Secara turun-temurun warga tinggal di dekat jembatan lama tersebut, bahkan sejak zaman Hindia Belanda ketika jembatan belum dibangun. Rumah warga di Rajamandala di tepian Citarum mengingatkan pada suasana era 1960-an hingga awal 1980-an. Rumah dibangun di atas panggung sekitar 20 sentimeter dari permukaan tanah. Kebanyakan dinding rumah terbuat dari anyaman bambu yang dilabur kapur dan beratap genteng tipis.

Perkebunan di sepanjang Jalan Raya Pos diawali dengan cultuur stelsel masa Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch pada 1830.

Perkebunan di sepanjang Jalan Raya Pos diawali dengan cultuur stelsel masa Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch pada 1830. Ketika itu, kopi dan teh menjadi primadona perkebunan di Jawa. Sejarawan dari Universitas Indonesia, Djoko Marihandono, mencatat bahwa bagian terbesar penghasilan kebun, yakni 50 persen, dikuasai kaum priayi yang menguasai pemerintahan sebagai kelompok elite bumiputra. Selebihnya, 30 persen, disetorkan ke kas Pemerintah Hindia Belanda dan 20 persen sisanya menjadi hak petani.

KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHO

Seorang warga duduk diatas rakit bambu saat mencari ikan di aliran Sungai Citarum di Rajamandala, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (20/9/2012). Kegiatan mencari ikan menjadi bagian potret kehidupan keseharian masyarakat perkampungan di tepi sungai tersebut.

Riwayatmu kini

Jika kini melintas wilayah Rajamandala di tepi Sungai Citarum, pemandangan yang bisa langsung ditemui adalah kegiatan penambangan pasir dan batu sungai, penyeberangan dengan sampan, dan penjaringan ikan. Itulah sumber pokok penghidupan masyarakat Rajamandala.

Amun (45), warga asli Rajamandala di Kampung Muhara, Desa Cihea, misalnya, dengan bermodal palu, kegiatan sehari-harinya adalah memecah batu sungai. “Lumayan, Pak. Satu kubik batu, satu bak pikap Mitsubishi Colt L-300, dibeli orang Rp 100.000. Banyak pengusaha material bangunan dan proyek membeli batu dan pasir di sini,” kata Amun.

KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHO

Seorang warga menggunakan perahu untuk melintasi Sungai Citarum di Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (15/1/2015). Jalur transportasi sungai memiliki kelebihan memangkas jarak tempuh daripada jalan darat sehingga bagi sebagian warga jalur ini dipilih dan menguntungkan.

Masa kejayaan kebun kopi dan teh yang mendatangkan kemakmuran bagi Kerajaan Belanda pada kurun waktu 1860-an sudah berlalu. Kejayaan itu sempat menempatkan Amsterdam sebagai pusat keuangan Eropa. Seperti yang terjadi pada masa lalu, kesejahteraan pun bukan milik rakyat Rajamandala dan petani Jawa pada umumnya. Nasib warga Rajamandala tetap sama terlupakan dengan penggalan Jalan Raya Pos.

(Iwan Santosa)