AWAN seputih kapas mengapung di langit membiru. Di bawah terik matahari siang itu, sebuah tugu bertuliskan nama-nama menghadirkan suasana muram. Dikepung ilalang dan belukar, tembok kusam di atas bukit itu menjadi penanda bagi 207 jasad korban gempa yang menghancurkan kota Liwa, Lampung, 18 tahun silam.

Hampir tengah malam, Selasa, 15 Februari 1994. Warga kota yang dikelilingi perbukitan itu tertidur dalam buaian gerimis. Namun, Emayati, waktu itu 31 tahun, gelisah. Warga Desa Sebarus di pinggir kota Liwa itu tak bisa memejamkan mata. Kandungannya yang sudah berusia sembilan bulan memunculkan rasa mulas samar-samar.

Emayati masih terjaga ketika tiba-tiba rumahnya berguncang hebat. Gempa! Rumah panggung kayu itu berderak-derak, diikuti suara tembok roboh di belakang rumah. Dia berusaha berdiri, tetapi guncangan gempa melumpuhkan. Emayati hanya bisa terbaring pasrah, mengikuti ayunan rumahnya.

Rumah panggung itu masih utuh, sekalipun gempa mengguncang sangat kuat. Segera setelah guncangan berhenti, Emayati turun dan berlari ke belakang mencari anak sulungnya, Alexander. Namun, anaknya yang baru berusia dua tahun itu tewas tertimpa runtuhan tembok kamar. Emayati terguncang.

Kamar yang roboh itu merupakan bangunan tambahan di belakang rumah kayu warisan keluarga. Emayati dan suaminya, Zamzami, adalah generasi keempat yang menempatinya. ”Kamar tembok itu baru saja jadi. Alexander minta pindah ke sana,” kata Zamzami.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Suoh, Kawasan yang Terisolir – Kondisi jalan utama di Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, Lampung, Jumat (10/2/2012). Daerah subur dan kaya akan energi panas bumi tersebut hinggi kini masih sulit untuk dicapai karena tidak adanya akses jalan yang memadai.

Dalam suasana berkabung, sekitar pukul 05.00 dini hari, Emayati melahirkan bayi lelaki. Anak itu diberi nama Gelianse, kependekan dari ”Gempa Liwa di Sebarus”. ”Di samping kiri jenazah anak sulung saya. Di samping kanan saya adiknya yang baru lahir,” kenang Emayati.

Sedih dan gembira berbaur, hidup dan maut bertaut erat. Gempa telah merenggut hidup Alexander dan ratusan warga Liwa lainnya, tetapi juga menghadirkan hidup baru dalam sosok Gelianse.

Gempa juga membawa Satria (41), warga kota Liwa, berada di sempadan hidup dan maut. ”Gempanya sangat kuat, naik-turun seperti ombak,” kisahnya. ”Kami dibanting-banting. Rumah-rumah ambruk, termasuk rumah kami.”

Pria berpostur kecil itu terkubur dinding batako dan atap rumahnya yang ambrol. Istri dan anaknya pun turut tertimbun. ”Saya hanya bisa menangis dan berteriak-teriak minta tolong,” tutur pedagang di pasar kota Liwa ini. Keluarga ini beruntung bisa selamat karena ada tetangga yang mendengar teriakan Satria.

Gempa berkekuatan 7 skala Richter pada tahun 1994 itu merupakan yang terkuat yang pernah dialami Satria dan sebagian besar warga Liwa. Selain menewaskan lebih dari 200 orang, gempa juga melukai 4.000 warga.

Sedih dan gembira berbaur, hidup dan maut bertaut erat.

Nyaris seluruh bangunan di ibu kota kabupaten Lampung Barat itu hancur. Kantor bupati pun rusak berat. Jaringan listrik di kota berpenduduk sekitar 86.000 jiwa itu putus total, menciptakan kegelapan sepanjang Rabu (16/2/1994) dini hari. Cahaya hanya berpendar di sekitar Pasar Liwa yang terbakar karena korsleting listrik. Gempa itu melumpuhkan Liwa hingga berminggu-minggu kemudian.

Bagi Helmy Siradj (81), warga Desa Sebarus, gempa pada tahun itu masih kalah dahsyat dibandingkan dengan yang pernah dialaminya tahun 1933. Ia memang tak ingat rincinya karena saat itu baru berusia 1,5 tahun. Namun, orangtuanya sering berkisah tentang gempa besar pada 1933 yang memaksa seluruh warga meningalkan desa.

”Orang-orang Sebarus dulu, termasuk orangtua saya, berasal dari Pasirah,” kata Helmy. ”Akibat gempa, tanah menjadi anjlok. Seluruh rumah di Pasirah roboh dan sawah pun hancur.”

Hasil penelitian Bela Dini dan timnya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2003 tentang kebumian daerah Lampung menyebutkan, pada 25 Juni 1933 dini hari, gempa berkekuatan 7,5 skala Richter meluluhlantakkan Liwa. Permukaan tanah retak-retak dan ambles. Kebakaran melanda. Guncangan terdahsyat terjadi di Liwa dan Banding Agung. Nyaris semua bangunan di dua kota ini rata dengan tanah. Longsor terjadi di mana-mana. Hujan abu turun, entah dari mana sumbernya, ”Peristiwa ini menelan korban ratusan, bahkan mungkin ribuan jiwa,” tulis Bela.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Suoh, Kawasan yang Terisolir – Kondisi jalan utama di Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, Lampung, Jumat (10/2/2012). Daerah subur dan kaya akan energi panas bumi tersebut hinggi kini masih sulit untuk dicapai karena tidak adanya akses jalan yang memadai.

Getaran gempa disebutkan Bela Dini juga sampai ke Suoh. Namun, penelitian tim LIPI itu tak menjelaskan rinci soal daerah ini. Padahal, beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan peneliti Belanda menyebutkan, Suoh merupakan yang terparah terdampak gempa 1933. Berada sekitar 26 km dari Liwa, kawasan itu tak gampang diakses, bahkan hingga saat ini.

(Ahmad Arif/ Agung Setyahadi/ Prasetya Eko P/ Ingki Rinaldi/ Wawan H Prabowo/ Rustiono/ Andri)