AWAN seputih kapas mengapung di langit membiru. Di bawah terik matahari siang itu, sebuah tugu bertuliskan nama-nama menghadirkan suasana muram. Dikepung ilalang dan belukar, tembok kusam di atas bukit itu menjadi penanda bagi 207 jasad korban gempa yang menghancurkan kota Liwa, Lampung, 18 tahun silam.

Anda harus memiliki akun dan berlangganan salah satu paket di Gerai Kompas untuk melanjutkan membaca. Bagi pengguna baru, daftar dan dapatkan akses ke semua berita bebas akses selama 7 hari!