Di balik permai Danau Toba yang menghampar di Sumatera Utara, sebuah daya rusak yang mahadahsyat tersembunyi di dalamnya. Sekitar 74.000 tahun lampau, Gunung Toba meletus hebat dan nyaris menamatkan umat manusia.

Kedahsyatan letusan gunung api raksasa (supervolcano) Toba itu bersumber dari gejolak bawah bumi yang hiperaktif. Lempeng lautan Indo-Australia yang mengandung lapisan sedimen menunjam di bawah lempeng benua Eurasia, tempat duduknya Pulau Sumatera, dengan kecepatan 7 sentimeter per tahun.

Gesekan dua lempeng di kedalaman sekitar 150 kilometer di bawah bumi itu menciptakan panas yang melelehkan bebatuan, lalu naik ke atas sebagai magma. Semakin banyak sedimen yang masuk ke dalam, semakin banyak sumber magmanya.

Kantong magma Toba yang meraksasa disuplai oleh banyaknya lelehan sedimen lempeng benua yang hiperaktif. Kolaborasi tiga peneliti dari German Center for Geosciences (GFZ) dengan Danny Hilman dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Fauzi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2010 menyimpulkan bahwa di bawah Kaldera Toba terdapat dua dapur magma yang terpisah.

KOMPAS/ GREGORIUS MAGNUS FINESSO

Panorama Danau Toba di Sumatera Utara, dilihat dari kawasan Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Minggu (15/2/2015).

Dapur magma ini diperkirakan memiliki volume sedikitnya 34.000 kilometer kubik yang mengonfirmasi banyaknya magma yang pernah dikeluarkan gunung ini sebelumnya.

Vulkano-tektonik

Tak hanya dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dari dapur magma, Danau Toba (baca: Kaldera Toba) ternyata juga sangat dipengaruhi oleh kegiatan tektonik yang mengimpitnya sehingga kalangan geolog menyebutnya sebagai vulkano-tektonik.

Tumbukan lempeng bumi yang sangat kuat dari lempeng Indo-Australia telah memicu terbentuknya sesar geser besar yang disebut sebagai Zona Sesar Besar Sumatera (Sumatera Fault Zone/SFZ). Sesar ini memanjang hingga 1.700 kilometer dari Teluk Lampung hingga Aceh. Hampir semua gunung berapi di Sumatera berdiri di atas sesar raksasa ini.

Uniknya, Kaldera Toba tidak berada persis di atas sesar ini. Dia menyimpang beberapa kilometer ke sebelah timur laut sesar Sumatera. ”Di antara Sungai Barumun dan Sungai Wampu, Pegunungan Barisan (yang berdiri di atas sesar) tiba-tiba melebar dan terjadi pengangkatan dari bawah yang membentuk dataran tinggi; panjangnya 275 km dan lebar 150 km yang disebut Batak Tumor,” papar Van Bemmelen, geolog Belanda yang pada 1939 untuk pertama kali mengemukakan bahwa Toba adalah gunung api.

KOMPAS/ WISNU WIDIANTORO

Pemandangan salah satu sudut Danau Toba, Sumatera Utara, Kamis (23/6/2016).

Pengangkatan Batak Tumor ini, disebut Bemmelen, menjadi fase awal pembentukan Gunung Toba. Saat pembubungan terjadi, sebagian magma keluar melalui retakan awal membentuk tubuh gunung. Jejak awal tubuh gunung ini masih terlihat di sekitar Haranggaol, Tongging, dan Silalahi. Sementara sebagian besar lainnya telah musnah saat terjadinya letusan Toba terbaru sekitar 74.000 tahun lalu (Youngest Toba Tuff/YTT).

Danau Toba jelas terpengaruh oleh gaya sesar ini. Bentuk Danau Toba yang memanjang, bukan bulat sebagaimana lazimnya kaldera, menunjukkan dia terpengaruh dengan gaya sesar geser yang berimpit di kawasan ini.

Sisi terpanjang danau, yang mencapai 90 km, sejajar dengan Zona Sesar Sumatera, yang merupakan salah satu patahan teraktif di dunia selain Patahan San Andreas di Amerika. Aktivitas gunung berapi di Sumatera, termasuk Toba, dikontrol oleh patahan ini.

Zona Sesar Sumatera merupakan patahan teraktif di dunia selain Patahan San Andreas.

Sesar Sumatera

Di Tarutung, 35 kilometer dari tepi tenggara Danau Toba, jejak aktivitas Zona Sesar Sumatera itu terlihat jelas pada pengujung Agustus 2011. Gempa berskala 5,5 skala Richter telah menggoyang kawasan ini pada Selasa, 14 Juni 2011, merobohkan 200 rumah dan bangunan sekolah di sana.

KOMPAS/ MOHAMMAD HILMI FAIQ

Siswa SDN 173238 Pangaloan, Kecamatan Pahae Jahe, Tapanuli Utara, Sumut, bersembunyi di bawah meja belajar di tenda pengungsian saat latihan penyelamatan diri dari ancaman gempa, Rabu (22/6/2011). Masih banyak warga Tarutung, Tapanuli Utara yang belum memahami mitigasi dan upaya menyelamatkan diri saat gempa melanda.

Nyaris setiap tahun gempa menggoyang di sepanjang Zona Sesar Sumatera, menandakan betapa aktifnya gejolak geologi kawasan ini. Gempa terbaru terjadi di Singkil pada Selasa, 6 September 2011, persisnya 100 km dari tepi barat Danau Toba, menewaskan satu orang.

Gambaran lebih kelam akan terlihat jika melihat rekam jejak aktivitas kegempaan dan tsunami yang dipicu gerakan di zona subduksi barat Pulau Sumatera. Beberapa gempa besar, terbesar, telah terjadi dalam kurun satu dekade belakangan.

Jika sesar darat Sumatera dan tumbukan lempeng yang berpotensi memengaruhi aktivitas Toba masih sangat aktif, bagaimana dengan faktor lainnya berupa magma?

Penelitian CA Chesner, geolog dari Eastern Illinois University (1991), menemukan bahwa magma di Toba masih ada. Kehadiran magma setelah letusan 74.000 tahun lalu bisa dilihat dari munculnya air panas di sisi barat. Keberadaan dua gunung api muda, setelah YTT, yaitu Sipiso Piso dan Pusuk Buhit.

KOMPAS/ RADITYA HELABUMI

Seorang perempuan menyelesaikan ulos atau kain tenun tradisional Batak di Desa Lumban Suhi Suhi, Pangururan yang berada di Pulau Samosir, Sumatera Utara, Sabtu (23/7/2011).

Bukti lain adalah anomali gravitasi di Pulau Samosir, yang menunjukkan rendahnya kepadatan material di bawah Danau Toba. Rendahnya kepadatan bisa dipahami sebagai adanya dapur magma di bawah Toba, yang bisa jadi mulai terisi kembali. Fenomena pengangkatan Pulau Samosir dari dasar Kaldera Toba menjadi bukti masih adanya aktivitas magma pasca-letusan YTT.

Jika aktivitas magma masih ada dan aktivitas gunung ini sebelumnya dipengaruhi oleh Sesar Sumatera, apakah gempa-gempa besar yang mengguncang kawasan ini akan membangkitkan raksasa yang tidur itu?

Gunung Toba tidak akan meletus dalam waktu dekat.

Apakah Gunung Toba kembali akan meletus? Akankah sekuat letusan 74.000 tahun lampau yang nyaris memunahkan kehidupan? ”Masalahnya bukan akan meletus atau tidak karena semua gunung berapi bisa meletus,” kata geolog Indyo Pratomo.

Akan tetapi, menurut Indyo, Gunung Toba tidak akan meletus dalam waktu dekat. ”Tak ada tanda-tanda kenaikan aktivitasnya,” kata dia.

KOMPAS/ MOHAMMAD HILMI FAIQ

Pelancong dari Australia menikmati Danau Toba dengan bermain kano di Tuk Tuk, Kabupaten Samosir, Sumut, Jumat (30/12/2011).

Setiap ada sesuatu elemen yang berubah, misalnya pelepasan energi gempa, menurut Indyo, pasti akan diikuti oleh perubahan lainnya untuk mencapai keseimbangan. Namun, tidak serta merta jika terjadi gempa besar di Sumatera kemudian Supervolcano Toba akan segera hidup kembali.

”Kalau kita lihat perulangan episode letusan Toba antara 350.000 sampai 400.000 tahun dan erupsi kaldera terakhir sekitar 74.000 tahun lalu. Jadi, kalau kita berpegang pada periodisasi itu, masih ada sekitar 200.000 tahun lebih ke depan. Untuk saat ini tidak perlu merisaukan erupsi kaldera di Toba,” kata dia.

Indyo meyakini, kita masih akan bisa menikmati elok permai Danau Toba dalam waktu yang lama. Raksasa itu masih lelap tertidur dan belum saatnya terbangun.

(AHMAD ARIF/ AMIR SODIKIN/ MOHAMMAD HILMI FAIQ/ INDIRA PERMANASARI)