KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Mural Ahli biologi Alfred Russel Wallace bersama asistennya Ali berada di lorong pemukiman yang dipercaya sebagai tempat tinggalnya saat tinggal di Ternate pada Januari 1858, Kota Ternate, Maluku Utara, Minggu (21/4/2019). Wallace kemudian mengirum surat kepada Charles Darwin yang dikenal dengan "Surat dari Ternate" yang kemudian menjadi tonggak penting bagi Darwin untuk menerbitkan bukunya, Origin of Species, pada 1859. Buku ini berisi proses seleksi alam yang memicu evolusi. Dari sini, Darwin dikenal sebagai Bapak Evolusi.

Maluku Utara

Menelusuri Jejak Warisan Wallace

·sekitar 6 menit baca

Setelah dua hari perjalanan dari Ambon dengan kapal uap Belanda, Alfred Russel Wallace, naturalis berkebangsaan Inggris, tiba di Ternate, Maluku Utara, 8 Januari 1858 pagi. Wallace tidak menduga dirinya akan mendapat momen ”eureka” dari ide awal teori seleksi alam ketika sedang dilanda demam tinggi di Desa Dodinga, Halmahera, yang berada di seberang Ternate.

Selama delapan tahun menjelajahi Nusantara (kini Indonesia), Ternate menjadi tempat tinggal dan transit yang terlama Wallace. Awal Februari 2019 pagi, 161 tahun kemudian, tim Ekspedisi Wallacea Harian Kompas juga tiba di Ternate. Pemandangan yang dilihat Wallace juga masih sama dengan yang kami lihat, Gunung Gamalama yang masih tertutup kabut dan Tidore, di seberang Ternate. Hanya saja, sekarang lebih banyak terlihat bangunan. Untuk bisa mendapat pemandangan indah nan luas, harus lebih mendekat ke kaki Gunung Gamalama.

Setibanya di Ternate, kami pun mencari tempat penginapan. Wallace juga waktu itu menemui Duivenboden, saudagar kaya Ternate keturunan Belanda yang menguasai separuh kota dan ratusan budak. Dari Duivenboden, Wallace menyewa rumah selama tiga tahun sejak Januari 1858 hingga Januari 1861. Rumah itu tak hanya menjadi tempatnya beristirahat dan transit, tetapi juga tempat menulis, menyempurnakan, dan mengirim makalah berjudul ”On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type” berisi ide teori seleksi alam kepada Charles Darwin di London, Inggris, dengan bantuan kapal uap Belanda, pada Maret 1858.

Rumah transit itu juga penuh dengan spesimen fauna dan flora yang dikumpulkan, dikuliti, dan dikeringkan Wallace khusus dari wilayah Indonesia timur. Spesimen yang didapat antara lain burung bidadari (Semioptera wallacii), burung raja cenderawasih (Paradisea regia), dan kupu-kupu (Papilio ulysses).

Dari rumah Ternate itu pula Wallace merencanakan perjalanannya ke Halmahera, Papua, Kepulauan Kei, Bacan, Kupang, Banda, Ambon, Seram, Waigiou, Timor Leste, Manado, dan Pulau Buru.

Wallace mendeskripsikan rumahnya itu dengan rinci di bukunya, The Malay Archipelago, yang diterbitkan 150 tahun yang lalu. Selama bertahun-tahun, para ahli gigih mencari rumah Wallace itu berdasarkan keterangan dalam buku itu. Ada tiga lokasi yang diduga rumah Wallace dan belum ada kata sepakat rumah yang mana sebenarnya.

Wallace merinci rumah yang ditempati, menggambar peta, denah ruangan, dan memberikan penanda-penanda khusus, seperti benteng Portugis, jalan menuju gunung, hingga jarak jalan kaki dari rumah ke pasar. Sayang, banyak penanda sudah berubah atau bahkan tidak ada lagi.

Rumah pertama yang diduga kuat rumah Wallace adalah rumah di Jalan Juma Puasa, Santiong, Ternate Tengah. Rumah kedua berarsitektur lama di Soasio, dekat Kesultanan Ternate. Kedua rumah itu berjarak 1 kilometer. Keduanya memiliki penanda hampir sama, berada di dekat kota dan mungkin pada masa itu tak jauh dari pedalaman dan gunung. Bangunan di Jalan Juma Puasa sudah dirombak modern. Fasad bangunan tak lagi setengah tembok yang disambung dengan jalinan sagu seperti gambaran Wallace. Rumah itu sudah ditembok penuh dengan jendela-jendela kaca yang lebar.

Di depan rumah itu terdapat bangunan benteng yang sudah tak utuh lagi. Persis di seberang rumah itu ada reruntuhan tembok kuno yang diduga benteng Portugis lama, tembok tebal itu menjadi bagian dari kantor. Pemilik rumah yang kosong itu, Paunga Tjandra, kini bermukim di Ambon. Di samping rumah ada gang kecil yang diberi nama AR Wallace. Dari gang ini bisa dilihat tembok bagian belakang rumah. Tembok tinggi itu menutupi halaman belakang, di mana sumur dalam yang diceritakan Wallace kemungkinan masih ada.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Mural ahli biologi Alfred Russel Wallace bersama asistennya, Ali, berada di lorong permukiman yang dipercaya sebagai tempat tinggalnya di Ternate pada Januari 1858, Kota Ternate, Maluku Utara, Minggu (21/4/2019). Wallace kemudian mengirim surat kepada Charles Darwin yang dikenal dengan ”Surat dari Ternate” yang kemudian menjadi tonggak penting bagi Darwin untuk menerbitkan bukunya, Origin of Species, pada 1859. Buku ini berisi proses seleksi alam yang memicu evolusi. Dari sini, Darwin dikenal sebagai ”Bapak Evolusi”.

Sumur itulah yang, kata Ketua Yayasan Wallacea Sangkot Marzuki, menjadi salah satu indikasi rumah Wallace. Sumur itu diteliti, Maret lalu, untuk memperkuat dugaan lokasi rumah. Rumah ini memiliki sejarah panjang dalam pencarian rumah Wallace. Pemerintah Kota Ternate pernah berusaha membebaskan rumah itu, tetapi terkendala anggaran. Jalan ini pernah dinamai AR Wallace pada 2008, tetapi kemudian diganti dengan nama pahlawan Ternate, Juma Puasa.

Ada lagi rumah yang diduga rumah Wallace yang lebih dekat dengan istana Ternate. Denah rumah itu persis seperti gambaran Wallace; memiliki serambi lebar dengan undakan kecil menuju jalan. Di rumah itu juga ada kamar-kamar dan serambi belakang dengan sumur di halaman belakang. Hanya saja, rumah itu juga sudah berupa tembok penuh. Rumah itu masih dipakai oleh kerabat keraton.

Benteng yang diidentifikasikan Wallace sebagai benteng Portugis itu diduga Benteng Oranye, 500 meter dari rumah tersebut. Namun, sejarawan Inggris, George Beccaloni, melalui e-mail menyebutkan, benteng itu merupakan benteng Belanda, bukan Portugis. Dalam buku Wallace, Australasia, edisi revisi 1894, disebutkan bahwa benteng itu diduga dibangun ”di bekas bangunan tua Portugis”.

Kepala Bidang Sejarah dan Budaya Kota Ternate Rinto Thaib menemani menjelajahi rumah itu. Dari rumah itu, Benteng Oranye yang menjadi ikon Kota Ternate bisa dijangkau kurang dari 500 meter. Begitu pula pasar Ternate saat ini. ”Rumah ini lebih dekat dengan keraton. Jika benar Wallace pernah melihat raja ditandu melewati depan rumahnya saat ke masjid, ini mungkin menjadi rumah yang dia tempati karena dekat dengan istana,” kata Rinto. Rumah ini juga memiliki penanda yang sama, dekat dengan pasar dan benteng.

Sumur jadi kunci

Perubahan tata kota mengubah pula peta Ternate. Jika dulu Wallace menyebutkan rumahnya tak jauh dari pantai, kini mungkin bergeser karena pemerintah kota pernah mereklamasi kawasan pantai. Pasar yang disebut Wallace pun mungkin telah bergeser. Pasar-pasar yang saat ini eksis sebagian sudah berkembang, bahkan bergeser. Permukiman pun kini menggantikan sebagian hutan.

Keberadaan sumur tua kini menjadi kunci indikasi rumah Wallace. The Alfred Russel Wallace Correspondence Project telah mengidentifikasi tujuh sumur tua di Ternate dan memaparkan hasil temuannya pada Juli 2019. Wallace dalam bukunya memang menyebutkan, di rumahnya ada sumur dalam dengan air yang bersih. Paul Whincup, peneliti ahli tanah asal Inggris, menyebutkan, ada tujuh sumur tua yang berdekatan dengan deskripsi Wallace. Ada satu yang cocok, terletak di Jalan Pipit dan Jalan Merdeka, menghadap ke sudut barat daya Benteng Oranye.

KOMPAS/ARIS PRASETYO

Buku berjudul The Malay Archipelago karya Alfred Russel Wallace. Buku tersebut berisi rangkuman perjalanannya di Nusantara pada 1854 sampai 1862.

Pemerintah Kota Ternate mendukung temuan itu dan membuat peta jalan untuk melestarikan warisan-warisan Wallace di Ternate, termasuk peninggalan fisiknya berupa rumah. Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman mengatakan, jejak Wallace menjadi harta karun terpendam bagi Ternate. Jejak itu bisa mengangkat nama kotanya di tingkat internasional. ”Hal yang pasti, akan banyak orang datang untuk menelusuri jejak Wallace. Dari sisi pariwisata sejarah sangat kuat,” ujarnya.

Bersama dengan The Alfred Russel Wallace Correspondence Project, pemerintah kota akan melanjutkan selisik jejak Wallace selanjutnya, termasuk kisah Ali, asisten Wallace yang ceritanya masih misteri hingga kini. Rumah Wallace yang menyimpan banyak sejarah akan dibebaskan dan dibuat replikanya agar jejaknya tak hilang.

Pencarian rumah Wallace tidak akan pernah usai dan pasti akan ada temuan baru lagi. Bagi Sangkot, keberadaan rumah Wallace ini penting untuk sejarah ilmu pengetahuan. Rumah Wallace dan Darwin di Inggris saja sudah dijadikan museum. Apalagi jika mengingat Ternate menjadi inspirasi dari lahirnya teori evolusi dan Garis Wallacea. ”Selain bisa jadi obyek wisata, rumah itu juga bisa menginspirasi generasi muda kita,” ujarnya.

Pemerintah didorong untuk membuat semacam replika rumah Wallace dan menjadi museum di lokasi yang diduga menjadi rumah Wallace. Isi museum itu bisa dibuat tidak hanya mengenai Wallace, tetapi juga bisa mengenai Ali yang kemudian pindah ke Ternate setelah Wallace kembali ke Inggris. Harapannya, museum Wallace itu akan menunjukkan karya besar Wallace selama berada di Nusantara dan memamerkan keragaman hayati Indonesia yang didokumentasikan Wallace, sekaligus menyebarkan semangat pentingnya upaya konservasi menjaga kekayaan alam di Indonesia.

(SIWI YUNITA CAHYANINGRUM/LUKI AULIA/ARIS PRASETYO)

Artikel Lainnya