KOMPAS/EDDY HASBY

Kilang Musi milik Pertamina di Plaju, Sumatera Selatan, Selasa (23/2), terlihat dari Sungai Musi.

Liputan Kompas Nasional

Jelajah Musi 2010: Kini Dukungan Musi Melemah

·sekitar 3 menit baca

Ketika perusahaan asal Amerika Serikat dan Belanda menemukan sumur minyak dengan cadangan yang cukup besar di Sumatera Selatan, mereka langsung memutuskan untuk membangun Kilang Plaju tahun 1904 dan Kilang Sungai Gerong tahun 1926.

Pengangkutan minyak mentah dari sumur ke kilang memanfaatkan jaringan pipa. Sementara pengiriman produk bahan bakar minyak dilakukan dengan tanker melalui Sungai Musi.

Namun, saat ini Musi tidak lagi memberi dukungan penuh terhadap operasional dua kilang yang pengelolaannya disatukan menjadi Kilang Musi itu. Sungai tersebut sudah mengalami pendangkalan sehingga daya dukungnya terhadap industri melemah.

Padahal, ketergantungan Kilang Musi semakin tinggi karena jumlah kapal yang digunakannya dan memanfaatkan Sungai Musi bertambah. Saat ini kapal yang digunakan tidak hanya untuk mengambil produk bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga mengantar bahan baku minyak mentah untuk dimasak karena produksi sumur-sumur minyak di Sumatera Selatan sudah mulai merosot sejak tahun 1990-an.

Memang ironis, saat kilang yang diambil alih dari Stanvac (Amerika Serikat) dan Shell (Belanda) semakin membutuhkan dukungan Musi, ternyata alur sungai tersebut semakin sulit dilalui kapal-kapal minyak. Alur sungai sepanjang 120 kilometer hingga ke ambang luar di selat Bangka mengalami kerusakan parah pada 13 titik.

Jika melihat pertumbuhan permukiman dan perkebunan di sekitar Musi, pendangkalan sungai yang terjadi kemungkinan besar akibat ulah manusia. Kerusakan lingkungan di daerah aliran Sungai (DAS) Musi menyebabkan terjadi endapan ke dasar sungai.

Efek dari pendangkalan tersebut, kapal-kapal minyak akhirnya bergantung pada pasang-surut sungai, yang sebelumnya tak pernah terjadi. Secanggih apa pun kapalnya sudah tidak mampu menghindari risiko kandas karena parahnya kerusakan lingkungan di DAS Musi. Sekarang ini kapal yang akan bergerak harus menunggu ketinggian permukaan air sungai naik terlebih dulu.

Supervisor Operasional Kapal PT Pertamina Unit Pengolahan III Asdin Mat Akhir mengutarakan, di beberapa titik terdapat penumpukan material pasir halus setinggi 3 meter dalam waktu enam bulan. Akibat endapan pasir yang kemudian mengeras itu, risiko yang dihadapi kapal yang menuju dermaga Pertamina semakin tinggi.

“Akibat pendangkalan sungai, Pertamina tidak bisa memanfaatkan armada kapalnya dengan efektif karena muatan harus di bawah kapasitas yang tersedia. Rata-rata kapal yang tersedia memiliki kapasitas muat 18.000 DWT, sedangkan kondisi sungai hanya memungkinkan memuat 12.000 DWT,” ujar Asdin.

Andalan Pertamina

Kilang Plaju dan Kilang Sungai Gerong merupakan cikal bakal bisnis hilir dari PT Pertamina meskipun bukan kilang yang pertama dibangun di Indonesia. Kedua kilang itu memiliki kapasitas 126.000 barrel per hari dan pernah menjadi penghasil BBM terbesar di antara kilang di Indonesia.

Kilang-kilang yang pertama dibangun di Indonesia adalah Kilang Wonokromo (sudah tutup) dan Cepu (Jawa Tengah) tahun 1890; kilang minyak di Pangkalan Berandan, Sumatera Utara (sudah tak beroperasi) tahun 1892; dan kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, tahun 1894.

Saat ini kilang yang masih bertahan di Indonesia adalah Kilang Dumai dengan kapasitas 127.000 barrel per hari, Kilang Cilacap (348.000), Kilang Balikpapan (266.000), Kilang Balongan (125.000), dan Kilang Sorong (10.000).

Terkait pendangkalan Sungai Musi, pihak Administratur Pelabuhan Palembang mengaku telah berupaya merehabilitasi kondisi alur pelayaran sungai dengan melakukan pengerukan. Namun, upaya tersebut tentunya tetap harus dibantu oleh pemerintah dan masyarakat, setidaknya dengan menjaga lingkungan di DAS Musi. (WAD/MZW/BOY)

Artikel Lainnya