Serangan Hemileia vastatrix di abad ke-19 boleh jadi bencana terbesar dalam sejarah kopi Nusantara. Namun, siapa menyangka, bencana penyakit karat daun itu akhirnya melahirkan kekayaan baru yang memikat dunia. ”The heaven of coffee”, surga kopi, kini melekat sebagai identitas negeri ini.

Penyakit karat daun itu betul-betul menggegerkan dunia. Pesona arabika (Coffea arabica) di tanah Jawa meredup sejak tahun 1876. Belanda akhirnya mengganti penanamannya dengan liberika (Coffea liberica), kopi asal Liberia, yang semula diduga tahan penyakit. Belakangan, serangan hama juga merusak liberika sehingga Belanda menggantinya dengan robusta (Coffea canephora) asal Kongo (The Road To Java Coffee, Prawoto Indarto).

Meski beberapa kebun arabika masih bertahan di Dataran Tinggi Ijen di Jawa Timur, Tanah Toraja di Sulawesi Selatan, dan Pegunungan Bukit Barisan di Pulau Sumatera, produksinya tidaklah mencukupi kebutuhan kopi dunia yang sangat besar. Karena itu, si pahit robusta digalakkan. Istimewanya, kemampuan robusta bertahan dari ancaman hama dan penyakit akhirnya mengangkat kembali pamor Nusantara sebagai pemasok kopi dunia.

 

Keragaman

Setelah 1,5 abad berlalu, Indonesia kini menjadi negeri terkaya akan keragaman kopi dan cita rasanya. Si pahit robusta merajai produksi sekaligus ekspor kopi asal Indonesia. Dengan produksi 700.000 ton biji beras kopi (greenbean) tahun 2017, volume ekspor mencapai 70 persen (Data Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, 2017).

Dari total volume itu, 90 persen merupakan ekspor robusta, salah satunya dari kebun Anderi (45), petani kopi di sekitar Danau Kerinci, Provinsi Jambi. Dalam sebulan ia menjual 200 kilogram hasil biji kopi robustanya ke kota Sungai Penuh.

Dari situ, kopi diangkut menuju Pelabuhan Teluk Bayur di Sumatera Barat dan akhirnya berlabuh ke Singapura, selanjutnya memasok kebutuhan kopi ke wilayah Eropa. ”Katanya, kopi robusta dari sinilah yang paling diminati di sana. Memang rasanya paling mantap,” katanya.

Video: Pusaran  Secawan Kopi (segmen 2)

Di sisi lain, keragaman kopi arabika asal Indonesia menjadi yang paling kaya. Bahkan, belakangan yang kian menggelora adalah pengembangan kopi arabika di mana-mana. Booming kopi ini mengubah nasib warga di penjuru Nusantara. Kini, kopi tak sekadar memberi semangat, tetapi sebagai simbol gerakan dan perubahan, dari ujung barat Sumatera hingga Papua.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Petani memanen buah kopi di Desa Gajah, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Jumat (15/12/2017). Perubahan iklim berdampak pada merosotnya hasil panen kopi di hampir seluruh wilayah di Sumatera Utara.

Petani di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, misalnya, kian mandiri dengan kopi. Mereka bersemangat merawat kebun untuk menjaga mutu biji kopi. Dengan mutu kopi yang baik, peminatnya lebih banyak. ”Sekarang kami dapat mengendalikan harga kopi, tak lagi dikuasai tengkulak,” ujar Chatarina Sri Pujiastuti, petani dari Srimulyo.

Kisah manis juga ada ditemukan di Papua. Kopi Papua di perkebunan Lembah Kamuu, pedalaman Papua, dihargai tinggi. Frans Pigai (32), pemuda dari Kabupaten Dogiai, 200 kilometer dari kota Nabire, Papua, adalah salah satu warga yang menikmati booming kopi. Menurut Frans, biji-biji kopi itu bisa membuat pemuda bisa pulang kampung dan membuat anak-anak bisa bersekolah tinggi.

Ketika harga kopi tinggi, petani pun bersemangat lagi menanamnya. Mereka pun bisa mendapatkan penghasilan selain dari menanam ubi atau sayur di ladang.

Di hilir, kopi menemukan lagi momentumnya. Kreativitas anak muda mengalir deras di kedai kopi. Dari ngopi bareng, mereka bisa menginisiasi berbagai kegiatan sosial, gerakan budaya, dan literasi. Bisnis kreatif pun tumbuh. Bisnis start-up hingga penciptaan mesin kopi yang tepat guna tetapi murah dihasilkan dari para pencinta kopi ini.

Jelajah Kopi Nusantara

Harian Kompas bekerja sama dengan Bank BRI lewat Jelajah Kopi Nusantara berusaha mengungkap kisah tentang kopi dan geliat hidup kopi Nusantara. Laporan ini mengupas tentang kopi dan budaya ngopi dari berbagai sisi, mulai dari keanekaragaman dan keistimewaan kopi Nusantara, jejak sejarah, peran industri perkopian, tren ngopi di anak muda, kreativitas, inovasi, hingga berbagai gerakan sosial yang tumbuh di dalamnya.

Tim menelusuri sudut-sudut Nusantara. Ada 10 kawasan penghasil kopi yang diliput, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Kerinci, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Toraja-Enrekang, Flores, hingga pedalaman Papua. Seluruh laporan akan ditampilkan setiap pekan mulai 11 April hingga 7 Juni.

Video: Pusaran Secawan Kopi (segmen 3)

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Aktivitas penyortiran biji kopi robusta di pabrik milik PT Asal Jaya, Dampit, Malang, Jawa Timur, Rabu (10/1/2018). PT Asal Jaya merupakan salah satu eksportir kopi terbesar di Jawa Timur.

Namun, tidak semua kisah yang ditemukan manis. Ada pula kisah pahit di dalamnya. Hingga kini, petani Indonesia masih terseok mengatasi ketertinggalan produksi kopi. Dengan luas areal kopi mencapai 1,2 juta hektar, Indonesia hanya bisa memproduksi kopi sebanyak 674.636 ton atau 0,7 ton per hektar. Jauh lebih rendah dibandingkan Vietnam yang mencapai 2 ton per hektar, apalagi Brasil yang telah mencapai 3 ton.

Padahal, menurut Bambang, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, produktivitas kopi nasional bisa mencapai lebih dari 5 ton, mengungguli negara mana pun. Rendahnya produktivitas ini berkait erat dengan kesejahteraan petani.

Video: Pusaran Secawan Kopi (segmen 4)

Di hulu, upaya peremajaan kopi berkejaran dengan luasan jumlah tanaman kopi yang menua. Riset pun terbatas. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao yang seharusnya menjadi bagian penting dari kemajuan kopi harus berjuang mandiri. Di tengah keterbatasan dukungan dana, mereka dituntut untuk bisa menghasilkan berbagai inovasi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kopi.

Video: Pusaran Secawan Kopi (segmen 5)

Perubahan iklim juga menjadi tantangan baru dalam dunia kopi. Kompleksnya, persoalan itu membuat kopi Indonesia tertahan sebagai penghasil kopi terbesar keempat di dunia. Padahal, jika ditekuni, kopi bisa menjadi emas di Indonesia.

Video: Pusaran Secawan Kopi (segmen 6)

Menumbuhkan kebanggaan dan memberi semangat untuk memajukan dunia perkopian nasional menjadi bagian dari misi ekspedisi ini. Pada akhirnya, narasi akan memberi rasa lebih pada secangkir kopi, apa pun jenisnya dan bagaimana pun cara menikmatinya.

Kisah kopi dan kehidupannya bisa dinikmati setiap pekan di Kompas mulai 11 April hingga 6 Juni 2018, dalam format foto, video, grafis, dan ulasan. Kisah-kisah yang terekam dalam penjelajahan itu agar menjadi bagian dari semangat memajukan kopi nasional. (TIM JELAJAH KOPI NUSANTARA)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 April 2018 di halaman 1 dengan judul ”Sejuta Kisah dari Pelosok Negeri”.