KOMPAS/HARRY SUSILO

Aktivis lingkungan, Iwan Abdulrachman (kanan), menggelar "konser" di area Lembah Danau-Danau, Pegunungan Jayawijaya, Papua, di ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut, Selasa (20/4). Konser ini merupakan bentuk dukungan kepada tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia.

Pendakian Cartensz Pyramid di Papua

Ekspedisi Puncak Dunia: Hatiku Selalu Padamu, Indonesiaku…

·sekitar 4 menit baca

Ekspedisi Puncak Dunia

HATIKU SELALU PADAMU, INDONESIAKU…

Oleh Harry Susilo

Kan kutunjukkan padamu

Kan kubuktikan padamu

Rasa bangga dan baktiku

Indonesia

Jangankan keringatku

Darahku pun kurelakan

Purnabaktiku padamu

Indonesia

Petikan lagu berjudul “Untukmu Indonesiaku” yang ditembangkan Iwan Abdulrachman (62) begitu menggetarkan. Terlebih di hati anggota tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia, yang menyaksikan “konser tunggal” lelaki yang akrab disapa “Abah” ini di Lembah Danau-Danau di kawasan Pegunungan Jayawijaya, Papua, Selasa (20/4) siang.

Berada di tepi danau yang dikelilingi tebing batu, di ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut (mdpl), Abah memulai “konser tunggal”-nya hanya berbekal gitar dan bangku kecil. “Lagu-lagu ini saya dedikasikan kepada semua anggota tim ekspedisi yang membawa nama Indonesia,” katanya.

Sebanyak 13 lagu dilantunkan Abah Iwan, di antaranya “Pemuda Pengembara”, “Tajam Tak Bertepi”, “Melati dari Jayagiri”, “Mentari”, “Dhuha”, “Sejuta Kabut”, “1.000 Mil Lebih Sedepa”, “Anak Tarzan”, “Burung Camar”, “Untukmu Indonesiaku”, dan “Berguru kepada Alam”.

Demi merealisasikan konsernya, Abah Iwan yang tergabung dalam tim Bravo, tim pendukung Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia, sengaja membawa gitar andalannya hingga ke Lembah Danau-Danau. Selain Abah, mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Erry Riyana Hardjapamekas juga tergabung dalam tim.

Abah Iwan, yang selama ini dikenal sebagai aktivis lingkungan dan pencipta lagu, tercata tsebagai anggota Perhimpunan Pendaki Gunung dan Penempuh Rimba Wanadri sejak tahun 1964. Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia yang juga berasal dari Wanadri telah menganggap sosok Abah sebagai panutan.

Pada Minggu (18/4) tim inti ekspedisi berhasil mencapai puncak Carstensz Pyramid atau Ndugu-Ndugu di ketinggian 4.884 mdpl. Puncak Carstensz adalah bagian dari rangkaian misi pencapaian tujuh puncak dunia dalam rentang waktu 2010-2012. Jika terselesaikan semua, misi ini merupakan yang pertama kali berhasil dicapai oleh pendaki Indonesia.

Keindonesiaan

Bagi Abah, sikap pendaki yang berupaya mencapai tujuh puncak dunia merupakan bentuk nasionalisme yang tidak hanya keluar lewat kata-kata. Tindakan itulah yang diharapkan menginspirasi masyarakat yang saat ini mulai luntur, bahkan sudah tidak bangga lagi akan identitas kebangsaannya.

Tak heran bila nada yang keluar dari dentingan gitar Abah pada siang itu juga seperti mengingatkan bangsa ini dari keterpurukan rasa nasionalisme. “Sekarang makin banyak orang yang malu jadi warga Indonesia hanya karena ulah sejumlah oknum tertentu. Karena itu, jangan serahkan keindonesiaan kita kepada mereka,” kata Abah.

Abah berpesan, rasa keindonesiaan yang tertanam di setia individu bukan untuk digantungkan kepada orang lain. Menjadi warga Indonesia adalah catatan historis kebangsaan yang tidak bisa kita hapus begitu saja.

Ketua Harian Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Yoppie Rikson mengatakan, tujuan ekspedisi bukan sekadar menginjakkan kaki di tujuh puncak tertinggi di dunia. Lebih dari itu, untuk menjadikan Indonesia setara dengan bangsa lainnya yang sudah berhasil melakukan misi serupa. Saat ini, baru 108 pendaki dari 33 negara yang berhasil mencapai tujuh puncak dunia. “Negara yang tidak memiliki gunung, seperti Singapura, saja mampu melahirkan pendaki yang bisa mendaki tujuh puncak dunia tersebut,” ucapnya.

Selain itu, pendakian tujuh puncak dunia ini juga mengusung misi konservasi. Menyusutnya es di berbagai belahan bumi, termasuk di puncak gunung es, merupakan bentuk nyata pemanasan global yang patut menjadi perhatian.

Bentangan es di puncak Nggapulu atau Puncak Soekarno di kawasan Pegunungan Jayawijaya, Papua, misalnya, kini sudah menyusut. Hal itu diketahui ketika tim Wanadri mendaki ke puncak berketinggian 4.700 mdpl tersebut, Senin (19/4).

Wartawan Kompas yang bergabung dengan tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia melaporkan, ketika tim mencapai lidah es di kawasan puncak Nggapulu, anggota tim tercengang. Bentangan es yang ada kini hanya sekitar 1,5 kilometer dari puncak. “Padahal, tahun 2004 setidaknya 2 kilometer dari puncak masih ditutupi es,” kata Iwan Irawan, seorang pendaki.

Belum diketahui secara pasti penyebab menyusutnya bentangan es itu. Namun, sebagian besar pencinta alam menduga hal itu disebabkan pemanasan global. Di bawah lidah es terdapat sungai gletser kecil yang mengalir cukup deras.

Bagaimanapun, Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia bukan tugas ringan bagi enam pendaki inti dari Wanadri. Keenam pendaki inti tersebut adalah Ardeshir Yaftebby, Iwan Irawan, Martin Rimbawan, Fajri Al Luthfi, Nurhuda, dan Gina Afriani. Setelah Carstensz, mereka masih harus mencapai Kilimanjaro (Tanzania, Afrika), Elbrus (Rusia, Eropa), McKinley (Alaska, Amerika Serikat), Vinson Massif (Antartika), Aconcagua (Argentina), dan Everest (Nepal/China).

Keberhasilan itu akan ditunjukkan dengan berkibarnya Merah Putih di setiap puncaknya, layaknya di puncak Ndugu-Ndugu. Seperti yang diungkapkan Abah pada penggalan lirik lainnya di “Untukmu Indonesiaku”:

Meski kan kutinggalkanmu

Meski kan jauh darimu

Hatiku selalu padamu

Indonesia..

Artikel Lainnya