Kompas/Priyombodo

Petugas memeriksa rutin panel surya di PLTS Papagarang di pulau Papagarang, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (1/10/2021). PLTS Papagarang yang memiliki kapasitas 380 kilowatt peak (kWp) menjadi sumber listrik utama bagi warga Desa Papagarang sejak tahun 2019. PLTS merupakan bagian dari upaya pemanfaatan potensi energi baru terbarukan secara lokal.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Bayu

Papagarang Kini Lebih dari Sekadar Terang

Editor Aris Prasetyo
·sekitar 5 menit baca

Selama puluhan tahun, listrik bagi warga Papagarang adalah barang mahal. Sampai akhirnya pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS berkapasitas 380 kilowatt peak hadir di sana pada November 2019 dan memberi mereka lebih dari nyala lampu terang benderang.

ISMAIL ZAKARIA

Suara bising dari mesin serut kayu terdengar jelas. Memecah keheningan siang di pesisir Dusun Lamolo Jaya, Desa Papagarang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (1/10/2021) sekitar pukul 13.30.

Di sebuah bangunan semi permanen berdinding bilah-bilah bambu dan beratap terpal, Irwan (27), tengah mengerjakan pesanan kosen jendela. Pesanan itu datang dari warga di Pulau Longos, pulau kecil di sisi utara Flores. Saat tengah fokus bekerja, mesin serut kayu itu tiba-tiba mati. Tetapi Irwan tetap tenang. Ia lantas kemudian meminta anaknya menghidupkan meteran listrik.

Saat listrik kembali menyala, Irwan melanjutkan pekerjanannya.

Belum satu menit bekerja, mesin serut kembali mati. Irwan kembali meminta anaknya menghidupkan meteran. Ia juga meminta alat-alat elektronik lain yang masih menyala di rumah panggung mereka untuk dimatikan. Setelah kejadian kedua, meteran dengan daya 900 volt ampere (VA) tidak lagi jeglek. Irwan kembali menghidupkan mesin dan menghaluskan kayu bahan kosen.

“Itu (meteran jeglek) sudah biasa. Tetapi sekarang, kondisinya jauh lebih baik dari sebelum ada PLTS,” tutur Irwan.

Irwan adalah salah satu dari 1.500 lebih penduduk Papagarang yang kini merasakan manfaat dari hadirnya PLTS Papagarang. PLTS itu sudah beroperasi hampir tiga tahun sejak November 2019.

Kehadiran PLTS yang beroperasi 24 jam, berdampak sangat positif bagi warga di pulau yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo ini. Tidak hanya untuk penerangan, tetapi usaha-usaha lain yang sebelumnya tidak optimal karena listrik terbatas.

Sukirman (66), yang telah tinggal di Papagarang sejak 1986 dan sehari-hari membuat kapal bagan, menuturkan, telah merasakan susahnya hidup tanpa listrik sehingga mereka hanya berpenerang lampu damar dan petromaks. “Sebelum ada listrik, semua alat kerja saya manual. Satu bagan baru selesai sekitar lima bulan. Sejak ada listrik baik dari diesel maupun genset, bisa sedikit cepat karena memakai alat dengan listrik,” ujar Sukirman.

Kompas/Priyombodo

Warga membuat kapal dengan menggunakan peralatan listrik di dusun Tanjung Keramat, Desa Papagarang, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (2/10/2021). Keberadaan listrik PLN melalui PLTS Papagarang membantu kegiatan ekonomi warga setempat.

Saat awal diesel masuk, warga Papagarang harus membayar Rp 10.000 per hari untuk diesel. Pun demikian saat ke genset, banyak ongkos untuk bahan bakar. Irwan misalnya, menghabiskan lima liter bensin per hari. Jika harus bekerja penuh, maka bisa mencapai sepuluh liter.

Saat itu, harga bensin di Papagarang mencapai Rp 10.000 per liter. Artinya, dalam sehari Irwan bisa mengeluarkan sekitar Rp 50.000 – Rp 100.000 per hari untuk usahanya, termasuk kebutuhan penerang rumah. Sehingga dalam sebulan, biaya yang harus dikeluarkan bisa Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta.

“Sekarang, kami hanya mengeluarkan sekitar Rp 100.000 per bulan. Tidak hanya untuk peralatan kerja, tetapi juga untuk penerangan dan perabotan elektronik lain di rumah. Benar-benar bisa berhemat sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan lainnya, ” kata Mirawati (28), istri Irwan.

Usaha baru

Kehadiran listrik, tidak hanya membuat warga bisa berhemat untuk membeli bahan bakar. Tetapi secara langsung, membuka peluang munculnya usaha-usaha baru yang selama ini tidak ada di Papagarang karena terbatasnya listrik.

Warga Dusun Tanjung Keramat, Muh Syahrani (46), sejak enam bulan terakhir membuka usaha air isi ulang. Selain peluang bisnis, ia ingin memudahkan warga mengakses air bersih yang selama ini menjadi persoalan di Papagarang. “Tetapi tentu mesin air ini tidak akan jalan, kalau tidak ada listrik seperti sekarang,” katanya.

Oleh karena itu, Syahrani memasang dua meteran listrik sekaligus. Satu untuk mesin isi ulang airnya bersama dua mesin pendingin. Satu lagi untuk kebutuhan penerangan di rumahnya. “Selain air isi ulang, sejak ada listrik, saya juga menjadi agen untuk layanan perbankan tanpa kantor. Alatnya, kan, nyala terus, jadi harus tersambung ke listrik. Kalau pun ada baterainya, tidak bertahan lama,” kata Syahrani yang sudah 24 tahun tinggal di Papagarang.

Usaha lain yang muncul dari warga sejak ada PLTS Papagarang adalah pembuatan es batu. Usaha jenis ini yang dijalankan oleh Afna (52) sejak awal PLTS Papagarang beroperasi atau Wirnawati (31) sejak setahun terakhir.

Kompas/Priyombodo

Wirnawati (31) memeprsiapkan es batu dagangannya di dusun Tanjung Keramat, Desa Papagarang, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (2/10/2021). Keberadaan listrik PLN melalui PLTS Papagarang membantu kegiatan ekonomi warga setempat.

“Saya sudah lama ingin punya pendingin agar bisa jualan es. Apalagi suami saya nelayan dan butuh es batu agar ikannya tetap segar. Makanya, saya senang sekali ada PLTS dan mulai menabung untuk beli kulkas,” kata Wirnawati.

Baik Afna maupun Wirnawati, bisa memproduksi es batu hingga 30-35 batang. Memang jumlahnya masih sedikit. Bahkan jauh dari kebutuhan, terutama saat musim tangkap yang memerlukan hingga 500 batang per kapal untuk sekali jalan. Meski demikian, kehadiran mereka telah membantu nelayan di Papagarang. Terutama yang tidak membutuhkan banyak es batu.

“Dulu, tidak terpikir untuk seperti ini. Hanya bagaimana dapat uang setiap hari untuk bayar diesel. Sekarang, dengan mengeluarkan uang Rp 100.000 setiap bulan, saya bisa menghidupkan kulkas untuk bikin es. Juga menyalakan penanak nasi sehingga tidak perlu membeli minyak tanah untuk kompor,” ujar Afna.

Urusan sekolah

Tidak hanya geliat ekonomi, kehadiran PLTS juga memudahkan urusan lain, seperti kegiatan belajar mengajar di Papagarang. Misalnya, bagi Sekolah Dasar Negeri Papagarang.

Kepala Sekolah SDN Papagarang Ahmad Hardin (39) mengatakan, sebelum ada PLTS, ia harus ke Labuan Bajo untuk memperbaharui data pokok pendidikan. “Peralatan seperti laptop ada. Tetapi listrik dari genset milik warga tidak stabil. Akibatnya, beberapa kali laptop sekolah rusak,” kata Ahmad.

Kompas/Priyombodo

Siswa kelas tiga SD Negeri Papagarang belajar memahami cerita dari buku pelajaran di Dusun Lamolo Jaya, Desa Papagarang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (2/10/2021). Sekolah tersbeut melaksanakan pembelajaran tatap muka karena berbagai keterbatasan dan minimnya kasus Covid-19.

Ahmad menambahkan, tidak hanya urusan data pokok pendidikan, terbatasnya listrik membuat mereka tetap harus ke Labuan Bajo menjelang ujian. Tujuannya untuk mencetak dan memperbanyak lembar ujian. “Kami jadi harus mengeluarkan lebih biaya lebih banyak. Tidak hanya transportasi, tetapi biaya cetak dan foto copy. Pernah sampai Rp 700.000,” kata Ahmad.

Tetapi, setelah ada listrik yang stabil dan bisa menyala 24 jam, Ahmad tidak perlu lagi ke Labuan Bajo menjelang ujian. Mereka bisa mencetak dengan laptop dan printer sendiri.

“Seluruh ruang kelas juga sudah terpasang instalasi listrik. Sehingga kapan saja dibutuhkan, proyektor kami bisa juga dipakai di kelas. Sekolah juga sekarang bisa mengoperasikan alat penyedot air untuk toilet. Sehingga siswa tidak perlu lagi ambil air ke laut untuk mengisi bak,” ujar Ahmad.

Operasional PLTS memang bisa dikata belum begitu sempurna. Namun, kehadirannya telah membawa terang dan harapan hidup yang lebih baik bagi warga Papagarang.

Artikel Lainnya