KOMPAS/AGUS SUSANTO

Dasius Simu’ dan Alia Anggela Kerawing (putrinya) memainkan sape’ di atas perahu di Sungai Mendalam di Desa Datah Diaan, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sabtu (24/3/2018).

Liputan Sape

Alat Musik Nusantara: Kisah Para Penjaga Denting Sape’ * Ekspedisi Alat Musik Nusantara 2018

·sekitar 5 menit baca

Sape’ sempat dilupakan oleh sebagian generasi muda Dayak. Bahkan, pada satu titik, mereka mencemooh orang yang masih menenteng alat musik berdawai itu. Akan tetapi, masih ada beberapa pemuda yang mengikrarkan diri untuk membuat sape’ mendunia. Kini, alat musik itu kembali menjadi simbol kebanggaan.

Dominikus Uyub (42), pemuda Dayak Kayaan, pernah malu membawa sape’. Waktu itu, tahun 1995, dia baru saja datang ke Pontianak, Kalimantan Barat, dari kampung halamannya untuk melanjutkan studi di Akademi Panca Bhakti. Di sela-sela kuliah, dia kerap tampil memainkan sape’ bersama sanggar tempatnya bergabung untuk berkesenian.

Rasa malu itu mencerminkan ketidakpercayaan diri membawa alat musik tradisional yang kala itu sudah ditinggalkan generasi muda Dayak. Sape’ sebenarnya bukan monopoli Dayak Kayaan. Subsuku Dayak Kenyah memainkan dan menyebut alat ini sampeq. Kelompok lain menyebutnya sampiq atau sampek. ”Saya membawa sape’ tiga senar dan bunyinya kresek-kresek. Malu sekali,” ujarnya.

Bisa dimaklumi jika Uyub malu. Kala itu, hanya kalangan tradisional yang mengenal sape’, alat musik utama dalam ritual adat. Pada saat yang sama, perkembangan teknologi menjauhkan generasi muda Dayak dari hal-hal tradisional, entah lantaran gengsi atau ketidaktahuan.

Uyub memerangi rasa malu dengan mengingat kembali tekad yang terpatri di dada. Sekitar dua tahun sebelumnya, dia berjanji kepada diri sendiri untuk hidup bersama sape’ dan menjadikan alat musik itu dikenal dunia.

Ferinandus Lah (39) mengalami hal serupa. ”Kenapa masih bawa sape’? Orang sudah bawa gitar,” begitu cemooh diterima Fery pada 1993 ketika dia mulai mendalami sape’. Ke mana-mana Fery membawa sape’. Gara-gara itu dia dipanggil Fery Sape’. Julukan itu sebenarnya olok-olok dan cemooh, tetapi malah dijadikannya sebagai branding. Bahkan, dia gunakan sebagai nama panggung dan sejumlah akun media sosial. Fery membalik energi negatif menjadi positif.

Fery dan Uyub bersentuhan dengan sape’ sejak bayi. Keduanya lahir dan menghabiskan masa kecil di sebuah desa di tepi Sungai Mendalam, tempat suku Dayak Kayaan tinggal. Di Desa Datah Diaan itulah sape’ mendapat tempat istimewa, bahkan sakral. Di setiap ritual adat, seperti perkawinan, kematian, dan syukuran, sape’ selalu dimainkan. Doa-doa kepada Tuhan disampaikan dengan iringan sape’. Dalam keseharian pun, sape’ dimainkan sebagai pelepas penat atau sekadar penghibur bayi.

Oleh karena itu, bagi Fery dan Uyub, sape’ adalah identitas budaya. Ketika tinggal di Pontianak, keduanya mengembangkan permainan sape’ dan mengampanyekannya ke berbagai kalangan, termasuk ke sekolah dan hotel-hotel, sebagai identitas kultural. Selama setahun, Uyub rutin bermain di hotel berbintang empat, Kapuas Palace. Ini menjadi bentuk apresiasi dan penerimaan masyarakat Pontianak terhadap sape’. Uyub pun makin percaya diri. Ia lalu membuat album musik sape’ sebagai bukti bahwa alat musik tradisional itu eksis. ”Sebenarnya lebih untuk dokumentasi,” ucap Uyub.

Pada saat bersamaan, Fery berjuang mempromosikan sape’ ke berbagai ajang kesenian. Dia tidak peduli meskipun tak dibayar, asalkan bisa lebih luas memperkenalkan sape’. Belakangan, dia pun makin dikenal dan mulai kerap diundang ke sejumlah negara, seperti China, Thailand, Malaysia, Dubai, Jepang, Ukraina, Iran, Italia, dan Meksiko.

Pada setiap kesempatan, ia membawa misi kebudayaan. Fery paham, masih banyak orang menganggap orang Kalimantan atau Dayak sebagai suku primitif. Lewat sape’, Fery menunjukkan sisi lembut Dayak.

”Dengan bahasa dan sikap yang baik, orang akan menghargai, tanpa harus sembunyi dari sifat dan identitas asli,” kata Fery. Sejak 2008, ia memutuskan meninggalkan pekerjaan lain dan secara penuh mengabdikan hidupnya untuk sape’.

Berbagi tugas

Uyub berbagi tugas dengan dengan Fery. Satu mengampanyekan sape’ keluar, yang lain memperkuat sape’ ke dalam. Uyub kembali ke kampung di Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar, sekitar 570 kilometer dari Pontianak, untuk memperkuat basis tradisi lewat regenerasi. Di pedalaman Kalbar ini, ia menyebarkan ”virus” sape’. Ia mengajak para siswa mempelajari sape’, bahkan membuatnya.

”Saya jalan ke hutan mencari kayu, membuat sape’ sendiri, memainkan sendiri,” kata Paskalis Boby (18), yang pada akhir Maret lalu ikut tampil memainkan sape’ bersama rekan-rekannya di bawah bimbingan Uyub di Polres Putussibau.

Uyub rajin pulang-pergi ke kampung halamannya, sekitar 20 kilometer dari kota Putussibau. Di kampung, dia membantu adik iparnya, Dasius Simu (38), memproduksi sape’. Simu mencari bahan dan memproduksi, sementara Uyub membantu memasarkan. Di desa ini, banyak orang membuat sape’, tetapi rata-rata hanya untuk dimainkan sendiri. Bisa dibilang Simu satu-satunya pembuat sape’ untuk dijual kepada orang luar di desa itu.

Saat ditemui pada Jumat (23/3/2018) di halaman rumah panggungnya, Simu sedang membuat sape’ mini pesanan tamu dari Jakarta. Balok kayu sepanjang 68 sentimeter yang ia siapkan diambilnya dari hutan di dekat ladangnya. ”Membuat sape’ hanya selingan. Kegiatan utama kami berladang. Menanam padi dan karet,” kata Simu.

Simu membuat sape’ menggunakan alat pahat yang relatif sederhana. Hanya alat serut dan penghalus yang digerakkan mesin. Sekitar satu jam, sape’ sudah setengah jadi. Tinggal diberi motif dan senar, sape’ pun siap dimainkan.

Dia memilih kayu medang yang tumbuh di hutan-hutan di sekitar daerah aliran Sungai Mendalam untuk dibuat sape’. Menurut dia, kayu medang lebih bagus untuk resonansi suara sape’. ”Bisa juga kayu nangka atau cempedak. Biasanya kayu ditebang saat bulan mati hingga bulan sabit muncul. Daya tahannya lebih kuat. Umur pohon belasan tahun sudah bisa dibuat untuk sape’,” kata Simu.

Regenerasi

Awalnya Simu hanya ingin tahu cara bermain sape’. Setelah bergabung dengan sanggar saat SMA, dia pun mulai membuat sape’ sendiri. Sejak lima tahun lalu, dia mulai membuat sape’ untuk dijual. Bentuk dan motif dia kreasi sendiri. Biasanya satu sape’ ukuran standar sepanjang 1-1,2 meter diselesaikan dalam empat hari.

Tidak setiap hari dia membuat sape’. Tergantung pesanan. Tahun lalu, dia membuat hingga 20 sape’ pesanan dari Jakarta dan Australia. Biasanya orang memesan sape’ lewat telepon atau aplikasi mengobrol. ”Kalau malam sinyalnya lebih bagus,” ujarnya.

Sebagai pemain sape’, dia paham bagaimana menghasilkan suara yang tepat untuk sape’ yang dibuatnya. Bagian leher sape’ lebih rumit karena harus seimbang. Badan sape’ digerinda sampai halus benar, baru dihias dengan motif ukiran khas Dayak. Variasi dibuat pada kepala sape’ dengan bentuk burung enggang atau kepala asok (anjing). Pembuatan rongga di bagian belakang sape’ juga sangat penting untuk menjaga kualitas suara.

Proses pembuatan sape’ tadi disaksikan dua anaknya, Alia Anggela Kerawing (10) dan Maro Nicholas Lalo (3). Seperti halnya Simu ketika berusia balita, Kerawing dan Lalo mempelajari sape’ secara alami. Kerawing sudah bisa memainkan beberapa lagu tradisional menggunakan sape’, sementara Lalo selalu ingin ikut memetik sape’ tatkala ada orang dewasa memainkannya.

Simu senang anak-anaknya tertarik dengan sape’. Dia berharap kelak mereka turut melestarikan dan mengembangkan sape’. Juga, mengampanyekan kearifan dan pengetahuan lokal Dayak, terutama Dayak Kayaan.

Regenerasi pembuat sape’ menjalar hingga ke Pontianak di luar Dayak Kayaan. Dian Pangestu alias Atong (26) salah satunya. Pria berdarah Dayak Kanayat ini belajar membuat sape’ dari Markus Ledung (65), ayah Fery.

Dia tergerak melestarikan sape’ lantaran alat musik berdawai itu mengingatkannya pada kehidupan sebelumnya. Dia merasa dulu hidup sebagai anak kecil bersayap yang tinggal di tepi sungai. ”Suara sape’ mengingatkan pada kehidupan tenang di tepi sungai itu,” ujar Atong.

Kisah Atong, Simu, Fery, dan Uyub akan lestari sebagai para penjaga sape’. Identitas kultural itu kini kembali jadi kebanggaan generasi muda, antara lain berkat kegigihan mereka menenteng sape’ dan memperdengarkan dentingnya ke segala penjuru.

Artikel Lainnya