KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Penampilan para pargonsi dalam sebuah pesta pernikahan di Lumban Nainggolan, Desa Narumontak, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Senin (6/8/2018).

Liputan Gondang Batak

Gondang Batak: Nyanyian Hidup Selirih Sarune * Ekspedisi Alat Musik Nusantara 2018

·sekitar 5 menit baca

Gondang adalah jeritan nasib sekaligus panggilan jiwa. Gondang merepresentasikan perjuangan sekaligus memberikan ketenangan batin setelah lelah bergelut dengan kerasnya hidup. Tetabuh taganing adalah penyemangat, sementara tiupan sarune adalah nyanyian hidup.

Justianus Simbolon (58) meniup sarune dengan mata terpejam. Sesekali menggelengkan kepala atau meliukkan lehernya mengikuti irama sarune. Lirih suara sarune diiringi taganing siang itu menuntun hadirin untuk menari tortor bersama. Tiupan sarune Justianus menjadi nyawa dalam gondang yang dimainkan siang itu di acara Pesta Bolon Raja Sonang di Huta Rianiate, Desa Pardomuan, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Rabu (8/8/2018).

Pesta adat ini berupa kesempatan para keturunan Raja Sonang, yakni marga Samosir/Harianja, Gultom, Sitinjak, dan Pakpahan, untuk bertemu. Warga Batak Toba keturunan Raja Sonang dari sejumlah daerah, bahkan luar negeri, berkumpul. Di sela-sela tarian, para peserta Pesta Bolon memberikan ceramah atau sambutan tentang marga dan keluarga besar Raja Sonang.

Selepas makan siang, tugas Justianus sebagai pemain sarune, alat musik tiup khas Batak Toba, berakhir. Dia beristirahat sambil bersandar pada dinding kayu rumah Batak. Susah payah dia mengatur duduknya lantaran kaki kirinya tidak bisa leluasa dia tekuk. ”Ini kaki palsu,” ujarnya sembari menunjukkan kakinya yang terbungkus celana hitam.

Justianus menghela napas begitu menemukan posisi yang menurut dia nyaman. Lalu, dia mengisahkan perjalanan hidupnya hingga kemudian bertekad mengabdikan seluruh sisa umurnya untuk meniup sarune. Kerut di wajahnya menandai perjalanan hidup Justianus.

Anak bungsu dari lima bersaudara ini lahir dari keluarga petani miskin di sebuah desa di Kecamatan Ronggur Nihuta, Kabupaten Samosir. Ketika Justianus berusia setahun, ayahnya, Jonas Simbolon, meninggal. Dua tahun kemudian, ibunya, Ramina Naibaho, menyusul sang suami. Nasib Justianus beserta empat saudaranya pun tak karuan. Mereka dipaksa bertahan hidup di tengah usia yang muda belia.

Singkat cerita, Justianus yang tak sempat mengenali wajah ayah dan ibunya itu melakukan apa saja demi sesuap nasi. Kadang ada orang iba dan memberinya makan. Ketika memasuki usia remaja, dia merantau ke sejumlah daerah di sekitar Samosir, seperti Karo dan Simalungun, menjadi buruh tani sampai buruh angkut. Hal itu dia lakukan hingga usia 20-an tahun.

Terpana sarune

Pada suatu hari, ketika kembali ke Samosir, dia mendengar orang memainkan sarune yang mendayu dan lirih. Justianus terpaku, lalu menyimak setiap tiupan alat musik berbahan kayu jior itu. Dia tak tahu siapa yang memainkan sarune itu, tetapi liukan nadanya begitu mengena di hatinya. ”Saya menangkap cerita kesedihan di sana. Kadang-kadang ada nada-nada bersemangat. Saya merasa, tiupan sarune ini seperti cerita hidup saya,” ujarnya.

Sejak saat itu, Justianus selalu tertarik dengan permainan sarune. Dia kemudian mencari tahu orang yang bersedia mengajarinya memainkan alat tiup tersebut. Seingat Justianus, ia berusia 30 tahun ketika mulai belajar kepada pemain sarune di Samosir. Lambat laun dia mendalami makna setiap tiupan karena ternyata banyak lagu yang dapat dimainkan dengan sarune. Salah satu lagu kesukaannya adalah ende andung-andung (lagu kesedihan) karena sangat pas dengan cerita hidupnya.

Dia lalu mengenal sarune sebagai salah satu alat musik dari ensambel gondang. Lewat sarune, Justianus menemukan irama hidupnya. Baginya, tetabuhan taganing adalah penyemangat hidup, sementara tiupan sarune adalah nyanyian nasib.

Selain sebagai pargonsi atau pemain gondang, dia juga membuat alat-alat musik untuk menambah penghasilan. ”Saya juga belajar membuat alat musik gondang, seperti sarune, sulim, dan hasapi,” kata ayah tujuh anak yang pada usia 35 tahun harus kehilangan kaki kanannya karena tertabrak sepeda motor ini.

Jika bagi Justianus sarune atau gondang adalah jalan hidup, bagi Velda Sitorus (38), gondang adalah obat batin. Gondang memberinya ketenangan hidup setelah berkali-kali ditampar nasib.

Pria kelahiran Desa Patane III, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, ini menghabiskan masa muda dengan merantau ke sejumlah kota, seperti Batam dan Medan. Dia pernah menjadi operator alat berat di Batam dengan gaji mencukupi, sekitar Rp 2,4 juta per bulan pada awal tahun 2000. Kala itu yang dia pikirkan hanya kesenangan diri.

Hingga suatu hari di lokasi kerja, dia tertimpa longsor. Setelah dirawat dan sembuh, dia pindah ke Medan. Di Medan, motor yang dia kendarai bertabrakan dengan motor lain. ”Saya sampai koma sehari semalam,” kata Velda yang kemudian diminta orangtuanya kembali ke kampung halaman.

Di kampung halaman, Velda menjadi petani seperti kedua orangtuanya. Pada suatu hari, etnomusikolog Rithaony Hutajulu menggelar program revitalisasi pemain musik Batak (pargonsi). Para pargonsi diminta mencari tujuh murid untuk dilatih menjadi generasi muda pargonsi dan Velda salah satunya.

Temukan kesesuaian

Semula dia sama sekali tidak mengerti cara memainkan gondang. Apakah itu meniup sarune, memetik hasapi, atau memukul taganing. Lambat laun dia seperti menemukan kesesuaian dengan bunyi-bunyi ritmis dan repetitif pada gondang. ”Setiap memainkan gondang, saya merasa tenang. Makanya saya senang memainkannya,” kata Velda.

Lebih jauh, di lingkungan sosialnya yang kebanyakan memegang Ugamo (agama/kepercayaan) Malim atau Parmalim, gondang mempunyai fungsi sentral karena selalu digunakan dalam beragam peribadatan. Dalam titik ini, Velda merasa menemukan jalan menebus dosa-dosanya terdahulu dengan menjadi pargonsi. Ketika dia meniup sarune, misalnya, itu adalah permohonan ampun kepada Debata (Tuhan).

”Itu yang membuat saya bisa hidup lebih tenang. Dulu hanya memikirkan uang sehingga sering cemberut, sekarang saya bisa lebih sering memikirkan Debata, jadi banyak senyum,” ujarnya.

Kehidupan masa lalu, bagi Velda, membuatnya jauh dari nilai- nilai agung sebagai manusia. Lalu, nasib menamparnya melalui dua kecelakaan. Kini, lewat gondang, dia menemukan hidupnya.

Velda termasuk pargonsi terpandang. Dalam beragam upacara adat, dia dipercaya memimpin permainan gondang. Tidak sembarang pargonsi mendapat kedudukan ini karena dia bukan saja harus cakap dalam teknik permainan, melainkan juga harus paham makna setiap gondang (lagu), termasuk fungsinya sebagai perantara doa manusia kepada Tuhan. Itu sebabnya, mereka kerap disebut batara guru, sumber ilmu pengetahuan.

”Marsahala guru”

Velda merasa tidak secara khusus mendalami filosofi setiap gondang (lagu). Yang utama bagi dia adalah setia pada kebaikan hidup. ”Yang penting kita berbuat baik dan mencoba mengerti orang lain,” katanya.

Dalam khazanah gondang, muncul teori bahwa pargonsi dapat lihai bermain gondang karena tekun berlatih. Teori lain, sebagaimana disebut Irwansyah Harahap dalam buku Hata Ni Debata, seseorang dapat menjadi pargonsi karena mendapat bimbingan spiritual atau dorongan supranatural. Proses ini disebut marsahala guru.

Para pargonsi memercayai teori itu meski kesulitan menentukan apakah dirinya mendapat marsahala guru atau lantaran rajin berlatih. Sebab, pada dasarnya mereka rajin berlatih. Namun, mereka juga merasa mendapat bimbingan supranatural.

Penabuh taganing, Gohi Silalahi (22), meyakini garis hidupnya menjadi pargonsi karena pernah bermimpi bermain gondang disaksikan seorang pargonsi gaek berbaju adat Batak. Mimpi itu dia alami setelah sekitar enam bulan berlatih gondang. Mimpi tersebut meningkatkan dorongan dalam dirinya untuk lebih giat berlatih.

Justianus pun demikian. Namun, bagi dia, mimpi bisa jadi hanya sekadar bunga tidur. Bisa juga lantaran sering bermain gondang sehingga hal itu terbawa mimpi. Ia merasa kekuatan yang paling dahsyat dalam dirinya untuk mendalami gondang adalah pengalaman hidup. Kehidupan yang dia jalani telah menjadi guru, pembimbing spiritual yang paling murni. Oleh karena itu, dia mengabdikan sisa hidupnya untuk gondang. Dia tak akan berhenti meniup sarune yang suara lirihnya seperti nyanyian hidup.

Artikel Lainnya