April 1815. Ketika letusan pertama mengirim bunyi gemuruh dan abu tipis mulai turun, lelaki itu masih di dalam rumah. Hujan deras yang tiba-tiba turun malam itu mengirim banjir dari arah sungai di depan rumah. Dia bergeser ke bagian belakang rumah yang lebih tinggi.

Tiba-tiba, ledakan besar mengguncang dari Gunung Tambora, nun jauh di belakang rumahnya. Bumi berayun. Lontaran batu apung melubangi atap. Sesuatu yang tidak biasa telah terjadi. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak pernah dikisahkan para leluhurnya.

Dia hendak berlari, tapi tanah berbencah yang licin membuatnya terpeleset. Lelaki itu rebah di tanah basah. Dalam posisi itu, dia menjemput awan panas yang muncul dari belakang rumah. Gumpalan material vulkanik dengan suhu lebih dari 480 derajat celsius menyapu dengan kecepatan sedikitnya 385 kilometer per jam, menewaskannya dalam hitungan detik.

Hanya 10 meter dari rumah lelaki itu, sepasang lelaki dan perempuan, juga terpanggang awan panas di dalam dapur rumah mereka yang roboh. Keduanya rebah bersisihan, seperti disatukan ikatan suci sehidup semati.

KOMPAS/ AGUS SANTOSO

Kawah Gunung Tambora berdiameter lebih kurang tujuh kilometer yang dipagari tebing curam sedalam 1.200 meter di Kabupaten Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat, Minggu (19/6/2011).

Ribuan orang lainnya yang panik, berhamburan ke luar rumah. Namun, semuanya terlambat. Baru beberapa langkah dari pintu rumah, awan panas menerjang. Salah seorang di antaranya lelaki yang mengenakan kowari dan kalung besar layaknya bangsawan. Keris masih terselip di pinggangnya.

”Sebelum fase awal letusan besar, terjadi hujan lebat dan air menggenangi sekitar lokasi bekas rumah tempat ditemukannya R2,” kata Yuda Haribuana, arkeolog dari Balai Arkeologi Bali, melaporkan hasil temuannya. Profil R2 adalah sosok lelaki pertama yang meninggal di dalam rumah. Bagian kaki dan pinggul R2, yang terbenam lumpur, tidak menjadi arang sebagaimana bagian atas tubuhnya yang terpapar luncuran awan panas.

Yuda mendeskripsikan akhir hidup salah seorang penduduk Kerajaan Tambora itu melalui jejak yang tercetak di dalam tanah setelah menggali hingga kedalaman tiga meter di pinggir hutan di Desa Oi Bura, Tambora, Bima, pada 2008. Lokasi itu berada di ketinggian sekitar 700 meter di lereng tenggara Gunung Tambora.

Beberapa gambaran lainnya ditemukan dari penggalian yang dilakukan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dan Balai Arkeologi Bali selama lima tahun terakhir. Penggalian yang terlambat karena lebih dari 20 tahun sebelumnya warga telah melakukan penggalian liar di daerah itu.

KOMPAS/ AGUS SUSANTO

Ekosistem padang rumput yang terbentang luas di kaki Gunung Tambora di sekitar Doropeti, Kabupaten Dompu, di Nusa Tenggara Barat, Minggu (19/6/2011).

Jejak berharga itu awalnya ditemukan secara tidak sengaja oleh para pekerja perusahaan kayu PT Veneer Products Indonesia, saat membuat jalan untuk angkutan kayu pada tahun 1979.

Buldoser perata jalan melindas keramik, gerabah, senjata, perhiasan emas dan permata, dan aneka barang berharga lainnya. Temuan ini segera menyedot warga untuk berburu harta di pinggir sungai itu. ”Tiba-tiba ratusan orang datang dan menggali di sini,” kisah Suparno, Kepala Kebun Kopi Pemerintah Kabupaten Bima di Oi Bura. ”Banyak yang menemukan barang-barang dari emas dan perak, bahkan ada yang menemukan tengkorak manusia.”

Kesaksian yang sama disampaikan Indyo Pratomo, ahli gunung api dari Museum Geologi, Pusat Survei Geologi Bandung. Ia datang ke Tambora awal tahun 1980-an. ”Saat itu saya melihat banyak sekali barang temuan yang terkubur di lereng Tambora diangkut dengan kapal ke luar negeri,” katanya.

Keriuhan yang mulai mengganggu aktivitas penebangan hutan PT Veneer itu akhirnya dihentikan koramil setempat. Namun, pemerintah masih menutup mata. Tak ada tim arkeolog ataupun pejabat pemerintah yang datang ke Oi Bura untuk menelisik lebih jauh. Hingga pada 1986, Haraldur Sigurdsson, ahli gunung api dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat, mendengar tentang temuan artefak itu saat berkunjung ke Tambora.

KOMPAS/ AHMAD ARIF

Anak-anak muda Sanggar, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Maret 2015, menunjukkan benteng batu karang peninggalan Kerajaan Sanggar yang masih tersisa.

Pada tahun 2004, dia kembali ke Tambora dan mengajak peneliti PVMBG Igan S Sutawidjaya untuk memulai penggalian di lembah yang tergerus aliran sungai atau yang biasa disebut kalangan geolog sebagai gully. Setelah menggali hingga kedalaman tiga meter, melewati lapisan piroklastik, batuan apung, abu, dan tanah lempung, muncullah jejak bekas rumah dari masa lalu, lengkap dengan perabot dan dua kerangka manusia.

Temuan itu mengguncang dunia ilmu pengetahuan. Pompeii dari Timur telah ditemukan. Jejak peradaban di lereng Gunung Tambora, yang sebelumya hanya terdapat dalam naskah tertulis, muncul ke permukaan. Temuan itu juga mengejutkan para arkeolog Indonesia.

”Sigurdsson bukan arkeolog. Proses penggaliannya dianggap ceroboh karena dia lebih fokus ke aspek vulkanologinya,” kata Bambang Budi. Sedangkan arkeolog lebih terfokus pada penyelamatan artefak.

Apalagi, sebagian temuan di Tambora dibawa Sigurdsson ke Amerika dengan alasan untuk penelitian lebih lanjut. ”Sigurdsson memang sempat membawa satu peti artefak untuk diteliti, tetapi sekarang sudah dikembalikan ke Museum Geologi,” jelas Indyo.

Namun, banyak warga yang belakangan melihat Sigurdsson memburu dan memboyong aneka koleksi artefak itu ke Amerika. ”Kalau setelah itu saya tidak tahu,” kata Indyo yang menemani Sigurdsson meneliti Tambora pada 2006.

Walaupun sarat kontroversi, aksi Sigurdsson telah menampar pemerintah.

KOMPAS/ AGUS SUSANTO

Tim ekspedisi Kompas Cincin Api mencari tautan sejarah letusan Gunung Tambora kepada Siti Maryam yang tengah membuka buku “Bo Sangaji Kai” di kediamannya di Bima, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (18/6/2011). Buku tersebut berisi catatan kejadian penting masa pemerintahan Kesultanan Bima.

Sejak 2006, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mulai menggali di Tambora. Balai Arkeologi Bali juga menganggarkan penggalian ke lokasi itu setiap tahunnya sejak 2008. Penggalian yang berjalan lambat karena minimnya dana. Tiap tahun mereka hanya menggali tanah seluas 25 meter persegi.

Bagi para vulkanolog, lubang galian Oi Bura, yang oleh Sigurdsson dijuluki ”Museum Gully” karena banyaknya temuan tembikar dan artefak, adalah buku yang separuh terbuka. Belum terbuka seluruhnya, tetapi, sudah menyimpan informasi penting. ”Dari lapisan itu, kita bisa tahu fase-fase letusan Tambora pada April 1815,” kata Indyo.

Dari jejak abu tipis vulkanik berwarna keabu-abuan di atas endapan tanah asal, Indyo berkesimpulan, letusan pertama yang terjadi pada Rabu, 5 April 1815, belum mengeluarkan awan panas. Setelah letusan pertama itu, terjadi hujan deras di sekitar Tambora. Pada fase ini, jika masyarakat tahu bahwa Tambora akan meletus hebat, mereka sebenarnya masih memiliki waktu untuk menjauh dari gunung itu.

Letusan besar yang menghamburkan batu apung dan awan panas baru terjadi pada 10 April 1815, ditandai dari lapisan tebal material vulkanik batu apung dengan butiran lebih besar disusul dengan abu tebal, di atas lapisan lumpur akibat banjir. Material aliran awan panas tersebut terdiri dari gas bercampur dengan material padat yang berbutir abu, pasir, hingga bongkahan lava beku.

Ahmad Arif; Indra Permanasari; Amir Sodikin; Agus Susanto; Fikria Hidayat; Rustiono; Gunawan