KOMPAS/ WAWAN H PRABOWO

Mbah Maridjan memimpin Upacara Labuhan Gunung Merapi Yogyakarta di gerbang Paseban Labuhan Dalem, Senin (4/8/2008). Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian dalam kegiatan peringatan penobatan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Sultan Ngayogjokarto Hadiningrat.

HIdup di Gunung Merapi

Mbah Maridjan dari Kinahrejo

·sekitar 3 menit baca

Sejak erupsi Merapi 2006, sosok Mbah Maridjan, warga Dukuh Kinahrejo di kaki Merapi, mendadak menjadi populer di seantero Nusantara. Padahal, di kalangan para pendaki Merapi, dia sebenarnya sudah lama dikenal. Mbah Maridjan muncul sebagai sosok kontroversial karena menolak perintah evakuasi pemerintah.

Mbah Maridjan berada di puncak ketenaran ketika ia menjadi bintang iklan produk suplemen energi. Kinahrejo pun jadi lekat di ingatan meski tidak semua orang memahami apa dan bagaimana Kinahrejo, siapa dan bagaimana Mbah Maridjan.

Kinahrejo adalah dukuh kecil tempat bermukim 81 keluarga. Dukuh ini merupakan bagian dari Dusun Pelemsari, yang termasuk wilayah Desa Umbulharjo di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

KOMPAS/ WAWAN H PRABOWO

Potret kenangan Juru Kunci Gunung Merapi Mas Penewu Suraksohargo atau Mbah Maridjan bersama sejumlah tokoh di reruntuhan rumahnya di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (27/10/2010).

Kinahrejo adalah dusun bersejarah panjang, sebagaimana diurai Lucas Sasongko Triyoga dalam Manusia Jawa dan Gunung Merapi, Persepsi dan Sistem Kepercayaannya (1991 dan 2010).

Pasca-Perjanjian Gianti 13 Februari 1755, separuh daerah Mataram menjadi wilayah kekuasaan Sultan Hamengku Buwono I dan lereng selatan Merapi termasuk di dalamnya. Merapi yang dipercayai sebagai tempat tinggal leluhur Mataram menjadi bagian penting Keraton Yogyakarta yang menempatkan kekuasaannya sebagai penyelaras hubungan manusia dan alam.

Lereng selatan Merapi, kala itu berupa hutan yang banyak ditumbuhi pohon kina, diurus Kawedanan Pangulon, di bawah pengawasan Kawedanan Gede Sri Wandawa.

Sejarah permukiman di Kinahrejo baru tercatat pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1920) saat seorang bangsawan Yogyakarta bernama Kiai Wonodriyo memulai peladangan berpindah yang menjadi cikal bakal Kinahrejo. Wonodriyo kemudian menjadi bekel (kepala desa) pertama Kinahrejo.

Karena Kinahrejo sering dilalui utusan Sultan Hamengku Buwono VII yang melabuh persembahan Keraton Yogyakarta bagi Merapi, Kiai Wonodriyo diangkat menjadi abdi dalem keraton. Oleh Sultan, ia dijadikan juru kunci Merapi, bergelar Mas Ngabehi Amongrogo. Amongrogo bertugas menjaga Merapi dan menyelenggarakan labuhan sesaji Keraton Yogyakarta bagi leluhur Mataram di Merapi.

KOMPAS/ YUNIADHI AGUNG

Puluhan warga melintasi pepohonan saat mengikuti ritual prosesi labuhan alit dengan mendaki Gunung Merapi, Sabtu (26/8/2006). Ritual yang dipimpin oleh juru kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan tersebut dilakukan sebagai rangkaian upacara tingalan ndalem jumenengan ke-18 Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sebagai wujud kesetiaannya kepada Keraton Yogyakarta, setiap kali selesai menyelenggarakan labuhan, Mas Ngabehi Amongrogo diwajibkan menghadap ke keraton dengan membawa belerang, gondopuro, daun kina, kentang, rerumputan, dan hasil bumi lainnya yang diangkut ke Keraton Yogyakarta dengan berjalan kaki.

Jabatan juru kunci keraton sekaligus bekel Kinahrejo berturut-turut diemban Mas Ngabehi Amongsari, Mas Ngabehi Amongdrana, dan Kiai Wonokaryo yang meninggal pada 1945.

Pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII pada 30 Oktober 1945 resmi menyatakan Yogyakarta menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Mulai saat itu, kedudukan seorang juru kunci Merapi terlepas dari jabatan bekel Kinahrejo. Meskipun demikian, peranan juru kunci sebagai pemimpin informal dalam kehidupan sehari-hari mendapat tempat yang tinggi dan terhormat di Kinahrejo.

KOMPAS/ FERGANATA INDRA RIATMOKO

Prosesi Labuhan Merapi yang dipimpin oleh Juru Kunci Gunung Merapi Mas Lurah Surakso Sihono (tengah) singgah sejenak di bekas kediaman Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, untuk berdoa sebelum melanjutkan perjalanan ke lereng Gunung Merapi, Kamis (21/6/2012). Prosesi tersebut digelar setiap tahun untuk memperingati bertahtanya Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Keraton Yogyakarta serta untuk memohon berkah dan keselamatan bagi warga yang tinggal di sekitar gunung tersebut.

Juru kunci Merapi tetap menyelenggarakan labuhan Keraton Yogyakarta, yang dipercaya menjadi sarana untuk memelihara relasi harmonis dengan alam dan leluhur Merapi. Sejak 1945, juru kunci Merapi berturut-turut dijabat Mas Ngabehi Amongrejo, Mas Ngabehi Suragsomiyono, dan sejak 1983 dijabat oleh Mas Ngabehi Suragsohargo yang terkenal sebagai Mbah Maridjan.

Setelah Mbah Maridjan meninggal dalam erupsi Merapi pada 26 Oktober 2010, Kinahrejo tetap menjadi bagian penting dari proses rutin labuhan Keraton Yogyakarta ke Gunung Merapi. Jabatan juru kunci Merapi kemudian dijabat putra Mbah Maridjan, Asih, yang bergelar Lurah Surakso Sihono yang menyelenggarakan labuhan pertama pasca-erupsi 2010 pada 3 Juli 2011.

Artikel Lainnya