Museum Kapal Borobudur

Museum Kapal, Wujudkan Keindahan Relief Candi

·sekitar 2 menit baca

Pariwisata

MUSEUM KAPAL, WUJUD KEINDAHAN RELIEF CANDI

Memasuki gedung Museum Kapal di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, setiap pengunjung akan langsung terpaku pada Kapal Samudraraksa. Kendati hadir sebagai satu-satunya obyek tontonan, kemegahan kapal yang memiliki panjang 18,29 meter dan lebar 4,50 meter ini jelas sudah cukup menarik perhatian.

Tidak hanya mengamati dari jauh, setiap pengunjung pun dapat naik kapal melalui tangga yang ada di sisi kiri kan kanan kapal. Menyusuri bagian dalamnya, kita dapat melihat bilik-bilik yang ada di dalamnya, mulai ruang kemudi hingga ruang istirahat yang berisikan 16 tempat tidur. Tak ketinggalan, kapal ini juga dilengkapi dengan ruang bawah tanah yang menjadi gudang penyimpanan makanan.

“Karena sebelumnya juga digunakan untuk berlayar, kapal ini memang sengaja dirancang dengan sedemikian rupa untuk dipakai melaut,” ujar Juru Penerang Museum Kapal Marsini.

Kapal Samudraraksa dirancang berkecepatan 3-10 knot. Selain dapat memuat 16 penumpang, kapal ini juga mampu menampung 1.500 liter air tawar, 900 kilogram beras, dua jangkar, satu ton kayu bakar, dan setengah ton bahan makanan dan bumbu.

Menurut dia, ide pembuatan kapal ini sebenarnya berasal dari seorang Angkatan Laut Inggris Phillip Beale. Setelah sempat mengunjungi Candi Borobudur pada tahun 1982, Beale pun berkeinginan untuk mewujudkan sebuah relief kapal yang dilihatnya pada candi. Untuk itu, pada tahun 2003 dia pun meminta bantuan dari Asad Abdullah , seorang ahli pembuat kapal asal Pagerungan, Madura. Dalam jangka waktu lima bulan, kapal bercadik ganda yang dan dibuat memakai lima jenis kayu itu pun akhirnya selesai.

Akhirnya, kapal itu pun dilepas di Pantai Marina Jakarta menuju ke Ghana membawa 16 awak. Dalam pelayaran itu, mereka melewati lima pelabuhan dan melalui rute sesuai dengan relief pada candi.

“Rute itu sebenarnya merupakan jalur perdagangan rempah-rempah yang dahulu dilalui oleh nenek moyang kita,” kata Marsini. Setelah 7,5 bulan berlayar, kapal itu pun berhenti di Ghana. Sesampainya di sana, kapal itu dibongkar dan dikirim kembali ke Indonesia menggunakan peti kemas.

“Selanjutnya, pada tahun 2005, kapal tersebut disusun kembali dan akhirnya dipajang menjadi obyek wisata di Museum Kapal ini,” ujarnya. (REGINA RUKMORINI/BUDIAWAN SIDIK)

Artikel Lainnya