KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Kama Jaya Saghir (kanan) dan M Taufiq Ismail, petugas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Sulawesi Selatan

Kama Jaya Shagir dan Taufik Ismail, Mengabadikan Sejarah dan Keanekaragaman Hayati

·sekitar 6 menit baca

Kama Jaya Shagir dan Taufik Ismail adalah aparatur sipil negara yang mempunyai minat pada fotografi dan menulis. Minat ini seperti gayung bersambut dengan ketertarikan pada sejarah dan keanekaragaman hayati. Mereka menelusuri sejarah, mengamati keanekaragaman hayati, dan mengabadikannya dalam foto-foto dan tulisan pada buku.

Saat Kama, Pengendali Ekosistem Hutan pada Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), menelusuri jejak rumah yang pernah digunakan naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, ketika menjelajahi wilayah Maros pada 2015-2016, sesungguhnya hal itu tak masuk ranah tugasnya. Ketertarikan pada sejarah menuntunnya mencari tahu rumah yang ditulis Wallace dalam buku The Malay Archipelago yang diterbitkan 150 tahun lalu.

Kama mencari informasi dan literatur tentang Wallace hingga peta kuno dari berbagai sumber. Dia bahkan mengunduh dari berbagai situs berbayar dengan merogoh kocek pribadinya. Saat anggaran untuk berlangganan tak cukup, dia mencari tahu situs-situs yang menyediakan data secara gratis. Acap kali Kama juga harus berjibaku menerjemahkan bahan literatur yang menggunakan berbagai bahasa atau istilah asing.

Informasi yang diperoleh menjadi dasar berkeliling ke berbagai lokasi dan menemui tetua yang pernah mendengar kisah turun-temurun soal Wallace. Selama satu tahun mencari jejak, Kama mendapat satu lokasi yang sangat mendekati kebenaran tentang lokasi rumah Wallace.

Tertarik dan penasaran saja karena saat di Maros, Wallace berkeliling di wilayah yang sekarang masuk dalam kawasan TN Babul. Saya suka sejarah dan saya juga ingin tahu sejarah di wilayah tugas saya, termasuk apa yang dilakukan Wallace. Sembari jalan, saya juga bisa menyalurkan hobi fotografi dan memotret kupu-kupu dan beragam hewan ataupun tumbuhan yang saya temui,” tuturnya.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Kama Jaya Saghir (kiri) dan M Taufiq Ismail, petugas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Saat temuannya didiskusikan dengan sejumlah arkeolog dan ditelusuri kembali, ada kesamaan pandang dan kesimpulan yang mendekati benar. Kama termasuk pengagum Wallace. Di profil akun Facebook-nya, dia juga memasang foto Wallace. Kama tak sekadar mencari jejak rumahnya, tapi juga mendata kembali hewan dan tumbuhan apa saja yang pernah ditemukan Wallace selama pengembaraannya di Maros.

Kama tak sendiri. Taufik, rekan kerjanya, memiliki ketertarikan yang sama. Namun, Taufik lebih tertarik mencari tahu hewan dan tumbuhan yang dikumpulkan Wallace. Lalu, mereka berkolaborasi. Mengajak beberapa teman, mereka pernah melakukan Ekspedisi Wallace dalam skala kecil dan berbagai penelitian, termasuk bergabung dengan tim arkeologi yang dipimpin Adam Brumm, arkeolog dan peneliti asal Australia. Keduanya juga aktif dan berjejaring dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan kelompok masyarakat di kawasan TN Babul untuk ikut menjaga kawasan.

Mereka mengumpulkan kembali data tentang jenis kupu-kupu, burung, dan binatang lain serta tumbuhan yang pernah didata Wallace. Berbagai catatan sejarah dibuka, diteliti, diterjemahkan, dan dijadikan bekal turun ke lapangan. Hasilnya antara lain buku berjudul Eksplorasi Literasi Bantimurung Bulusaraung 1745-1942, Madu Karst Patanyamang, Manisnya Madu Hutan dari Desa Enclave, dan buku tentang kupu-kupu berjudul Metamorfosa. Keduanya memiliki peran penting dalam buku yang diterbitkan TN Babul dan dikerjakan bersama tim ini.

Buku-buku ini berisi gambaran tentang Bantimurung, kawasan TN Babul, keanekaragaman hayati, hingga kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan yang menjadi mitra untuk menjaga TN Babul.

KOMPAS/ IWAN SETIYAWAN

Kupu-kupu mengisap mineral dari tanah lembab di sekitar aliran sungai di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (4/8/2012). Di kawasan ini terdapat ratusan jenis kupu-kupu yang beberapa di antaranya endemik khas yang tidak ditemukan di tempat lain.

Tentang ”Kerajaan Kupu-kupu”

Membaca dan memahami The Malay Archipelago juga membawa keduanya sampai pada pertanyaan, berapa banyak sesungguhnya spesies kupu-kupu yang dikumpulkan Wallace selama di Maros. Keduanya juga terusik dengan ikon ”The Kingdom of Butterfly” atau Kerajaan Kupu-kupu yang disematkan pada Bantimurung. Ikon ini seolah dibuat oleh Wallace, padahal dalam catatannya, tak pernah sekali pun dia menyebut kalimat ini.

”Kami juga pernah mendata kembali berapa sesungguhnya spesies kupu-kupu yang dikumpulkan Wallace di Bantimurung selama di Maros pada Juli-November 1857. Wallace hanya empat hari di Bantimurung. Di tempat ini dia hanya menemukan enam spesies kupu-kupu. Adapun 232 spesies lain ditemukan dalam area penjelajahan di sekitar Ammasangeng dan pondok di mana dia tinggal,” ujar Taufik.

Pihak TN Babul pernah tersentak saat banyak orang mengatakan kupu-kupu di Maros hampir punah. Keduanya turun mencari tahu dan mendata kembali spesies yang ada. Dari penelitian yang dilakukan, ternyata jumlahnya masih banyak. Pada 2010 ditemukan 133 spesies, 2011 (194 spesies), 2012 (226 spesies), 2015 (242 spesies), dan hingga kini sekitar 250 spesies.

”Memang ada masa-masa di mana kupu-kupu terlihat banyak, misalnya di peralihan musim. Tapi, selebihnya kupu-kupu ini berkeliaran di atas karst. Tentu tak semua bisa terlihat jika sedang tak musim. Tapi, intinya masih banyak jumlah maupun jenisnya,” kata Taufik.

Hampir semua jenis kupu-kupu ini telah diabadikan dalam foto-foto yang dibuat oleh Kama dan Taufik. Tak sekadar foto, tetapi seluruh informasi terkait jenis, tempat, dan sifat kupu-kupu ini disertakan. Di sela pekerjaan kantor, keduanya memang sering menghabiskan waktu keluar masuk hutan, menyisir goa, dan melihat kekayaan yang ada di TN Babul.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Kama Jaya Saghir (kanan) dan M Taufiq Ismail, petugas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Kama dan Taufik berlatar belakang pendidikan konservasi hutan. Bekerja di TN Babul dan berurusan dengan hutan serta keanekaragaman hayati tak membuat mereka melupakan minat pada sejarah ataupun fotografi. Kama, misalnya, rajin mengumpulkan bahan terkait sejarah tentang suatu tempat, tokoh, dan tradisi. Dokumen tua dari berbagai sumber dikumpulkan dan jejaknya ditelusuri kembali sembari menulis. Hasilnya rutin dia bagikan ke media sosial sebagai bahan diskusi atau sekadar pengetahuan.

Kama juga tertarik pada Fritz Sarasin, naturalis dan antropolog asal Swiss yang juga menjelajah di wilayah Sulawesi pasca-Wallace. Sebagian jejaknya juga dia telusuri. Ketertarikannya pada sejarah membuat Kama beberapa kali menemukan dokumen yang bahkan belum pernah dipublikasikan.

Selalu menarik melihat kembali apa yang pernah terjadi di masa lalu yang dilakukan para pendahulu dan membandingkan dengan kondisi sekarang. Banyak yang bisa jadi pelajaran termasuk kearifan masa lalu,” katanya.

Hal yang sama dilakukan Taufik di sela pekerjaan utama atau sembari melakukan tugasnya sebagai pengendali ekosistem. Keluar masuk hutan dan mengabadikan keanekaragaman hayati, bertemu dengan masyarakat binaan TN Babul, lalu menulis. Taufik memang punya keahlian dalam foto satwa, mengidentifikasi satwa terutama kupu-kupu dan beragam tanaman. Bahkan, dia memiliki lisensi menyelam.

Bagi keduanya, menemukan hal-hal baru serta mengabadikannya dalam foto dan tulisan adalah sesuatu. Ini pula yang agaknya membuat keduanya agak berbeda dari aparatur sipil negara pada umumnya dan melakukan banyak hal di luar tugas mereka tanpa melalaikan tugas. (RENY SRI AYU)

 

Kama Jaya Shagir

Lahir: Makassar, 5 April 1975

Alamat: Yunana Residence Topas 8 No 10, Mandai, Marod

Pendidikan:

  • SDN Kalukuang, Makassar
  • SMPN 4 Makassar
  • SMAN 1 Maros
  • S-1 Fakultas Kehutanan IPB
  • Pascasarjana Kehutanan Universitas Hasanuddin

Pekerjaan:

  • Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalsel (2000-2009)
  • Balai TN Babul (2009 sampai sekarang)

Pengalaman/Penelitian:

  • Kontributor Foto Database of The Oriental Bird Images
  • Menelusuri Jejak Wallace (2015/2016)
  • White-eyed Buzzard Butastur teesa, a new species for Greater Sundas and Wallacea (BirdingASIA 23:124-125, Shagir KJ, Iqbal M)
  • Eksplorasi Literasi Bantimurung Bulusaraung 1745-1942, Kama Jaya Shagir dan Taufik Ismail
  • ”Retracing Alfred Russel Wallace’s 1857 Expedition to the Maros Karsts of Sulawesi”, Biological Journal of Linnean Society (Adam Brumm, Kama Jaya Shagir, Taufik Ismail, Budianto Hakim, dll, 2019)

 

Taufik Ismail

Lahir: Parepare, 26 Agustus 1982

Alamat: Jalan Ir Sutami, Vila Mutiara Kirana Utama No 65, Makassar

Istri: Irdiana Lestari, SE

Anak: Keenand Athaya Ismail, Kiana Gadiza Ismail

Pendidikan:

  • SD Negeri 60 Parepare
  • SLTP Negeri 2 Parepare
  • SKMA Ujung Pandang
  • S-1 Program Studi Ilmu Kehutanan pada Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi, Manado

Pengalaman/Penelitian:

  • Salah satu penulis buku Sanctuary Kupu-kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
  • Salah satu penulis buku informasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
  • Aktif menulis berita di situs www.ksdae.kemenlhk.go.id dan klikhijau.com
  • Salah satu penulis buku Eksplorasi Literasi Bantimurung Bulusaraung 1745-1942
  • Menjadi salah satu penulis jurnal internasional Retracing Alfred Russel Wallace’s 1857 expedition to the Maros Karsts of Sulawesi”
Artikel Lainnya