KOMPAS/FRANS SARONG

Menjelajahi kampung tua As Manulea di Kecamatan Sasita Mean, Kabupaten Belu, NTT, Juni 2010, harus diawali dengan ritual halon yang bermakna mohon restu untuk berkunjung serta meminta kelimpahan rezeki dari leluhur. Ritual itu antara lain berupa doa mistis yang dipimpin seorang tetua sambil menyentuh tiang sesajen (ni monef).

Kampung Tua

Ekspedisi Jejak Peradaban NTT As Manulea, bak Masuk Lorong Waktu

·sekitar 5 menit baca

Kabupaten Belu di Nusa Tenggara Timur masih memiliki sejumlah kampung tua. Salah satunya, As Manulea di Bukit Fatuk Liurai.

Di era digital, di mana batas ruang dan waktu bisa diterobos dengan bebas melalui jejaring komunikasi di dunia maya, memasuki kampung ini terasa memasuki lorong waktu yang membawa kita pergi jauh ke masa lalu. Namun, seperti halnya berjalan, ketika kita sesekali menengok ke belakang, kita bisa mendapatkan perspektif lain yang indah.

Untuk masuk ke kampung ini, ada sejumlah syarat yang harus ditaati, mulai dari keharusan melakukan suatu ritual sampai larangan menjatuhkan barang bawaan agar tidak celaka.

Kampung As Manulea berada di Kecamatan Sasita Mean, 270 kilometer sebelah timur Kota Kupang, sekitar 65 km sebelah barat Atambua, ibu kota Kabupaten Belu.

Tepi utara serta sebagian tepi barat dan timur kampung ini berupa tebing terjal. Tepi lainnya dipagari batu yang sebagian sudah runtuh.

Sebagian besar jalan menuju As Manulea dari Kota Kupang merupakan bagian dari Lintas Timor yang beraspal mulus. Selebihnya, mulai dari persimpangan Nurobo hingga As Manulea, sekitar 35 km, berupa jalan aspal bopeng dan berlubang. Perlu sekitar dua jam menempuh jarak sependek itu.

Ritual “halon”

Jika masuk kampung dari pintu timur, akan disambut tetua yang disebut uim neno teukanak (penjaga pintu matahari terbit). Tetapi, kalau melalui pintu barat, disambut uim neno nunbain (penjaga pintu matahari terbenam).

Setiap tamu harus melakukan prosesi ritual halon, arak-arakan yang diiringi tarian likurai menyinggahi empat sonaf (istana ratu/raja), makam dua ratu, dan sejumlah rumah adat lain.

Keempat sonaf itu adalah Sonaf Banhae dan Sonaf Umutnana. Keduanya istana raja.

Dua sonaf lain adalah istana ratu, yaitu Sonaf Abanit dan Sonaf Umriso. Sonaf Abanit adalah istana ratu pertama, Luru Mutin Kwaik. Sonaf kedua, istana Ratu Umriso, pengganti setelah Ratu Luru Mutin Kwaik meninggal.

Dua makam yang harus dikunjungi adalah makam kedua ratu. “Makam Ratu Luru Mutin Kwaik sebelah timur dan Ratu Umriso sebelah barat,” kata tetua kampung, Elisabet Hoar (82). Kedua ratu ini sangat dihormati. Mereka berperan sebagai pelindung dan penasihat dalam urusan adat.

Ritual dipandu seorang tetua. Makna ritual itu adalah memberi tahu sekaligus memohon restu para leluhur agar memperkenankan kita menjelajahi kampung.

Pemandu ritual halon, Nikodemus Nikan (58), yang berstatus a’aat (juru bicara) kampung, menyampaikan larangan selama prosesi. “Dalam perjalanan keliling supaya hati-hati, jangan ada barang bawaan yang jatuh atau sampai terantuk. Juga ada beberapa area yang tidak boleh dilalui atau dimasuki,” katanya.

Menurut dia, kalau ada yang terjatuh atau terantuk, itu pertanda tidak baik. Salah satu kemungkinan, leluhur kampung tidak merestui kunjungan. Kemungkinan lain, pertanda bakal ada kesulitan, bahkan malapetaka, menimpa pengunjung bersangkutan. “Jika itu terjadi, harus dilakukan ritual berliku dan rumit agar tamu bisa berkunjung,” kata tetua lain, ManuelUn Bria.

Area terlarang

Selain keempat sonaf, masih ada Sonaf Baba’af yang disebut sonaf utama di As Manulea. Sonaf itu memiliki pekarangan dikelilingi lingkaran pagar batu bergaris tengah 6 meter. Sonaf berbentuk rumah panggung, beratap daun, dan bertiang kayu bulat.

Sonaf ini dianggap paling sakral. Para pengunjung tidak diizinkan masuk meski hanya di pekarangan. Pengunjung hanya bisa menyaksikan bangunan tua beserta pekarangan dari luar pagar batu setinggi dada orang dewasa.

“Yang boleh masuk sonaf ini hanya tetua tertentu pada waktu tertentu pula. Ketika bangunan sonaf mengalami kerusakan, hanya warga tertentu dalam jumlah tertentu yang diizinkan memperbaiki,” kata Nikodemus Nikan.

Sonaf itu sejak dulu tidak berpenghuni. Fungsi utamanya sejak awal adalah tempat penyimpanan hasil bumi antaran warga (upeti) bagi ratu bersama keluarga serta bangsawan raja dari Sonaf Banhae dan Sonaf Umutnana.

Dalam bangunan itu juga tersimpan beberapa senjata dan benda sakral, seperti kelewang, keris, tempat sirih pinang (kabi), peralatan tenun, dan gong ukuran raksasa.

Setidaknya ada dua area terlarang di Kampung As Manulea. Selain Sonaf Baba’af, juga pekarangan sebelah selatan Sonaf Abanit. Pekarangan ini tidak dibatasi pagar batu. Namun, pengunjung hanya diizinkan masuk hingga tiang sesajen (ni monef) di depan istana. Dalam area terlarang itu, ada bangunan tua mirip menhir (tugu batu besar). Di atas menhir ada pondok kecil yang telah reyot, tempat sesajen. Batas larangan ke area itu ditandai tiga kayu palang pada gerbang masuknya.

“Hanya tetua tertentu, termasuk Nikodemus Nikan, yang boleh masuk hingga pekarangan Sonaf Ratu Luru Mutin Kwaik. Saya termasuk yang tidak berhak masuk,” kata Manuel Un Bria.

Tidak jelas alasan pelarangan tersebut. Nikodemus dan Manuel hanya bisa mengatakan, larangan memasuki area itu sudah ada sejak zaman dulu.

Nilai kampung tua

Terlepas dari benar tidaknya cerita-cerita bernuansa magis mistis di As Manulea, yang pasti di kampung ini banyak jejak peradaban yang mengajarkan tentang pentingnya menghormati leluhur dan lingkungan. Nilai-nilai itu hingga kini terus dijaga warga.

Kalau saja sisa peradaban dari masa lalu ini dikelola dan dikemas dengan sentuhan modern, tentu menjadi semakin eksotik dan bernilai ekonomi. Karena, pada dasarnya, manusia punya kerinduan pada masa lalunya.

Banyak negara maju, terutama di Eropa, mempertahankan kota-kota tuanya. Mereka memadukan kepentingan sejarah dengan pengembangan ekonomi. Bangunan tua dipertahankan fungsinya. Sebagian lagi diubah fungsinya, misalnya untuk kafe atau toko, tetapi tetap mempertahankan fasad luarnya. Hal itu terbukti mampu menyedot turis yang ingin “menyelam” ke masa lalu.

Kampung tua As Manulea bukan hanya menawarkan peradaban puluhan tahun, melainkan juga ratusan tahun lampau. Di perkampungan itu, terdapat pagar batu kuno, menhir atau dolmen, serta kubur dari batu.

Padahal, di sekitar Kampung As Manulea tidak terlihat sumber batu alam. Sejumlah tetua di sana mengisahkan, batu-batu itu didatangkan dari Keputu yang berjarak sekitar 9 km dari kampung itu. Menurut para tetua, dulu pengangkutan batu hingga puncak istana, selain mengerahkan tenaga manusia, juga menggunakan kekuatan gaib.

“Sulit dipercaya jika hanya mengandalkan tenaga manusia bisa mengangkut batu amat banyak dan berukuran besar dari jarak jauh. Karena itu, kami percaya kalau pengangkutan batu-batu itu menggunakan kekuatan gaib,” kata Frans Nahak, warga As Manulea.

Berkeliling di As Manulea benar-benar membawa kita merasakan sebuah era masa lalu. Bak memasuki lorong waktu, menemui para leluhur di persemayamannya. (FRANS SARONG)

Artikel Lainnya