KOMPAS/IWAN SETIYAWA

Bekas rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Selasa (19/10). Masa pembuangan oleh Belanda di Ende justru memperkaya pengalaman Soekarno tentang pluralisme masyarakat Indonesia.

Kampung Tua

Ekspedisi Jejak Peradaban NTT: Ende, “Rahim” Pancasila

·sekitar 3 menit baca

“Ende sebuah kampung nelayan telah dipilih sebagai penjara terbuka untukku. Keadaannya masih terbelakang. Aku mendekat kepada rakyat jelata karena aku melihat diriku sendiri dalam orang-orang yang melarat ini. Di Ende yang terpencil dan membosankan itu, banyak waktuku terluang untuk berpikir.”

Soekarno menuturkan itu dalam biografi yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Bung Karno juga bercerita, tempat menyendiri yang paling dia gemari adalah di bawah pohon sukun (Artocarpus communis) yang menghadap ke laut.

Dari perenungannya, Bung Karno menyadari bahwa semangat untuk meraih kemerdekaan tidak bisa berhenti. Namun, tak bisa lepas dari kehendak semesta.

Rumah beratap seng di Jalan Perwira, Ende, menjadi saksi bisu keberadaan Soekarno di Ende, 75 tahun silam.

Di dalam rumah itu tersimpan sejumlah barang peninggalan Soekarno. Dalam sebuah lemari kaca ada dua tongkat kayu yang biasa dibawa Soekarno. Salah satunya ada kepala monyet di ujungnya. Tongkat itu biasa digunakan Bung Karno ketika berbicara dengan penguasa kolonial, sebagai bentuk satire.

Di dinding ruang depan tergantung lukisan foto diri Soekarno karya Affandi yang pudar termakan usia dan suhu lembab. Begitu juga lukisan cat minyak perempuan Bali sedang sembahyang karya Bung Karno serta dokumentasi foto Bung Karno bersama istri, Inggit Ganarsih, dan teman-teman.

Dalam lemari kaca juga ada map berwarna oranye yang sudah pudar berisi naskah-naskah tonil karya Bung Karno. Selama masa pembuangan di Ende, Bung Karno menghasilkan 13 judul tonil untuk mengobarkan semangat rakyat mengusir Belanda. Judulnya: Rahasia Kelimutu (dua seri), Tahun 1945, Nggera Ende, Amuk, Rendo, Kutkutbi, Maha Iblis, Anak Jadah, Dokter Setan, Aero Dinamik, Jula Gubi, dan Siang Hai Rumbai.

Pengikut setia Soekarno, Djae Bara, sebelum meninggal akhir 1990-an, pernah memaparkan kepada Kompas bahwa dalam satu karya tonil tahun 1935-1936, Bung Karno meramalkan Indonesia akan merdeka tahun 1945. Kemerdekaan itu tidak direbut dari Belanda, melainkan dari sesama bangsa Asia.

Sayang, sebagian naskah tonil itu kini tidak jelas keberadaannya. Menurut penjaga situs Bung Karno, Safruddin Pua Ita, yang tersimpan di Ende hanya tujuh naskah salinan dari hasil prakarsa Ibrahima Umarsjah (almarhum), asisten sutradara Bung Karno, tahun 1980-an. Ibrahima merangkai kembali potongan naskah berdasarkan penuturan para pengikut setia Soekarno, yang juga pemain sandiwara.

Safruddin adalah cucu Abubakar Damu (almarhum), salah satu pengikut setia Bung Karno di Ende. Tugas Safruddin tidak ringan. Perawatan situs mengandalkan uang derma pengunjung. Dalam sebulan, sumbangan terkumpul tidak lebih dari Rp 500.000. Honor Safruddin Rp 200.000 per bulan yang dibayar tiga bulan sekali.

Sekitar 100 meter dari rumah, di Lapangan Perse, ada pohon sukun tempat Bung Karno biasa merenung. Pohon itu lebih dikenal sebagai “pohon Pancasila”. Sejak tahun 2000, nama Lapangan Perse pun diganti menjadi Lapangan Pancasila.

Gedung Imakulata-milik paroki katedral Ende, tempat Bung Karno mementaskan tonil-tonilnya, di Jalan Irian-rusak parah. Tangga dan atap gedung hancur.

Kesaksian

Sejauh mana pengalaman Soekarno di Ende berpengaruh dalam merumuskan Pancasila belum banyak terungkap. Banyak saksi mata sudah tiada. Dari 47 anggota grup tonil Kelimoetoe yang dibentuk Bung Karno, tinggal satu orang tersisa, yaitu Umar Gani (93).

Di kediamannya di Kelurahan Paupanda, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Umar menuturkan, rumusan tentang Pancasila, terutama prinsip ketuhanan dan keadilan sosial, berkembang dalam pemikiran Bung Karno selama di Ende. Menurut Umar, Bung Karno terkesan pada kerukunan hidup antarumat beragama di Ende saat itu.

Hasil penelitian Yuke Ardhiati, arsitek profesional yang juga pengajar Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti, pemikiran Bung Karno di Ende sudah meliputi semua sila Pancasila. Saat itu, Bung Karno menyebut sebagai Lima Butir Mutiara.

Bupati Ende Don Bosco Wangge juga menyebut Ende sebagai “rahim” Pancasila. “Sejarah perjuangan bangsa kita tak utuh tanpa pengakuan kalau Pancasila dikandung di Ende,” katanya.

Minimnya infrastruktur fisik dan sosial membuat NTT terisolasi dan berkubang dalam kemiskinan. Banyak bantuan, dari dalam maupun luar negeri, dikucurkan, tapi NTT tetap dihantui rawan pangan, gizi buruk, mutu pendidikan rendah, pengangguran, dan kemiskinan.

Ende dan sejumlah kabupaten lain di NTT masih jauh dari standar maju dan makmur sebagaimana dibayangkan Bung Karno. Karena itu, perjuangan untuk pemerataan kesejahteraan harus terus dilakukan.

(ANS/SEM/SUT)

Artikel Lainnya