KOMPAS/SAMUEL OKTORA

Daniel Watu - penekun, praktisi dan pembuat alat musik etnik dari bambu, di Kampung Woloroa, Desa Sarasedu, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Minggu (11/7).

Musik

Musik Etnik: Kaya Alat Musik, Lupa Konservasi

·sekitar 2 menit baca

Nusa Tenggara Timur tidak hanya provinsi yang memiliki 566 pulau, tetapi juga memiliki ratusan nyanyian dan instrumen musik yang unik. Sayangnya, kekayaan budaya itu tak terurus dan semakin tergerus modernisasi.

J Kunst, etnograf asal Belanda, pernah meneliti lagu dan musik instrumental pada suku-suku di Pulau Flores. Hasilnya diterbitkan di Leiden, 1942. Dari Pulau Flores saja, ia mengumpulkan 200 nyanyian dan menemukan 59 jenis instrumen musik yang berbeda. Sasando, yang semakin populer, adalah salah satu dari alat musik yang dikaji Kunst kala itu.

Tidak banyak orang Indonesia yang mengkaji alat musik tradisional. Dosen Sastra dan Seni Musik dari Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, Agus Beda Ama, mengaku kesulitan mendapatkan literatur tentang etnomusikologi di NTT. Sepengetahuan dia, belum ada satu lembaga pun di Tanah Air ini yang mendokumentasikan secara lengkap berbagai alat musik etnik NTT.

Situs resmi Pemerintah Provinsi NTT hanya menyebut sebagian kecil dari alat musik tradisional NTT. Di antara alat musik tiup ada foy doa, foy pay, knobe khabetas, nuren, sunding tongkeng, prere, dan suling hidung. Ada juga alat musik petik, seperti gambus, knobe oh, heo, leko boko/bijol, reba, mendut, ketadu mara, serta sejumlah alat musik lain, misalnya sowito, kelontang, tata buang, thobo, dan sejumlah gong.

Menurut Beda Ama, musik rakyat NTT tergerus karena tidak mampu bersaing dengan budaya pop. “Karena itu, harus ada strategi pelestarian,” katanya.

Beda Ama mengusulkan ada semacam program jumpa “empu” peduli musik kuno di sekolah-sekolah secara berkala untuk memperkenalkan cara membuat dan bermain alat musik tradisional. “Perlu intervensi akademis untuk melakukan inventarisasi, dokumentasi, notasi, dan analisis musikal untuk dipakai sebagai bahan belajar di sekolah-sekolah. Pemerintah harus lebih aktif karena masyarakat masih harus mengurus kebutuhan perutnya,” katanya.

Di tengah berbagai keterbatasan, ada sebagian masyarakat NTT yang melestarikan alat musik tradisionalnya. Di Kecamatan Sasita Mean, Kabupaten Belu, Pulau Timor, setidaknya ada enam sekolah yang aktif mempertahankan musik suling atau musik bambu, antara lain SD Negeri As Manulea, SD Inpres Bikane, dan SMP Keputu.

Ketika berkunjung ke SD As Manulea, sebanyak 25 anak kelas III dan IV tengah bersiap menyuguhkan alunan musik bambu kepada tamu yang akan datang dari Jakarta. Namun, karena tamu itu batal berkunjung, mereka mempertontonkan kebolehannya kepada tim Ekspedisi Jejak Peradaban NTT Kompas. Dipimpin kepala sekolahnya, Anton Massan, kelompok siswa tersebut dengan lincah memainkan beberapa lagu.

“Musik bambu di daerah lain di NTT mungkin sudah sangat langka, tetapi di Belu, terutama di As Manulea dan sekitarnya, musik bambu tetap bertahan dan hidup,” kata Anton Massan.

Sejumlah sekolah tak jarang menggelar festival musik bambu tingkat kecamatan pada perayaan Hari Kemerdekaan, acara adat di kampung tua As Manulea atau acara lain. “Dengan festival seperti itu, sekolah terpacu untuk menjadi yang terbaik dalam bermusik bambu,” kata Manuel Un Bria, pensiunan guru SD As Manulea. (FRANS SARONG)

Artikel Lainnya