KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Potret saat para pekerja menurunkan barang dari atas perahu di tepi Sungai Musi, Pasar Sekanak, Palembang, Sumatera Selatan. Sungai Musi menjadi salah satu jalur transportasi ekonomi utama di Sumatera Selatan yang telah banyak memberikan kesejahteraan bagi masyarakat setempat.

Liputan Kompas Sumbagsel

Jelajah Musi 2010: Pasar “Kalangan” Terus Bertahan…

·sekitar 3 menit baca

Dengan memikul bahan kebutuhan pokok di pundaknya, setapak demi setapak anak tangga dilewati Eli (50) untuk menaiki motor sungai Ridho Illahi yang sedang sandar di dekat pasar mingguan atau pasar kalangan di Desa Pengumbuk, Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sabtu (13/3) pagi.

Barang-barang belanjaan itu kemudian dimasukkan ke perahu yang akan membawanya pulang ke desanya di Semuntul, Kecamatan Rantau Bayur, Banyuasin.

Bagi Neli, pasar kalangan di Desa Pengumbuk sudah menjadi pusat kulakan barang. Alasannya, lokasi mudah dijangkau dari tempat tinggalnya dan semua kebutuhan hidup juga ada di pasar tersebut.

“Saya berjualan di sini untuk membantu suami yang bekerja sebagai buruh sadap karet untuk membiayai hidup dan sekolah anak-anak,” kata Eli.

Pasar kalangan di Pengumbuk memang telah lama menjadi pusat perdagangan bagi warga di desa sekitarnya. Barang yang dijual cukup komplet dan sebagian besar didatangkan pedagang-pedagang keliling dari Pasar 16 Ilir, Palembang.

Barang lain yang dijual, seperti pakaian jadi, hasil ternak, ikan, peralatan elektronik, dan telepon seluler. Bahkan, ada pula jasa pengisian nada sambung ponsel.

Meskipun lokasinya di pinggir sungai, becek, dan beberapa tempat sering dilanda banjir, antusiasme masyarakat untuk berkunjung ke pasar itu cukup tinggi. Saat Kompas berkunjung, Sabtu (13/3) lebih kurang 750 orang terlibat dalam transaksi di pasar tersebut.

Saling membutuhkan

Pasar kalangan dan Sungai Musi merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Pasar itu hidup dengan mengandalkan alur Musi. Tradisi ini telah berkembang sejak ratusan tahun silam.

“Lokasi kalangan (pasar) hanya ada di pinggir Musi. Jadi, kami yang berjualan barang harus mengikuti alur Musi,” ujar Sugeng (55), pedagang ternak.

Pasar kalangan di Pengumbuk sebenarnya juga berada di pinggir jalan raya. Namun, jika proses pengangkutan dilakukan dengan menggunakan transportasi darat, dipastikan akan lebih repot dengan biaya yang lebih mahal karena harus memindahkan barang lebih dulu dari mobil ke perahu ketek. Dari perahu ketek, baru dibawa ke lapak-lapak yang ada di kalangan.

Selain kemudahan akses, perahu motor juga memiliki kapasitas yang jauh lebih besar daripada truk. Menurut Ican, perahunya yang berukuran 25 x 5,5 meter dan berbobot 50 ton itu mampu mengangkut barang dan penumpang dalam jumlah besar. Ongkosnya pun lebih murah daripada angkutan darat.

Kalangan di tepi Musi tak hanya di Pengumbuk. Dalam satu minggu, perahu motor Ridho Illahi yang mengangkut para pedagang menjelajahi lima tempat pasar kalangan berbeda di tepi Musi. Hari Minggu di Desa Sejagung (Banyuasin), Senin ke Muara Enim, Rabu di Desa Lebung (Banyuasin), dan Kamis di Desa Semuntul. Hari Selasa dan Jumat menjadi hari libur yang biasanya digunakan pedagang untuk berbelanja ke Pasar 16 Ilir.

Para petani karet dan pembudidaya ikan sangat bergantung pada pasar kalangan. Di pasar itu, mereka bisa membeli berbagai barang kebutuhan lain. Selain itu, seiring dengan sepinya jalur transportasi di Sungai Musi, para petani di pedalaman semakin jarang bepergian jauh ke Palembang karena ongkos perjalanan yang mahal.

Membawa pedagang

Di setiap pasar kalangan, selalu datang sekitar 10 kapal berbobot 60 ton serta puluhan perahu kecil. Setiap perahu besar itu mengangkut 20 pedagang dengan aneka jenis barang dagangan.

Aktivitas pasar ini nyaris tak kenal musim. Tetapi, saat musim hujan, kegiatan transaksi yang dimulai pukul 06.00 itu selalu berakhir pada pukul 11.00. Hal itu terjadi karena jumlah pembeli menurun, menyusul produksi karet menurun.

Sebaliknya, saat musim kemarau, jual beli barang berlangsung hingga pukul 13.00. Ketika itu, produksi karet meningkat dan petani pun mengantongi banyak uang untuk berbelanja berbagai barang kebutuhan.

Pasar kalangan telah menjadi bagian dari Sungai Musi. Melalui pasar ini, banyak warga di pedalaman dapat memenuhi kebutuhan hidup. Semoga tradisi lama ini jangan binasa akibat jalan raya. (HLN/JAN/MUL)

Artikel Lainnya