KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Siswa SMA Negeri 69 Jakarta pulang sekolah menggunakan perahu dari Dermaga Umum Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, menuju Pulau Panggang, Jumat (6/2). Perahu tersebut sama seperti bus sekolah yang disediakan gratis untuk mengantar siswa berangkat dan pulang sekolah.

Liputan Kompas Nasional

Infrastruktur: Djarot Perintahkan Evaluasi Pujasera * Kelana Seribu Pulau

·sekitar 3 menit baca

PULAU UNTUNG JAWA, KOMPAS – Proyek pembangunan pusat jajanan serba ada senilai lebih dari Rp 6 miliar di Pulau Untung Jawa, Kabupaten Kepulauan Seribu, dinilai sia-sia. Sebab, sejak dibangun pada 2008 lalu diperluas pada 2010, bangunan itu tak bisa dimanfaatkan warga untuk aktivitas jual beli. Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, dalam kunjungannya ke Kepulauan Seribu, Jumat (6/2), meminta lurah, camat, dan bupati mengevaluasi keberadaan pujasera.

Pusat jajanan serba ada (pujasera) berbentuk panggung itu berada di salah satu sisi pantai pulau seluas 40,1 hektar. Pada Jumat, sejumlah atap bangunan terlepas dan kerangka atap berkarat, lantai miring karena sebagian tiangnya keropos dan ambruk. Dindingnya penuh coretan, ruang dapur yang sebelumnya dipakai pedagang terlihat kotor dan penuh barang-barang tak terpakai.

Akses menuju pujasera tergenang dan ditumbuhi tanaman liar. Dilihat dari jalan utama pulau berpenduduk sekitar 600 keluarga itu, pujasera tampak lebih suram dibandingkan dermaga dan ruang tunggu penumpang kapal Dinas Perhubungan DKI Jakarta, serta fasilitas lain di kawasan itu.

Karniasih (34), pedagang ikan warga Pulau Untung Jawa, mengatakan, pedagang tak nyaman berjualan di pujasera. Selain panas dan hujan, kondisi bangunan rusak sehingga tak nyaman bagi pedagang ataupun pembeli. ”Pernah ada yang coba jualan di sini, tapi tak laku karena tak ada pembeli yang datang, akhirnya pindah ke Taman Arsa di sebelah pujasera,” ujarnya.

Tanpa perencanaan

Menurut Lurah Pulau Untung Jawa Badri, pujasera dibangun Dinas Koperasi UMKM DKI Jakarta untuk memfasilitasi pengusaha kecil menengah di Pulau Untung Jawa. Diharapkan, pujasera itu jadi etalase dagang bagi warga sekaligus ruang interaksi dengan pembeli, terutama wisatawan yang berkunjung pada akhir pekan dan musim liburan.

”Setahu saya, pembangunan proyek dilanjutkan tahun 2010 dengan anggaran Rp 6 miliar. Sempat dimanfaatkan warga, tetapi tak berlanjut karena sepi pembeli,” kata Badri.

Djarot menegaskan, perlu ada kajian yang melibatkan warga untuk merumuskan bangunan yang benar-benar dibutuhkan untuk menggerakkan ekonomi. Dia yakin proyek pujasera yang sia-sia itu sebelumnya tidak melalui proses perencanaan dan analisis risiko yang matang.

Djarot juga mengkritik pagar tinggi yang mengelilingi dermaga, ruang tunggu, dan kantor dinas perhubungan di Pulau Untung Jawa dan Pulau Pramuka. Menurut dia, pagar setinggi lebih dari 1,5 meter tak perlu ada karena mengesankan membatasi akses warga. Padahal, fasilitas itu dibangun untuk melayani warga.

Saat mendapati 33 unit alat pemadam kebakaran berupa sepeda kayuh dengan pompa dan bak plastik di Pulau Karya yang akan didistribusikan ke pulau lain, Djarot menilai pulau-pulau berpenduduk di Kepulauan Seribu tak benar-benar membutuhkannya atau setidaknya tak sebanyak itu.

”Akses permukiman ke air, bahkan laut, hanya beberapa meter, sangat dekat. Kenapa harus pakai sepeda dan alat seperti ini yang sebenarnya lebih dibutuhkan warga di pemukiman-permukiman padat penduduk di Jakarta. Tolong dievaluasi lagi, apakah warga perlu sebanyak ini,” kata Djarot kepada stafnya.

Djarot turut menyoroti keberadaan tanggul yang dibangun di beberapa sisi Pulau Karya. Keberadaannya dinilai tidak efektif karena tanggul dibangun di sisi yang tak terancam abrasi dan tak digempur gelombang laut.

Djarot ingin aparat tidak lagi seenaknya membuat proyek. Apalagi, motifnya sekadar menggelontorkan dana tanpa diskusi dan dialog dengan warga dulu. Dia menginginkan pembangunan Kepulauan Seribu fokus untuk tujuan pengembangan sebagai destinasi wisata kelas dunia. (MKN)

Artikel Lainnya