KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Peneliti batik tuban, Karsam; Direktur Bank BTPN Anika Faisal; pembatik binaan Bank BTPN, Agustin; dan moderator Susanti Simanjuntak (dari kanan ke kiri) berbicara dalam diskusi Selisik Batik Pesisir, Rabu (5/10), di Bentara Budaya Jakarta. Kegiatan ini adalah bagian dari Pameran dan Pasar Batik ”Selisik Batik Pesisir” yang berlangsung hingga 9 Oktober mendatang.

Serba Serbi Selisik Batik

Batik Masih Pasang Surut * Kemasan dan Pemasaran Belum Maksimal

·sekitar 2 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — Sentra industri batik di sejumlah daerah di Indonesia mengalami pasang surut, dari yang baru saja bangkit hingga yang sudah mapan. Meskipun industri batik mengalami booming sejak ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tahun 2009, beragam kendala belum teratasi.

Dinamika industri kreatif batik juga tecermin dalam penelitian Tim Litbang Kompas sepanjang peliputan Selisik Batik di 18 wilayah di Jawa dan Sumatera. Peneliti Litbang Kompas, Retno Setyowati, memaparkan, jumlah perajin batik di beberapa wilayah, seperti Yogyakarta, Surakarta, dan Banyumas, cenderung naik selama 2012-2015. ”Di wilayah lain, seperti Banjarnegara dan Bantul, jumlahnya cukup stabil,” ujar Retno, Rabu (5/10).

Berdasarkan penelusuran Tim Litbang Kompas yang terdiri atas 21 peneliti, kendala yang dihadapi pembatik berkisar soal kehadiran kain printing motif batik, regenerasi mandek, ketiadaan lembaga yang mewadahi pengusaha batik, upah rendah, dan adanya pilihan pekerjaan lain.

Meskipun demikian, secara keseluruhan, nilai ekonomi batik tumbuh sepanjang periode 2011-2015. Industri batik tumbuh 14,7 persen dari 41.623 unit (2011) menjadi 47.755 unit (2015), mengutip data Kementerian Perindustrian.

Kemasan

Karsam, peneliti batik tuban dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya, mengatakan, meskipun batik makin dikenal, bahkan mendunia, masih banyak tantangan yang harus diselesaikan agar batik bergerak ke arah industri mapan. ”Bagaimana pembatik menciptakan produk menarik tetapi muatan lokal terjaga,” kata Karsam, pembicara seminar ”Memberdayakan Batik dari Tradisi Menjadi Industri”, Rabu (5/10), di Bentara Budaya Jakarta.

Beberapa hal teknis yang tidak boleh luput dalam pengembangan batik, lanjut Karsam, ialah kemasan menarik, brand batik untuk menggaet pasar, peningkatan kualitas kain, pengembangan desain, pengetahuan tentang pangsa pasar, dan edukasi batik sejak kecil.

Bantuan modal memang diperlukan pembatik, tetapi menurut Direktur BTPN Anika Faisal, peningkatan kapabilitas mereka juga tak kalah penting. ”Banyak hal dasar tentang pengelolaan keuangan, pemasaran, dan pengembangan produk yang tidak mereka ketahui. Banyak pembatik binaan kami semula hanya bisa membatik dan menerima upah kecil. Mereka kini punya usaha sendiri,” tuturnya.

Ini dirasakan salah satunya oleh Sri Agustina, pembatik asal Cirebon. Semula dia hanya menerima upah dari membatik Rp 30.000 per hari. Kini bersama beberapa rekannya, dia mengelola kios yang menjual batik produksi mereka sendiri.

Dialog batik juga digelar Yayasan Batik Indonesia di Museum Nasional. Dialog bertema ”Merayakan Batik Rifa’iyah” itu dihadiri Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo dengan pembicara pembatik rifa’iyah Miftakhutin, Prasetiyo Widhi S dari Batang Heritage; dan wartawan Kompas, Sri Rejeki. Masing-masing mengetengahkan keunikan dan kelebihan batik rifa’iyah.

Miftakhutin mengungkapkan ancaman tiadanya regenerasi pembatik rifa’iyah. Mayoritas pembatik berusia di atas 60 tahun. Pembatik usia 20-an tahun hanya sekitar 10 orang. (FRO)

Artikel Lainnya