KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Pembatik menata kain batik yang akan dipamerkan pada acara Selisik Batik Kompas di Bentara Budaya Jakarta, Senin (3/10). Beberapa pembatik dari sentra batik di Nusantara, antara lain Madura, Banyumas, Tuban, dan Lasem, akan ikut memamerkan kain batik khas daerahnya masing-masing.

Serba Serbi Selisik Batik

Selisik Batik Pesisir: Setitik Harapan pada Lembaran Batik * Selisik Batik

·sekitar 4 menit baca

Selera akan keindahan dan kreativitas dapat dikatakan bagian hakiki dari manusia Indonesia. Keahlian menghasilkan dan mengolah ragam hias menjadi keterampilan yang secara natural tertanam dan mengalir lewat tangan orang Indonesia. Salah satunya mewujud dalam batik.

Ditambah dengan pengakuan batik sebagai warisan dunia tak benda oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009, batik kokoh menjadi budaya turun-temurun yang hidup dan menghidupi pelakunya. Booming batik memicu bangkit atau munculnya batik di sejumlah daerah. Namun, perkembangannya belum merata.

Muthmainah (26) dan Septi (30) duduk mengamati pembatik-pembatik yang sibuk membongkar karung di ruang samping Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Isinya, puluhan lembar batik yang akan diikutkan dalam acara Pameran dan Pasar Batik ”Selisik Batik Pesisir” yang diselenggarakan harian Kompas dan BBJ pada 4-9 Oktober ini. Acara itu merupakan rangkaian dari peliputan Selisik Batik yang laporannya dimuat Kompas mulai 25 Mei hingga 25 September.

Batik-batik klasik dan penuh makna dari tiga daerah, yakni Madura, Tuban, dan Bengkulu, akan dipajang dalam pameran. Selain itu, diselenggarakan seminar dan pasar batik dari Madura, Tuban, Batang, Garut, Lasem, Klaten, Cirebon, Banyumas, dan Banyuwangi.

Muthmainah dan Septi kecewa karena barang mereka belum sampai. Perusahaan ekspedisi alpa mengirimkannya. Padahal, barang mereka bukan hanya berisi batik milik keduanya, melainkan juga milik pembatik lain dari sejumlah desa, seperti Kalipucang, Proyonanggan, Denasri, dan Masrin di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Keduanya menaruh harapan besar batik-batik yang mereka bawa laku terjual. Setidaknya batik daerah mereka lebih dikenal khalayak.

Ini pengalaman ketiga Muthmainah mengikuti pameran dan bazar. ”Batik daerah kami mulai dikenal. Datang pesanan dari luar kota. Kalau dulu paling hanya dijual ke sesama anggota pengajian,” kata Muthmainah.

Pesanan itu datang dari kolektor. Tentu hanya sesekali karena hanya untuk koleksi, apalagi ragam motif batik mereka tidak terlalu banyak. Muthmainah dan Septi paling sering membuat batik tiga negeri, khususnya batik rifa’iyah dengan motif khas hewan yang terpisah bagian kepalanya.

Pemasaran menjadi masalah klasik kebanyakan pembatik, selain soal pengembangan produk. Beruntung, kini Muthmainah dan Septi mulai mendapat pelatihan desain motif, warna, dan membuat pola baju. ”Selama ini tahunya bikin tapeh (jarik), sarung, dan selendang,” kata Septi.

Pembatik asal Tuban, Sari, juga mengalami hal serupa, terkendala pemasaran. Batik buatannya hanya ia setorkan ke satu toko batik di kota Tuban. ”Rata-rata pembatik di desa kami menjual kepada sesama warga desa atau paling banter ke tetangga desa,” kata Sari asal Desa Gaji, Tuban, Jawa Timur.

Inovasi desain, motif, warna, pemasaran, dan kemasan jadi pekerjaan rumah setelah penetapan batik sebagai warisan budaya dunia. Pembatik di luar Jawa, seperti Bengkulu dan Jambi, mengalami tantangan besar, yakni bahan baku yang sebagian besar harus didatangkan dari Jawa. Tak heran jika harga batik mereka lebih mahal dibandingkan batik asal Jawa. Tak jarang ditempuh jalan pintas, pembatik sekaligus pedagang memesan batik di Jawa karena ongkos produksi jauh lebih murah.

Batik bersemi

Perkembangan batik di sejumlah daerah belum merata. Jika di Batang belum terlalu menggembirakan, tidak begitu di Madura. Pembatik dari Tanjungbumi, Bangkalan, Jawa Timur, pasangan suami istri Alim Hafidz (39) dan Wurrotul Muhajjalah (32), tidak kesulitan memasarkan batiknya. Batik-batik yang diproduksi dengan label Batik Zulpah ini dijual dengan cara berlapis. Sebagian besar batik yang diproduksi sekitar 200 pembatik di bawah binaan Alim dan Wurrotul ini terjual ke pedagang yang kemudian menjual kembali batik itu sebagai barang dagangan ke sejumlah daerah, seperti Surabaya dan Jakarta.

Selain lewat pedagang lain, batik tanjungbumi juga mengandalkan konsumen yang datang langsung ke galeri mereka. Pameran batik di sejumlah kota besar juga menjadi kanal pemasaran dan media promosi.

Pembatik, seperti Badroddin (32), dari Dusun Podhek, Pamekasan, Madura, lebih banyak mengandalkan penjualan rutin di pasar khusus batik, Pasar 17 Agustus yang buka hari Kamis dan Minggu. Pasar yang biasanya bubar sebelum tengah hari ini menjadi andalan pembatik memasarkan batik. ”Biasanya saya bawa 30 batik mulai harga Rp 75.000 dan bawa satu atau dua yang bagus seharga lebih dari Rp 1 juta. Kalau ramai, ludes terjual,” kata Badroddin.

Pemasaran batik yang bergairah berdampak pada tumbuhnya minat generasi muda membatik. Sebagai juragan batik, Alim harus memberi upah sepadan agar pembatik muda tidak meninggalkan warisan membatik. ”Upah pembatik di Tanjungbumi mahal karena banyak pilihan kerja di pelabuhan, termasuk bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia,” kata Alim.

Pembatik dari Banyumas, Jawa Tengah, seperti Siarmi (45), Nunik Wahyuni (28), dan Lupi Satya Melia (19), juga cukup mudah memasarkan batik-batiknya. Dalam waktu bersamaan, mereka bisa memasarkan produk batik mereka ke beragam pameran di Jakarta. Seperti kali ini, selain terlibat pameran dan bazar di BBJ, pembatik yang tergabung di Kelompok Batik Pringmas ini juga diundang pameran di India.

Sementara pembatik di Desa Jarum, Klaten, Jawa Tengah, selangkah lebih maju dalam hal inovasi produk. Mereka mulai menggarap batik dengan pewarna alami. Mereka juga mengembangkan batik rakyat dengan motif sederhana yang dicuplik dari alam, seperti motif daun ketela, motif lompongan, dan motif daun pepaya, seperti dilakukan Salimi (60).

Ahli batik dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya, Karsam, mengatakan, daerah perlu membangun citra yang kuat terhadap batik. Namun, ini tak bisa dilakukan sendiri oleh perajin. ”Pembatik butuh dukungan,” ujar Karsam. (MAWAR KUSUMA WULAN/SRI REJEKI)

Artikel Lainnya