KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Pembatik di Batik Dimas, kampung batik Cigeureung, Tasikmalaya, Jawa Barat, menyelesaikan batik tulis dengan motif khas Priangan, Kamis (14/4).

Batik Ciamis-Tasikmalaya-Garut

Sejarah: Pasang Surut Batik Priangan * Selisik Batik

·sekitar 3 menit baca

Kisah batik di tanah Priangan tak secantik merak ngibing yang tertoreh di atas lembar-lembar kain batiknya. Sejak dulu, batik-batik dari tanah Priangan, khususnya Ciamis, Tasikmalaya, dan Garut, sarat kisah pasang dan surut yang tak pernah putus.

Menyebut batik di tanah Priangan tak bisa lepas dari pengaruh pendatang dari Jawa Tengah. Di tahun 1825, saat terjadi Perang Diponegoro, terjadi pengungsian besar menuju Jawa Barat.

Sebagian dari para pengungsi adalah pembatik dari Banyumas yang memberi pengaruh kepada batik priangan. Terutama kepada warna latar batik Ciamis dan Tasikmalaya (kuning gading), dan Garut (kuning gumading).

Meski demikian, masyarakat Priangan diperkirakan sudah mengenal ragam hias batik sejak abad ke-12, seperti ditulis dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian. Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian adalah naskah kuno berisi pandangan dan tata cara hidup masyarakat Sunda.

Kala itu di Kerajaan Sunda terdapat batik motif kembang muncang, pasi-pasi, kalangkang ayakan, poleng rengganis, jayanti, boeh siang, surat awi, ragen panganten, hingga boeh alus. Warna-warna yang digunakan kuning, dan coklat tanah, serta biru dari pohon tarum.

Keruntuhan Kerajaan Sunda tahun 1579 membuat motif-motif tersebut tak pernah disebut lagi. Saat itu bertepatan dengan invasi Mataram (1620-1667) di mana kemudian lahir peraturan yang harus dipatuhi bupati-bupati di Priangan.

Batik-batik yang harus dipakai adalah batik Mataram dengan motif khusus. Saat itu orang Sunda harus memakai batik dan memakai pakaian seperti orang Jawa (Mataram), kecuali tutup kepala (kuluk) yang diperbolehkan dipakai sesekali.

Dalam buku Gaya Hidup Bupati-Bupati Galuh karya Yulia Sofia disebut pakaian bupati Priangan terdiri dari bedahan hitam polos tanpa sulaman emas dengan kerah tertutup dan sinjang batik. Motif sinjangnya kawung (besar dan ece) dan rereng (atau lereng), yaitu udan liris, barong, parang rusak sedang, parang teja, parang kembang, parang kusuma, parang cetung, dan curiga.

Kebangkitan batik Priangan

Batik priangan bangkit setelah terjadinya krisis moneter akibat Perang Dunia I. Tepatnya tahun 1930, dengan munculnya industri batik rumahan di Tasikmalaya, Ciamis, dan Garut.

Batik yang dibuat saat itu adalah batik-batik motif baru atau modifikasi dari motif lama (Mataraman), tetapi bukan motif zaman Pajajaran. Di buku Batik Garutan Koleksi Hartono Sumarsono disebut, tahun 1910-an di Garut, sudah ada pembatik.

Ciri menonjol dari batik Garut adalah warna latar kuning muda, seperti warga gading atau gumading. Motif-motifnya, antara lain kotak, kawung, dan parang.

Penulis buku Seputar Garut Darpan Ariawinangun, mengatakan kebiasaan membatik sudah lama ada di Tatar Sunda sebagaimana disebut dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian. Kedatangan Karel Frederik Holle akhir abad ke-19 dengan mendirikan Perkebunan Teh Waspada di Cikajang, Garut, kata Darpan, melanggengkan batik garutan.

”Holle memberi kesempatan warga memproduksi batik untuk pakaian sehari-hari atau pakaian kerja di kebun. Dalam buku panduan perjalanan Garoet en Omstreken, batik garutan sudah jadi oleh-oleh wisatawan di tahun 1920-an,” katanya.

Di Tasikmalaya, batik berkembang pesat hingga di tahun 1939. Namun, di masa penjajahan Jepang, kondisinya berubah 180 derajat hingga ratusan usaha batik tutup dan baru kembali bangkit setelah Indonesia merdeka.

Koperasi Mitra Batik dihidupkan kembali dan menjadi momentum awal kebangkitan Koperasi Mitra Batik hingga akhir tahun 1950. Namun, setelah itu, gempuran pakaian modern memukul usaha batik Tasikmalaya hingga pabrik batik milik koperasi pun tutup.

Untuk menutupi utang, pabrik dan lahan seluas 3,5 hektar dijual. Sedangkan gedung kantor dan penginapan anggota disewakan kepada Yogya Department Store. Nasib serupa terjadi pada aset-aset koperasi lainnya. Tahun 1951, seperti disebut di buku Setengah Abad Koperasi Mitra Batik, adalah tahun krisis dunia perbatikan maha hebat.

Di Ciamis, batik jaya tahun 1960-an hingga 1980-an. Perajin batik Ciamis yang bergabung di Koperasi Rukun Batik membeli sejumlah aset hingga mendirikan pabrik bahan baku batik yang hingga kini menjadi markas koperasi. Namun, sejak masuknya tekstil motif batik tahun 1980-an, batik ciamisan pun surut.

Tahun 1997 ratusan perajin batik gulung tikar. Kini, satu-satunya aktivitas perbatikan di Ciamis, dikerjakan di Koperasi Rukun Batik. (Dwi As Setianingsih & Cornelius Helmy)

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Santri di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, berjalan-jalan dengan mengenakan batik, Kamis (14/4).

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Sejumlah pekerja ladang di Tarogong, Garut, Jawa Barat, menggunakan kain selendang bermotif batik saat menaiki mobil bak jemputan, Minggu (17/4).

Artikel Lainnya