KOMPAS/NAWA TUNGGAL

Deden Suprayitno.

Susur Rel 2014

Sosok: Deden Suprayitno – Terkena ”Sihir” Stasiun Cimahi * Liputan Khusus Susur Rel 2014

·sekitar 4 menit baca

Lingkungan bisa menimbulkan hobi kita dan berikutnya membentuk karakter atau kepribadian. Menetap bersama orangtua di lokasi yang berjarak hanya sekitar satu kilometer dari Stasiun Kereta Api Cimahi, Jawa Barat, menjadi ”sihir” tersendiri bagi Deden Suprayitno (34). Sejak masih kanak-kanak dia gemar menggambar lokomotif dan gerbong-gerbong yang lalu-lalang.

”Sampai sekarang saya memanfaatkan pengalaman itu untuk mengembangkan desain-desain lokomotif tiga dimensi. Kelak saya ingin desain lokomotif saya ini ada yang bisa mewujudkannya menjadi nyata,” kata Deden, Koordinator Wilayah Bandung untuk Indonesian Railways Preservation Society (IRPS), Selasa (8/4), di Bandung, Jawa Barat.

Deden tumbuh menjadi salah seorang pencinta perkeretaapian, bukan lantaran pendidikan dari sekolah atau arahan dari orangtua dan keluarga. Akan tetapi, dia dipengaruhi masa bermain kanak-kanak yang berdekatan dengan sebuah stasiun kereta api.

”Pada masa kecil, saya suka mengamati kereta api. Rasanya kereta api waktu itu lebih bersih dibandingkan sekarang. Penumpangnya juga lebih sedikit dan disiplin, mau diatur,” kata dia.

Ketika menggambar kereta api, Deden paling menyukai bagian lokomotif. Menurut dia, menggambar itu mengutamakan presisi kesamaan bentuk dengan obyeknya. Semakin sesuai dengan aslinya, semakin bagus gambar itu.

Selama duduk di bangku Sekolah Dasar Baros I Cimahi pada 1986-1992, Deden menghabiskan masa-masa bermainnya di Stasiun Cimahi. Pensil dan kertas gambar ditentengnya untuk membentuk sketsa. Setiba di rumah sketsa-sketsa itu dia warnai dengan cat air atau spidol.

Kegemaran Deden itu terus berlanjut. Hingga 2007, dia bergabung dengan komunitas pencinta kereta api IRPS Bandung, yang kini dipimpinnya.

Sate maranggi

Berbekal pengalaman mengamati kereta api untuk digambar sejak masa kanak-kanak, Deden menyimpulkan, kereta api dan fasilitasnya kini tidak berkembang semakin baik. Pengelola kereta api tidak peduli dengan penurunan kualitas layanan, seperti yang mudah terlihat dengan kurang terawatnya gerbong-gerbong kereta. Sebagian gerbong itu tampak makin kotor.

”Sejak usia lima tahun saya sering diajak orangtua naik kereta api lokal dari Stasiun Cimahi. Tujuannya, ya naik kereta api saja. Sampai di stasiun tertentu kami turun, lalu kembali lagi,” kata Deden.

Kereta api lokal itu adalah kereta rel diesel (KRD). Paling sering jurusan yang ditempuh Deden dengan naik KRD dari Stasiun Cimahi sampai Stasiun Cicalengka. Kemudian dia kembali dari Stasiun Cicalengka ke Stasiun Cimahi.

Untuk jurusan berlawanan arah, Deden kerap pula diajak orangtuanya naik KRD dari Stasiun Cimahi ke arah Purwakarta. Orangtuanya sering mengajak Deden turun di Stasiun Plered, dua stasiun lagi menjelang Stasiun Purwakarta.

”Biasanya kami turun di Stasiun Plered hanya untuk membeli dan makan sate maranggi di dekat stasiun tersebut. Setelah itu kami naik KRD dan kembali pulang ke Cimahi,” cerita Deden.

Naik-turun KRD sebagai kereta api lokal merangsang keingintahuan Deden terhadap jalur-jalur kereta api yang lebih jauh lagi. Dia ingin berkutat pada bentang lintasan Purwakarta-Cicalengka, yang di antaranya ada Stasiun Cimahi di dekat rumahnya.

Dari Cimahi menuju Purwakarta Deden melintasi sedikitnya 10 stasiun. Kemudian dari Cimahi menuju Cicalengka, sedikitnya dia akan melintasi tujuh stasiun.

Suguhan panorama pemandangan selama perjalanan dilengkapi dengan keindahan bangunan jembatan kereta api beserta suasana gelap di dalam lintasan terowongan membuatnya terpesona. Deden merekam semua keindahan itu.

Ke arah Purwakarta dari Stasiun Cimahi, ia melintasi Stasiun Padalarang, Cilame, Sasaksaat, Maswati, Rendeh, Cikadondong, Cisomang, Plered, Sukatani, dan Ciganea. Lintasan itu memiliki struktur tanah berbukit-bukit dan banyak lintasan sungai.

Alhasil banyak jembatan dibuat untuk lintasan kereta api. Pada petak Stasiun Padalarang-Cilame saja ada 10 jembatan yang tergolong berbentang panjang. Berikutnya, petak Cilame-Sasaksaat memiliki 12 jembatan kereta api yang juga menyuguhkan keindahan alam.

”Ada juga yang dilalui terowongan aktif terpanjang, yaitu Terowongan Sasaksaat,” kata Deden.

Terowongan Sasaksaat memiliki panjang 949 meter. Di Indonesia terowongan kereta api terpanjang adalah Terowongan Wilhemina atau dikenal sebagai Terowongan Sumber di jalur mati kereta api lintas Banjar-Pangandaran.

Jalur mati

Deden dipilih menjadi Koordinator Wilayah Bandung IRPS sejak 2010 sampai sekarang. Penelusuran dan inventarisasi aset peninggalan pada jalur-jalur mati menjadi program prioritasnya.

”Selanjutnya kami menyajikan paket-paket wisata dan edukasi perkeretaapian melalui jalur-jalur kereta api yang sudah tidak diaktifkan lagi,” kata dia.

Deden lalu menyebutkan paket wisata dan edukasi perkeretaapian pada jalur mati yang diandalkan, yakni lintasan Banjar-Pangandaran. Di sini wisatawan akan diajak melihat empat terowongan kereta api dan tujuh lokasi jembatan bentang panjang dengan pemandangan bagus.

”Wisata di pantai Pangandaran dan sekitarnya menjadi tujuan yang lain,” kata Deden.

Namun, jalur kereta api yang mati tidak hanya di lintasan tersebut. Di Jawa Barat, ada jalur mati yang lain, di antaranya dari Stasiun Cikudapateuh menuju Stasiun Ciwidey, juga dari Stasiun Dayeuhkolot ke Stasiun Majalaya. Dari Stasiun Rancaekek ke Stasiun Jatinangor, lalu ke Stasiun Tanjungsari juga menjadi jalur mati.

Lintasan Stasiun Tasikmalaya menuju Stasiun Singaparna, dari Stasiun Cibatu menuju Stasiun Garut lalu ke Stasiun Cikajang, juga merupakan jalur-jalur mati. Stasiun Cikajang menjadi stasiun tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 1.246 meter di atas permukaan laut.

Masih lebih banyak lagi jalur mati lainnya. Deden menjadi salah satu di antara sekian banyak orang yang terkena ”sihir” ketertarikan pada bidang perkeretaapian. Untuk menyebarluaskan ketertarikan dan perbaikan perkeretaapian itu dibutuhkan sinergi banyak pihak yang berkepentingan agar kembali lebih memihak angkutan massal ini.

Artikel Lainnya