Wakatobi memiliki potensi sumber daya kelautan yang besar, seperti perikanan tangkap, budidaya laut, dan wisata bahari. Jumlah nelayan dan pembudidaya hasil laut yang cukup banyak menjadi gambaran bahwa kehidupan bahari di kabupaten kepulauan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Pemasaran ikan secara umum dilakukan melalui pasar tradisional.

Luas daratan kepulauan Kabupaten Wakatobi 823 kilometer persegi, sedangkan luas perairan laut 18.337 km persegi yang terhubung dengan Laut Banda di bagian timur dan utara serta Laut Flores di bagian barat dan selatan. Potensi pengembangan ekonomi kelautan yang dapat diperbarui (renewableresources) di Wakatobi antara lain sumber daya perikanan tangkap, terumbu karang, mangrove, dan biota laut lainnya.

Kompas/Ichwan Susanto

Warga Liya Bahari Indah, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menata rumput laut (Eucheuma cottonii) yang baru dipanen, Kamis (5/5). Rumput laut ini dihargai Rp 9.000 per kilogram oleh pengepul dari Baubau. Budidaya seperti ini cocok dilakukan warga setempat yang tinggal di area Taman Nasional Laut Wakatobi. Selain lebih ramah lingkungan, harga jual rumput laut cukup tinggi dan potensinya masih menjanjikan.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Wakatobi, produksi perikanan Wakatobi terdiri dari perikanan tangkap 18.855 ton per tahun, rumput laut kering 2.506 ton per tahun, 5.000 kerang mutiara per tahun, dan budidaya laut 73,16 ton per tahun yang terdiri dari ikan kerapu, lobster, lencam, dan kuwe.

Namun, pemanfaatan potensi perikanan tangkap saat ini baru mencapai 6,4 persen. Produksi perikanan tangkap didominasi oleh jenis ikan pelagis, yaitu ikan tuna, dengan produksi 401 ton per tahun, ikan layang 6.283 ton per tahun, ikan tongkol 2.623 ton per tahun, dan cakalang 413 ton per tahun.

Distribusi tangkapan ikan masih bersifat tradisional, dengan ikan tangkapan nelayan umumnya dibeli oleh pengepul atau dijual ke unit pengolah ikan di Desa Sombu, Wangi-wangi. Dari Wakatobi, ikan-ikan tersebut dikirim ke Buton, Baubau, Makassar, Kendari, dan Muara Baru di Jakarta. Khusus ikan tuna atau olahannya, setelah dikirim ke Jakarta, selanjutnya diekspor ke Amerika, China, Filipina, dan Eropa. Harga ikan tuna dengan kualitas baik mencapai Rp 76.000 per kilogram.

Produksi perikanan di Kabupaten Wakatobi hampir seluruhnya dipasarkan dalam keadaan segar. Hanya di beberapa tempat terlihat ada kegiatan pengolahan dalam bentuk ikan asap atau ikan kering. Kegiatan ini bisa dijumpai di daerah Tomia, Mola Selatan, dan beberapa tempat lain. Berdasarkan pemantauan DKP Wakatobi, nelayan menyatakan kendala dalam pemasaran adalah harga ikan yang tidak stabil.

Kompas/Heru Sri Kumoro

Ikan tangkapan yang telah diasinkan dijajakan di teras rumah warga, di Desa Wali, Binongko, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Rabu (27/9). Nelayan menjadi salah satu profesi utama sebagian besar masyarakat di desa ini.

 

Pemasaran ikan secara tradisional

Produksi ikan di satu pulau biasanya dipasarkan langsung di pulau tersebut. Hal ini berbeda untuk ikan-ikan karang konsumsi yang biasanya langsung ditampung pedagang pengepul yang ada di setiap kecamatan. Tangkapan nelayan tersebut selanjutnya dipindahpulaukan atau dipasarkan ke ibu kota kabupaten, ke Kota Baubau atau Kota Kendari.

Ikan-ikan karang konsumsi, seperti kerapu, sunu, dan kakap—terutama hasil tangkapan pancing ulur dan kedo-kedo—ada yang ditampung dan dipasarkan sebagai komoditas ikan hidup. Biasanya ikan-ikan tersebut dijual ke armada perusahaan pengepul ikan hidup yang secara periodik datang ke Wakatobi.

Kompas/Heru Sri Kumoro

Ikan yang telah diasinkan dijemur di atas kapal nelayan saat bersandar di dermaga, di Desa Wanci, Kecamatan Binongko, Wakatobi, Jumat (29/9). Nelayan di tempat ini terpaksa mengasinkan ikan yag ditangkap karena tidak adanya pasokan es untuk mengawetkan ikan tangkapan.

Para pedagang pengepul juga ada yang mendatangkan pembeli ke lokasi penampungan mereka apabila jumlah ikan yang tertampung cukup memadai. Nelayan pukat cincin di Pulau Binongko terkadang menjual tangkapan mereka langsung di laut (transshipment) kepada kapal-kapal ikan dari Sulawesi Selatan.

Mekanisme pemasaran seperti ini sangat memerlukan ketersediaan es untuk mengawetkan ikan. Selama ini, kebutuhan es didapatkan nelayan dengan membuat sendiri atau membeli es batangan yang diproduksi dari lemari es skala rumah tangga. Pabrik es yang pernah dibangun di Wangi-wangi tidak beroperasi.

 

 

Nelayan

Jumlah nelayan Wakatobi tercatat 6.380 orang dari 1.077 kelompok. Nelayan ini didukung 2.481 unit armada tangkap berupa kapal dengan kapasitas 5-20 gros ton (GT) dan 1.333 perahu tanpa motor.

Sarana atau alat tangkap nelayan didominasi jaring atau gillnet, purse seine, pancing ulur atau handline, dan bubu. Sentra nelayan di Wakatobi antara lain terdapat di Desa Wanci, Desa Sombu, Kecamatan Wangi-wangi, Desa Numana, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, dan Desa Mola. Kegiatan perikanan budidaya di Wakatobi cukup berkembang, terutama budidaya rumput laut dan ikan kerapu dalam keramba.

Kompas/Danu Kusworo

Ibu-ibu dari suku Bajo menjual ikan laut tangkapan di atas sampan di Pulau Kaledupa yang juga ibu kota Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Sabtu (25/2). Aktivitas perdagangan ini menjadi pemandangan setiap hari di jembatan pelabuhan Kaledupa.

Selain nelayan penangkap ikan, terdapat pula jumlah pembudidaya hasil laut. Jumlah pembudidaya hasil laut tercatat 937 orang yang terbagi dalam 261 kelompok. Sentra budidaya rumput laut banyak terdapat di Pulau Wangi-wangi dan Kaledupa, sedangkan budidaya keramba jaring apung terdapat di Pulau Wangi-wangi, Tomia, dan Kaledupa. Total lahan budidaya laut berpotensi yang terdapat di Wakatobi mencapai 55.840 Hektar. (LITBANG KOMPAS/TOPAN YUNIARTO)

 

[kompas-highchart id=”budidaya-hasil-laut-yang-dominan”]