KOMPAS/RIZA FATHONI

Abdi dalem menyapu pelataran Keraton Kasunanan Surakarta, Minggu (28/8).

Batik Yogyakarta-Solo

Perjalanan: Denyut Keraton di Pelataran Kedhaton

·sekitar 5 menit baca

Bagi sebagian besar orang, Keraton Yogyakarta juga Keraton Surakarta mungkin hanya dikenal sebagai obyek wisata. Namun, hingga kini kehidupan di dalam tembok keratonnya terus berdenyut. Di tengah modernitas zaman, para kerabat memaknai keraton yang sama-sama merupakan pecahan Mataram (Islam) ini tetap sebagai rumah dengan beragam aturan yang mati-matian dijaga dan (kemudian) diwariskan.

Tim Selisik Batik Kompas berkesempatan mencecap kehidupan keseharian keraton ini dalam rangkaian peliputan di Keraton Surakarta ataupun Keraton Yogyakarta pada 22-30 Agustus lalu. Setelah mengurus izin peliputan dari jauh hari, Tim Selisik Batik bisa menelisik kehidupan di ceruk keraton yang selama ini tertutup bagi masyarakat umum. Dari arsitektur bangunannya, terdapat kesamaan nama, penempatan, serta fungsi bangunan baik di Keraton Surakarta maupun Yogyakarta.

Bangunan inti di Keraton Surakarta adalah Dalem Ageng yang merupakan tempat persemayaman pusaka dan juga takhta Sunan Paku Buwono sebagai Raja Surakarta. Bangunan utama untuk takhta bagi Raja Yogyakarta memiliki gaya arsitektur yang juga mirip dengan Keraton Surakarta disebut sebagai Dalem Ageng. Uniknya, baik Dalem Ageng di Keraton Yogyakarta maupun Surakarta berhadapan dengan halaman yang sama-sama disebut Pelataran Kedathon.

Di balik rantai yang dipasang untuk membatasi langkah para wisatawan, putri Sunan Paku Buwono XII, GKR Koes Moertyah Wandansari atau akrab disapa Gusti Mung, sibuk memberi makan beberapa ekor kucing yang dipeliharanya di Dalem Ageng, tempat paling sakral di Keraton Surakarta. Kucing-kucing kampung beragam ukuran itu tampak patuh. Hampir semua kucing itu sudah disteril untuk menghindari ledakan populasi di dalam Keraton.

Pada pagi hari, Minggu (28/8), ketika pintu gerbang keraton masih digembok, kucing-kucing itu pula yang menjadi penghuni halaman Dalem Ageng yang disebut sebagai Pelataran Kedhaton. Pelataran Kedhaton ini tertutup hamparan pasir yang didatangkan dari Laut Selatan. Seiring datangnya pagi, sinar matahari menerobos di celah dedaunan 48 pohon sawo kecik yang menyesaki Pelataran Kedhaton. Pohon sawo kecik yang ditanam sejak masa Paku Buwono X ini menjadi pohon yang selalu ada di halaman rumah para pangeran karena juga berfungsi sebagai penangkal petir.

Sepagi itu, tiga abdi dalem sudah mulai mengambil sapu lidi, lalu membersihkan sampah dedaunan hingga kotoran kucing yang berserakan di pasir Pelataran Kedhaton. Menyapu halaman di jantung kehidupan keraton ini menjadi rutinitas setiap pagi hari sebelum gerbang keraton mulai dibuka untuk wisatawan. Ketika memasuki halaman berpasir, wisatawan diwajibkan melepas sandal. Seorang abdi dalem sembari sibuk menyapu berbisik sambil menunjuk seorang bapak tua: ”Bapak itu bukan sekadar abdi dalem, beliau itu pangeran.”

Atribut bangsawan

Memakai kaus dan celana panjang, tak ada atribut kebangsawanan yang dikenakan sang pangeran ketika turut menyapu halaman. Hal serupa dijalani Gusti Mung yang menanggalkan atribut putri raja tiap kali berkunjung ke keraton. Segala macam atribut kebangsawanan biasanya baru akan dipakai ketika keraton menggelar upacara tradisi. Dalam setahun, Gusti Mung menyebut ada minimal 12 upacara adat yang mengharuskannya memakai atribut kebangsawanan.

”Atribut di upacara keraton itu sebetulnya hanya untuk membedakan: itu berarti kanjeng ratu, ngagem kebaya panjang, kebayanya beludru, pakai lisir, bros itu yang boleh pakai susun tiga itu hanya prameswari dalem dan gusti kanjeng ratu pakubuwono nunggal jeneng. Kalau enggak hanya dua. Kalau seperti saya, putri raja itu hanya boleh satu bros,” kata Gusti Mung.

Tak hanya bros, banyak perhiasan atau aturan berpakaian untuk membedakan tingkat kebangsawanan seseorang. Cunduk kembang hanya boleh dipakai putri raja. ”Ini untuk pertanda, kalau yang belum nikah itu pakai cunduk jungkat, yang pakai sisir itu, kalau yang sudah menikah itu pakai kalau di sini istilahnya montol bangun tulak, itu bunga melati. Kalau janda, pakai cunduk pasti sebelah kanan,” tambah Gusti Mung.

Menjalankan tugas di keraton dengan menanggalkan atribut kebangsawanan juga dijalani kerabat di Keraton Yogyakarta seperti Raden Ayu Siti Amirul. Dididik dengan pendidikan ala Belanda dengan bahasa Belanda sebagai bahasa sehari-hari di rumah, Amirul sering kali menjadi penerjemah bahasa bagi Sultan Hamengku Buwono X tiap kali ada tamu kenegaraan datang ke keraton.

Sehari-hari, Amirul juga menjadi pemandu wisata di Keraton Yogyakarta. Amirul pula yang menemani Tim Selisik Batik Kompas selama proses pemotretan di lokasi-lokasi di keraton yang sebenarnya terlarang untuk pemotretan, seperti di Museum Batik Keraton Yogyakarta atau di Perpustakaan Banjarwilopo. Paham betul tentang seluk-beluk keraton, Amirul menjadi pemandu yang sangat membantu dalam peliputan.

Ia menerangkan bahwa Museum Batik Keraton Yogyakarta menyimpan banyak sekali kain batik yang kebanyakan berasal dari era Sultan Hamengku Buwono (HB) VIII dan Sultan HB IX. ”Sampai pada masa Sultan HB IX, istri-istri raja masih membatik,” katanya, Kamis (25/8), di Yogyakarta.

Amirul menjelaskan, untuk mengisi waktu luang, istri-istri raja di Keraton Yogyakarta biasanya melakukan sejumlah aktivitas, misalnya memasak, menari, dan membatik. Dari kebiasaan membatik itu lahirlah semacam kompetisi untuk mempersembahkan batik terbaik kepada sang Sultan. ”Dari hasil batik yang mereka buat, Sultan bisa menilai karakter para istrinya,” ujarnya.

Abdi dalem

Bagi para abdi dalem keraton, kehadiran para bangsawan di keraton menjadi sumber semangat sekaligus sumber berkah. Sebanyak 15 prajurit di Keraton Surakarta yang sudah bersiap latihan pawai keliling keraton bisa tiba-tiba batal berlatih karena penghageng atau kerabat keraton yang bertugas mengatur para prajurit ini tiba-tiba berhalangan hadir.

Padahal, seluruh prajurit tersebut sudah sibuk berganti pakaian sehari-hari dengan kostum prajurit dari sejak pagi hari. Pangarso Prajurit atau Komandan Pasukan, Alexander Pratnyono, yang sudah tampil gagah dengan senjata pedang samurai warisan zaman Paku Buwono X akhirnya hanya bisa merapikan barisan prajuritnya di Bangsal Magangan. Beberapa kali dia berteriak sigek tandiyo (siap grak) sebelum akhirnya membubarkan barisan prajurit untuk pulang.

Di Keraton Yogyakarta, abdi dalem dari beragam profesi juga setia menjalankan tugas di dalam tembok keraton. Nindyo Raharjo (76), pensiunan dari Universitas Gadjah Mada, memilih menghabiskan waktu luang di hari tuanya dengan menjadi carik atau sekretaris di Perpustakaan Banjarwilopo. Kehadiran abdi dalem dan para bangsawan di keraton ini menjadi satu lingkaran saling melengkapi yang membawa lestarinya kehidupan budaya Jawa di keraton-keratonnya.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Prajurit Keraton Kasunanan Surakarta berbaris.

KOMPAS/MAWAR KUSUMA WULAN

Bangsal Pradonggo di Pelataran Kedhaton Surakarta yang dulu berfungsi untuk kantor pengadilan.

KOMPAS/MAWAR KUSUMA WULAN

Pendopo Ageng Sasono Sewoko yang menyatu dengan bangunan paling sakral di Keraton Surakarta, Dalem Ageng yang berada di Pelataran Kedhaton.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Abdi dalem dan pembatik Keraton Kasultanan Yogyakarta.

Artikel Lainnya