KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Permainan alat musik Talempong Diatonis taua mengiringi salah satu acara akad nikah di Padang, Sumatera Barat, Jumat (16/2).

Liputan Talempong

Talempong dan Identitas Minang * Ekspedisi Alat Musik Nusantara

·sekitar 6 menit baca

Talempong bagi masyarakat Minangkabau adalah identitas. Kala talempong ”memanggil” dengan bunyi khasnya, saat itu pula seluruh ikatan rasa pada Minangkabau mengental dan menggelora dalam diri orang Minang. Di titik ini, talempong menjadi perwujudan rasa cinta sekaligus kebanggaan sebagai orang Minangkabau.

Talempong adalah salah satu alat musik tradisional khas Minangkabau. Bentuknya mirip bonang yang ada dalam gamelan Jawa, tetapi menghasilkan suara atau bunyi yang berbeda kala dimainkan dengan cara dipukul.

Sejarah tentang asal-usul talempong lebih banyak bersumber dari tambo, yaitu kisah yang disampaikan secara turun-temurun. Ada yang menyebut talempong berasal dari Pariangan, daerah asal-usul nenek moyang orang Minangkabau, yang lalu menyebar ke seluruh Sumatera Barat. Ada juga yang menyebut talempong berasal dari India, dibawa nenek moyang orang Minangkabau.

Jennifer A Fraser dalam buku Gongs & Pop Songs: Sounding Minangkabau In Indonesia menyebut, tak ada bukti sejarah yang secara akurat menunjukkan asal-usul talempong. Menurut Margareth J Kartomi dalam artikel ”Musical Strata in Sumatera, Java and Bali”, talempong dibawa oleh nenek moyang orang Minangkabau pada zaman perunggu pada abad ke-13.

Jumat (16/2) siang pukul 14.00, bunyi ”tung-tung-tung” talempong yang dimainkan anggota Sanggar Satampang Baniah segera terdengar begitu Bobby Indra Lesmana dan keluarga besarnya menjejak kaki di kawasan Belakang Olo, Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat. Diiringi suara talempong berpadu gendang dan sarunai, Bobby yang asal Kalimantan mantap berjalan menuju rumah calon istrinya yang asli Minangkabau, Yolla Feniresty.

Siang itu, mereka akan melangsungkan akad nikah di kediaman orangtua Yolla. Rombongan terlebih dahulu berjalan kaki sekitar 50 meter membawa berbagai seserahan. Di belakang arak- arakan, suara talempong terus mengiringi hingga mereka sampai di gerbang rumah. Di sana, rombongan disambut keluarga besar Yolla dalam balutan pakaian adat Minangkabau sebelum memulai prosesi akad nikah.

Talempong, khususnya talempong pacik, menjadi bagian dalam prosesi pernikahan, terutama saat mengarak calon pengantin pria. Hal ini menunjukkan posisi talempong yang tinggi dalam masyarakat Minang, selain fungsi dalam acara batagak (pengangkatan) penghulu, juga acara pemberian gelar datuak.

Antony Reid dalam bukunya, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680, menuliskan, jika raja atau orang terkemuka berjalan dalam iring-iringan yang hikmat, orang akan menyertai dengan tabuhan seperangkat alat musik jenis gong. Artinya, musik perunggu, termasuk gong, menjadi bagian penting di kerajaan Melayu dan suku Melayu di Minangkabau yang digunakan dalam berbagai upacara adat.

Memegang adat dan tradisi

Menurut Eva Decroli yang mewakili keluarga besar Yolla, di Minangkabau, hakikat pesta adalah kebersamaan. Karena itu, meski banyak alat musik tradisional Minangkabau lainnya, pilihan mereka jatuh pada talempong. Talempong mewakili semangat kebersamaan itu karena dimainkan bersama-sama.

”Di sisi lain, talempong adalah jenis alat musik yang diiringi oleh seperangkat keminangan lain, mulai dari sepatu, celana, baju, hingga pengikat kepala atau deta. Itu berbeda dengan organ tunggal yang kekinian,” katanya.

Talempong bagi para tetua adat, ujar Eva, adalah musik yang relatif sakral. ”Ketika talempong dipergunakan, pasti tak akan ada aktivitas seperti minum- minuman keras, berjoget, yang ditemukan di musik-musik ’modern’. Hal itu juga berkaitan dengan citra yang dibangun. Menggunakan talempong mencerminkan keluarga antihuru-hara, keluarga yang masih memegang adat dan tradisi leluhur,” kata Eva.

Pemilihan talempong sebagai musik pengiring saat proses akad hingga pernikahan juga tak sembarangan. Pesta pernikahan adat Minangkabau harus melewati serangkaian proses panjang, dengan rapat yang melibatkan tiga pihak, yakni keluarga ibu, keluarga ayah, dan pihak sumando (laki-laki yang bergabung dengan keluarga perempuan yang diikat dengan tali pernikahan).

Dalam proses itu ditentukan tanggal memulai hitungan usia yang tepat untuk anak menikah, dengan siapa dia menikah, hingga pesta (alek) yang akan diadakan. Rapat juga membicarakan pilihan musik yang akan digunakan. ”Pesta yang diadakan menunjukkan siapa kita. Pemilihan talempong adalah untuk menunjukkan identitas keminangan,” kata Eva.

Pengajar Institut Seni Indonesia Padang Panjang yang juga peneliti talempong, Andar Indra Sastra, mengungkapkan, alat musik perunggu, termasuk talempong, berasal dari kebudayaan Dong Son, Vietnam, lalu menyebar ke Nusantara, termasuk Sumatera. Dalam perkembangannya, alat perunggu termasuk talempong menjadi legitimasi simbol kekuasaan, baik di Vietnam maupun di Nusantara. Talempong menjadi simbol kekuasaan karena tak semua bisa membeli, hanya dimiliki oleh orang-orang berada, termasuk kerajaan.

Talempong kemudian masuk ke masyarakat karena adanya suku-suku yang beraliansi dengan Kerajaan Pagaruyung. Namun, tak semua suku di Minangkabau pada awalnya memiliki talempong.

Guru Besar Antropologi Universitas Andalas Nursyirwan Effendi mengungkapkan, sebelum terbakar pada 2007, di Istana Basa Pagaruyung, di Batu Sangkar, Tanah Datar, banyak terdapat contoh talempong. Ini menunjukkan talempong merupakan bagian dari alat musik kerajaan. ”Talempong adalah alat musik terhormat. (Saat itu) orang kaya, orang yang memiliki kekuasaan atau datuk-datuklah yang memilikinya” kata Nursyirwan.

Hingga talempong kemudian dimainkan oleh masyarakat di luar kerajaan, alat musik ini tetap memiliki karisma dan ditempatkan pada posisi yang tinggi atau terhormat. Itu yang menjadikannya tetap memiliki relasi yang kuat dengan masyarakat Minangkabau. ”Talempong memiliki nilai sosial yang lebih tinggi karena biasa dimainkan di tempat khusus dan tidak sembarangan. Selain itu, talempong juga dimainkan oleh orang-orang yang punya keahlian khusus,” kata Nursyirwan.

Relasi itu terbentuk juga karena talempong memberikan rasa kuat terhadap musik-musik Minangkabau dan menjadi ciri khas Minangkabau yang tak bisa dihilangkan. ”Kalau dari jauh, terdengar bunyi tung…tung…tung saja, orang pasti langsung tahu itu Minangkabau,” kata Nursyirwan.

Semangat akulturasi, menurut Nursyirwan, turut mewarnai ikatan masyarakat Minangkabau dengan talempong. ”Talempong jelas tidak lahir di Minangkabau. Mungkin terinspirasi dari Jawa. Bisa dilihat dari teknik cor mengingat hal itu lebih dulu ada di sana. Bisa jadi akulturasi itu terjadi setelah abad ke-14 ketika kontak dengan Jawa melalui Kerajaan Pagaruyung. Semangat akulturasi itu bukan untuk menyamakan dengan yang lain, melainkan memberikan warna yang khas,” kata Nursyirwan.

Makin kabur

Selain talempong pacik, saat ini dikenal istilah talempong rea yang dimainkan dengan cara duduk bersila atau bersimpuh. Istilah rea mengacu pada kotak persegi panjang tempat meletakkan talempong. Dalam istilah yang lebih umum disebut talempong kreasi yang mengombinasikan talempong pacik dengan alat-alat musik modern, seperti gitar dan bas.

Syafrizal Sunandar dari Sanggar Satampang Baniah mengatakan, dibanding talempong pacik, talempong rea saat ini lebih berkembang. Meski demikian, talempong pacik, yang sebelum Islam masuk ke Sumatera Barat digunakan untuk mengiring jenazah, tetap ada dan dimainkan.

Bedanya, jika dulu penggunaannya disertai berbagai mitos, sejak Islam masuk ke Minangkabau mitos-mitos itu sudah tak ada lagi. Misalnya mitos talempong hanya boleh dimainkan oleh kaum perempuan, atau dibuat menggunakan doa-doa atau ritual khusus agar talempong mengeluarkan suara indah yang disebut manyadahi menggunakan kapur. ”Termasuk mitos tidak boleh dilangkahi,” kata Syafrizal.

Seiring hilangnya mitos-mitos tersebut membuat talempong makin hidup di tengah masyarakat. Dalam khazanah hiburan, masyarakat makin eksploratif terhadap talempong. Belakangan, talempong kreasi bahkan telah melompat menjadi talempong goyang, membawakan lagu-lagu dari campursari hingga dangdut.

”Dari segi kreativitas, sah-sah saja. Hanya saja, tanggung jawab sebagai orang Minangkabau, yang harus melestarikan atau mengembangkan talempong, jalurnya kurang tepat,” ujar Andar.

Fernandes Syafaned dari Sanggar Puti Ambang Bulan di Lima Puluh Kota mengungkapkan hal serupa. Menurut dia, saat ini talempong telah kehilangan identitasnya. Padahal, dulu, setiap nagari memiliki talempong dengan kekhasan suara masing-masing. Hal ini bisa terjadi karena nada talempong pacik sangat tergantung dari para tuo talempong atau seniman talempong di nagari tersebut. Nadanya bukan diatonis.

”Setelah pusat-pusat kesenian tradisi melakukan penelitian tentang talempong ke kampung-kampung lalu mengembangkannya, membuat orang cenderung mengikutinya. Hal itu membuat jati diri talempong di setiap wilayah cenderung kabur atau hilang. Kami ingin mengembalikan kesenian yang sudah diambil ini kepada pemiliknya,” ujar Fernandes. Kala identitas makin kabur, jalan kembali harus dicari.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Proses pembuatan Talempong di perajin talempong Anda Saiyo di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, Rabu (14/2).

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Sejumlah remaja di Sanggar Seni ”Tampuniak”, Pariaman, Sumatera Barat, memainkan permainan Talempong Pacik, Sabtu (17/2).

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Kelompok talempong tradisional ”Bunian Mandeh” Sikabu-kabu, Payakumbuh, Sumatera Barat, Selasa (13/2).

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Salah satu lapak penjual cakram padat musik di Tanah Datar, Sumatera Barat, menjual rekaman irama musik Talempong, Selasa (13/2).

Artikel Lainnya