Gunung Guntur. Tubuhnya yang kering kerontang dan jarang kehidupan menyiratkan ketidakramahan. Sepanjang tahun 1800, gunung ini berkali-kali meletus. Konon, nama ”guntur” dilekatkan pada gunung berketinggian 2.445 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu lantaran letusannya yang menggelegar seperti guntur membelah langit.

Sepanjang tahun 1800 sampai 1847, terekam 21 letusan. Salah satu letusan dahsyat terjadi tahun 1840. Naturalis Belanda kelahiran Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn, yang terpesona dengan Guntur, mencatat letusan itu.

”Matahari belum lagi terbit ketika tiba-tiba terbentuk tiang api dan asap dari kawah. Lava membara mengalir ke semua arah dari tepinya,” tulis Junghuhn dalam ”13 Goentoer” yang dimuat Java Tweede Afdeling, De Vulkaan en Vulkanische Verschijnselen West-en Midden-Java (1850).

Pukul 03.30, terdengar suara gemuruh. Ledakan yang tiba-tiba itu membangunkan penduduk Garut dari tidur. Mereka berlarian keluar rumah, menyaksikan segumpal awan asap besar membumbung dari kawah.

KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHO

Kota Garut terletak tepat di bawah Gunung Guntur, Kabupaten Garut Jawa Barat, Minggu (26/2/2012).

Api, pasir, dan kerikil membara menyembur selama dua jam ke segala penjuru. Batu sekepalan tinju berhamburan di kaki gunung dan Tarogong. Batu-batu panas yang semburannya mencapai Garut kota masih berukuran sebesar telur ayam. Hujan batu dan suara menggelegar itu berhenti pukul 09.00 dan mengubah siang menjadi malam paling gelap sehingga warga harus menyalakan lampu di dalam rumah dan obor di jalan.

Aliran putih membara dahsyat keluar dari kawah dan bergerak mengalir. Kawah ibarat mangkuk dengan susu mendidih yang meluap ke segala arah. Suara gemeretak bongkah batu yang jatuh di lereng gunung mirip tembakan meriam, memecahkan kaca-kaca rumah di Garut.

Catatan Junghuhn tentang letusan itu mencengkeram benak. ”Tiada batang rumput menghiasi Gunung Guntur dari kaki hingga puncak, sama sekali gundul. Ia menjulang dalam kegelapan lontaran kelabu kotor kehitaman, bagaikan suatu gambaran kehancuran”.

Hanya setahun setelah letusan dahsyat itu, Guntur kembali meletus. ”Letusannya menyebarkan hujan abu diiringi suara kuat dari dalam tanah. Tanah tertutup pasir dan abu. Sebanyak 400.000 pohon kopi yang sedang berbuah dan 300 bau sawah rusak berat,” demikian rekaman koran Javasche Courant, 4 Desember 1841.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Buah kopi Koneng di perkebunan kopi koneng di Cikandang, Cikajang, Garut, Jawa Barat, Selasa (23/1/2018). Komoditas kopi Arabika Cikajang , baik Kopi Koneng maupuan Kopi Beureum menjadi salah satu komoditas penting untuk menggerakkan petani kopi kecil dengan wadah koperasi.

Jauh sebelum itu, letusan Guntur bahkan menelan korban jiwa. Letusan tahun 1690, letusan pertama Guntur yang dicatat, menghancurkan beberapa desa, menelan korban banyak orang, dan merusak ribuan hektar tanah pertanian.

Letusan tahun 1690 adalah letusan pertama Guntur yang dicatat.

Letusan Guntur tahun 1825 juga membawa banyak kerugian. Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie (seri IV, 1859) menyebutkan, debu, pasir, dan batu yang terbawa ke selatan serta barat menutup Malaijo, Tjibodas, Dongde, Trogong Kaler, dan Leles. Tidak ada korban jiwa, tetapi 548.750 pohon kopi hancur, 4.000 pikul kopi hasil panen hilang, dan 1.449 petak sawah rusak tertutup abu.

Muntahan Gunung Guntur yang tersebar di sekitarnya, dalam pandangan geolog dan ahli geokimia dari PVMBG, Akhmad Zaenuddin, mengungkap karakter Guntur. Akhir Januari lalu, Zaenuddin dan Hetty Triastuty menelusuri jejak-jejak letusan Guntur.

Di Citiis, sekitar 5 kilometer dari kawah, Zaenuddin mendekati tebing yang dipapas penambang pasir. Singkapan mirip kue lapis raksasa itu merupakan susunan lapisan material Guntur. ”Di singkapan ini, material yang sudah dingin tertimpa awan panas. Lihat! Ada kayu yang menjadi arang,” kata Zaenuddin menunjuk batang kayu hitam di dalam lapisan tanah.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Lapisan tanah di Pasawahan, kaki Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, Jumat (27/1/2012).

Di satu lokasi itu saja, ada minimal tiga lapisan material letusan Guntur dari periode berbeda. ”Daerah ini pernah tertutup awan panas. Datang hujan menggelontor material yang lalu mengendap. Endapan itu lalu tertimbun awan panas, tertumpuk material endapan lain, dan terlibas awan panas kembali,” ujar Zaenuddin.

Di atas kawasan yang tertutup awan panas itu pula beberapa rumah warga berdiri. Semua tumpukan itu berada di atas lahar yang diduga produk letusan Guntur sebelumnya. Namun, tidak diketahui usia lapisan-lapisan itu.

Jejak-jejak itu juga mengungkap perubahan karakter ataupun kekuatan letusan Guntur. Di sisi timur Guntur, masih di Citiis, Akhmad memperlihatkan singkapan lain.

”Di atas itu, ada aliran lava dan awan panas dari periode letusan berbeda,” ujarnya. Letusan magmatik gunung itu menghasilkan lava pada tahun 1840. Adapun tahun 1841, letusan eksplosif Guntur melontarkan jatuhan awan panas, tidak tercatat aliran lava.

Zaenuddin lalu menunjuk ke arah lava termuda hasil letusan tahun 1840 yang mengalir dari kawah ke arah tenggara. Lava muda itu berakhir sekitar 300 meter sebelah utara sebelum pemandian Cipanas. ”Sebenarnya Cipanas itu dibangun di atas lapisan lava, produk dari letusan Guntur yang jauh lebih tua,”ujarnya.

AHMAD ARIF; HERMAS EFFENDI PRABOWO; MUKHAMAD KURNIAWAN