KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHO

Vegetasi alam di Sang Hyang Guriang, Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, Sabtu (28/1/2012).

Bahaya Sunyi di Bumi Priangan

Sinyal dari Gunung Guntur

·sekitar 5 menit baca

ALAT-ALAT pemantau Gunung Guntur berkali-kali mengirim ”sinyal” mencurigakan. Kegempaan begitu tinggi di gunung yang lama tidak meletus itu.

Setiap ”kejanggalan” perilaku Guntur meresahkan pengamat gunung api. Sesaknya kota di kaki Guntur membangkitkan ngeri saat membayangkan kemungkinan gunung meletus.

Kegempaan yang tinggi beberapa kali merebakkan rumor akan meletusnya Guntur. Status Guntur naik dari Normal menjadi Waspada pada tahun 1997 dan tahun 2002 akibat memuncaknya gempa. Setelah itu, Guntur kembali normal hingga sekarang, walau terus mengirim getaran.

Hetty Triastuty menduga pergerakan magma di bawah Guntur yang menyebabkan gempa berkali-kali. Hetty mengamati, sebaran pusat gempa ada di tiga area, yakni Guntur, Kamojang, dan Gandapura. Makin ke barat laut (ke arah Kamojang) gempa semakin dalam. Sebaliknya, ke tenggara (ke arah Guntur), gempa kian dangkal. Sebaran pusat gempa itu berhubungan dengan lokasi magma. ”Dilihat dari sebaran gempa Januari hingga Februari 2011, konsentrasi gempa paling rapat di puncak Guntur,” ujar Hetty.

KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHO

Komplek Gunung Guntur, Kabupaten Garut Jawa Barat, dengan tebarana kilauan lampu Kota Garut, Minggu (26/2/2012). Gunung Guntur yang merupakan salah satu gunung berapi aktif ini memiliki potensi bencana yang tinggi bagi kota yang memiliki sebutan Swiss Van Java tersebut.

Tambahan pula, energi gempa membesar dan waktunya memanjang sejak April 2011. Kekuatan beberapa gempa vulkanik mencapai magnitude 1,9. Sebelumnya, gempa-gempa hanya bermagnitude 1,5. ”Kami menduga magma naik ke permukaan puncak Guntur,” ujarnya.

GPS menangkap juga perubahan bentuk tubuh gunung. Lereng menggembung akibat dorongan magma ke atas, walaupun penggembungan hanya sedikit pada April tahun lalu. Magma diperkirakan tinggal di kedalaman 1,5 kilometer-1,7 kilometer.

Pada 26 September 2011, Guntur lagi-lagi mengantar gempa. Getarannya dirasakan penggali pasir yang melapor ke pos pengamatan gunung. Ada seratus gempa terekam stasiun seismik Guntur. Namun, gempa kemudian menurun sehingga status tidak jadi dinaikkan.

Gempa bermagnitude 1,9 itu bersumber dari bawah Gandapura di kedalaman kurang dari dua kilometer. ”Magma menerobos, lebih dangkal di bawah Gandapura. Ini menyimpang dari kebiasaan. Biasanya kalau gempa datang, sumbernya di Kamojang. Tetapi sekarang di Gandapura, lebih dekat dengan Guntur,” ujar Hetty.

KOMPAS/ YUNIADHI AGUNG

Salah satu sudut kota tua Garut di Jalan Mandalagiri (dahulu Jalan Holee). Bangunan-bangunan di kawasan ini dihuni oleh pemilik perkebunan pada masa pemerintah
kolonial Belanda. Foto diambil Januari 2012.

Pasokan magma, kata Hetty, bisa datang dari mana saja dan cenderung mencari zona lemah sebagai pusat tekanan, seperti kawasan Kamojang, Gandapura, dan Guntur. Akan tetapi, jejak bebatuan semakin muda ke arah Guntur, yang menandakan sumber letusan-letusan terbaru di Kawah Guntur. ”Tanda-tanda kegiatan gunung api seperti gas dan asap hanya ada di kawah Guntur sejauh ini. Biarpun begitu, kita belum bisa memastikan letusan berikutnya dari mana,” kata Hetty.

Pergerakan magma di bawah sepuluh kilometer biasanya sudah membuat ahli gunung api berjaga-jaga. Magma yang naik atau suntikan magma baru menimbulkan gempa sehingga terjadi krisis. Namun, jika energi belum cukup kuat mendobrak sumbat, gunung akan tenang kembali

Zaenuddin meyakini aktivitas gunung api dikontrol magma. Isi perut gunung berubah sifat atau mengkristal ketika tidak ada tambahan magma. ”Magma berkomposisi basa dan mengandung mineral hitam seperti besi dan magnesium menjadi asam,” ujar Zaenuddin.

Perubahan itu menghasilkan gas yang tinggi. ”Kalau jumlah magma besar, gas yang dihasilkan dari proses itu juga besar sehingga sanggup mendobrak sumbat gunung. Terjadi letusan, tanpa perlu suplai magma baru. Sebaliknya, jika gas yang dihasilkan kurang kuat, gunung belum meletus,” ujarnya.

KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHO

Sisa sebaran material letusan Gunung Guntur Purba, Garut, Jawa Barat, Jumat (27/1/2012).

Aliran magma baru sudah pasti mengubah lingkungan di tubuh gunung. Pasokan magma dari mantel bumi atau injeksi ke kantong magma memicu ketidakstabilan yang menghasilkan gas-gas bertekanan.

”Tambahan magma baru yang bersifat basa akan mengubah kestabilan tubuh gunung,” ujarnya. Lamanya gunung ”beristirahat” menyebabkan pencampuran magma mampu menghasilkan letusan dahsyat dan bervolume besar.

Kawasan tenggara Guntur yang landai paling rawan dilalui aliran lava. Peta Kawasan Rawan Bencana PVMBG (2003) menyebutkan, pada letusan mendatang arus lava ke arah tenggara kemungkinan lebih jauh dibandingkan aliran lava terakhir, tahun 1840. Selain mencapai kawasan padat Cipanas dan Tarogong Kaler, perluasan lava diperkirakan mencapai 8 kilometer ke arah tenggara, memotong jalan raya Garut-Bandung.

Perluasan lava diperkirakan memotong jalan raya Garut-Bandung.

Adapun sebaran awan panas mendatang diduga sebagian melalui lembah-lembah di lereng utara, barat laut, selatan, dan timur laut. Sebaran awan panas terbesar diduga ke lereng tenggara yang padat penduduk dan kawasan wisata sehingga dikhawatirkan menelan banyak korban.

KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHO

Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, dengan latar belakang Kota Garut yang dilihat di bukit Sang Hyang Guriang, Sabtu (28/1/2012). Gunung Guntur yang memiliki bentuk khas gunung api yaitu bentuk strato dan letaknya tidak jauh dari ibukota Kabupaten Garut merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif hingga saat ini.

Bahkan, penyusun peta memperkirakan sebaran awan panas bisa masuk ke aliran Sungai Cimanuk sejauh 12,5 kilometer. Perkiraan itu berdasarkan bentuk daerah puncak dan sekitarnya serta sejarah letusan Guntur.

Namun, menurut Zaenuddin, gunung api tidak seragam dan monoton. Oleh karena itu, penyelidik gunung api terus menginterpretasi data terbaru hasil pemantauan untuk membaca gunung Guntur.

Keberadaan patahan-patahan di kompleks Guntur memperumit pembacaan sinyal itu. Peneliti masih mencari hubungan patahan dengan dinamika Guntur. Penelitian terdahulu memperkirakan kegempaan Guntur tidak hanya dikontrol penerobosan magma, tetapi juga oleh pergerakan kerak bumi di sekitarnya.

Zaenuddin menyimpan kekhawatiran lain: longsoran puing vulkanik Guntur. Letusan dapat disertai longsornya sebagian tubuh gunung. Jejak letusan masa lalu membuktikan adanya guguran puing vulkanik.

KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHO

Longsoran Debris Avalanches di Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, Sabtu (28/1/2012).

Dia mencontohkan, sekitar 50.000 tahun lalu, kerucut Pasir Cileungsi—bagian dari Kompleks Guntur—meletus besar. Aliran awan panas mendorong dan menjebol bagian dinding gunung yang lemah. Setidaknya terjadi tiga kali longsoran tubuh gunung api di kawasan Guntur. Jejak longsoran raksasa itu membukit di Tarogong, Leles, dan Kedungora.

Geolog dari Pusat Survei Geologi, Sutikno Bronto, berpandangan, longsoran semacam itu bisa terulang. Guntur menumpang di atas kaldera tua.

”Di daerah Cipanas, contohnya, ada lava-lava menumpang di atas batuan yang telah menjadi lempung putih. Lempung putih ini bisa menjadi bidang lincir. Kalau ada dorongan, mudah sekali longsor,” ujar Sutikno. Dia menduga longsornya ke bidang dataran baru di tenggara, termasuk ke Cipanas.

Sutikno memperkirakan longsoran tubuh Guntur dan Masigit sanggup meluncur hingga 15 kilometer. Itu berdasarkan perhitungan hubungan gerakan longsoran secara vertikal dan horizontal.

KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHO

Longsoran Debris Avalanches di Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, Sabtu (28/1/2012).

Ancaman guguran tubuh gunung itu tercantum pula dalam Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Guntur (2003) PVMBG. Volume batuan Gunung Guntur dan Masigit diperkirakan 3 kilometer kubik, sedangkan volume Guntur, Parupuyan, dan Kabuyutan 2,6 kilometer kubik.

Jika volume sebesar itu longsor, sebaran ke dataran Garut dan Tarogong masing-masing seluas 80 kilometer persegi dan 60 kilometer persegi. Kawasan di tenggara akan tertutup oleh endapan longsoran vulkanik dengan ketebalan 30 meter hingga 50 meter. ”Ini lebih hebat lagi, bisa menghancurkan kota,” kata Zaenuddin.

AHMAD ARIF; HERMAS EFFENDI PRABOWO; MUKHAMAD KURNIAWAN

Artikel Lainnya