GEMPA memang belum bisa diramalkan. Namun, Danny Hilman percaya, dampak merusak gempa bisa dikurangi jika kita bisa mengenali karakter dan pergerakannya. Menurut dia, ada dua bahaya utama gempa. Pertama, bahaya akibat pergerakan di sepanjang jalur patahan ketika gempa mengguncang. Kedua, bencana akibat guncangan gempa.

Bencana akibat pergerakan patahan bisa dikurangi dengan memperhitungkan keberadaan jalur gempa dalam perencanaan pembangunan dan penataan lingkungan. Di California, misalnya, zona 20 meter di kanan-kiri jalur patahan aktif San Andreas tidak boleh dipakai untuk pembangunan rumah, apalagi untuk bangunan umum seperti sekolah dan rumah sakit.

”Di Jepang memang di atas jalur patahan tetap boleh dibangun,” kata Danny. Namun, perulangan gempa di zona sesar di Jepang bisa ribuan tahun karena kecepatan gerak atau slip rate-nya sangat kecil. ”Misalnya, gempa Kobe perulangannya ribuan tahun,” katanya. Apalagi, Jepang juga menerapkan standar bangunan tahan gempa yang ketat dan bersiap menghadapi guncangan terburuk. ”Patahan Sumatera memiliki kecepatan gerak relatif tinggi seperti San Andreas sehingga perulangan gempanya pun cepat.”

Bencana akibat pergerakan patahan bisa dikurangi dengan memperhitungkan keberadaan jalur gempa dalam perencanaan pembangunan dan penataan lingkungan.

Adapun petaka akibat guncangan dapat dikurangi dengan mewajibkan bangunan tahan gempa yang kekuatannya disesuaikan dengan zonasinya. Semakin dekat dengan jalur patahan, semakin besar guncangan yang terjadi saat gempa. Selain itu, ada faktor lain berupa amplifikasi tanah. Semakin labil tanahnya, semakin tinggi dampak guncangan.

”Sejauh ini, peta rawan bencana belum diterapkan dalam tata ruang,” keluh Danny. ”Bahkan, banyak gedung dibangun kembali persis di atas retakan patahan.”

Danny mencontohkan zona patahan yang melintas di Kototinggi dan Kotogadang, Sumatera Barat. Dua kota ini pernah diguncang gempa berkekuatan 6,4 skala Richter pada 2007 yang merusak ratusan bangunan, merobohkan jembatan, dan mengoyak jalan aspal. Kerusakan terutama di zona terdekat jalur patahan. Namun, kebanyakan warga membangun di tempat yang sama dengan konstruksi tidak lebih baik.

Padahal, jalur-jalur gempa terlihat jelas dalam bentuk retakan tanah selebar 30 sentimeter berkedalaman hingga 0,5 meter membelah Kototinggi, memanjang di tepi jalan utama penghubung Bukit Tinggi-Padang.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Zona Patahan Kotogadang – Warga melintas di jalan yang mendekati jalur gempa di depan rumah gadang yang menjadi Balai Adat Jorong Kotogadang, Kenagarian Kotogadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Minggu (19/2). Selain membuat rumah dengan konstruksi tahan gempa, dampak kerusakan gempa bisa dikurangi dengan memperhitungkan keberadaan jalur gempa.

Di depan rumah Fauzi Anwar (55) di pusat Kototinggi, retakan itu membelah jalan dan terus memanjang memotong rumah-rumah warga. ”Di bawah rumah saya ada retakan memanjang hingga ke seberang jalan sana,” kata Fauzi, yang rumah sekaligus tokonya rusak akibat gempa tahun 2007.

Fauzi pun berinisiatif mencari informasi mengenai jalur gempa ke Dinas Pekerjaan Umum Sumatera Barat. Ia juga berkonsultasi mengenai konstruksi bangunan tempat tinggal tahan gempa. Hasilnya, Fauzi membangun rumah baru sekaligus toko berupa bangunan beton dua lantai yang berjarak kurang dari 10 meter dari rumah lamanya. Jarak itu masih terlalu dekat dengan sumber rambatan gempa. Namun, Fauzi mengaku rumahnya tak bisa terlalu jauh dari jalan raya. ”Semoga kali ini aman,” ujar Fauzi, sambil menunjukkan tulangan besi di gedung barunya.

Tak banyak yang seperti Fauzi Anwar. Sebagian besar masyarakat Sumatera yang tinggal di jalur patahan tak mengetahui ancaman gempa yang mengintai mereka. ”Setelah gempa di sini tanah retak memanjang. Garisnya persis di depan toko saya, lalu menerus menabrak pagar dan rumah tetangga,” kata Datuk Raja Mengkuto (74), warga Kototinggi.

Sebagian besar masyarakat Sumatera yang tinggal di jalur patahan tak mengetahui ancaman gempa yang mengintai mereka.

Retakan memanjang yang ditunjukkannya itu kini sama sekali tak terlihat. Pagar tembok yang roboh sudah dipoles, rumah yang roboh kembali dibangun, dan jalan aspal yang terbelah kembali ditambal. ”Harusnya di atas garis itu tidak dibangun lagi karena gempa berikutnya akan melalui jalur yang sama,” kata Danny.

Memindahkan bangunan dari jalur gempa memang bukan perkara gampang, sebagaimana terjadi di Kotogadang. Jalur gempa 2007 telah membelah Masjid Besar Kotogadang dan merobohkan bangunan yang menjadi ikon kota itu. ”Kami termasuk yang memberi masukan agar masjid itu dipindahkan,” kata Danny.

Terjadi perdebatan keras sebelum akhirnya para tetua adat setuju memindahkan masjid itu menjauh dari garis retakan. Kini masjid berkubah hijau dan diapit dua menara itu berdiri sekitar 20 meter dari bangunan semula.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Kota Lama Padang – Puluhan perahu nelayan bersandar di Sungai Batang Arau, Kota Lama, Padang, Sumatera Barat, Kamis (16/2/2012). Pada masa penjajahan, kawasan tersebut menjadi pusat perdagangan di Kota Padang.

Namun, sekolah Madrasah Diniyah Awwaliyah, setingkat TK, yang ada di kompleks masjid dan juga hancur, dibangun kembali di lokasi yang sama: persis di atas jalur patahan. Padahal, sekolah seharusnya berada di lokasi paling aman gempa. ”Tak ada lahan lagi untuk memindahkan sekolah,” Syahrizal (43), Kepala Jorong Kotogadang, beralasan. ”Tak gampang memindahkannya, kami harus berembuk lagi dengan tetua yang sebagian merantau ke luar.”

Menurut Danny, pemerintah seharusnya membuat aturan yang melarang fasilitas umum dibangun di atas jalur patahan. ”Untuk rumah, mungkin susah dipindahkan, tetapi setidaknya mereka harus diberi tahu agar membangun dengan kekuatan lebih,” kata Danny.

Ketidaktahuan tentang risiko ini membuat Kepala Stasiun BMKG Kepahiang Dadang Permana kesulitan menemukan kembali jalur retakan gempa yang berada persis di belakang kantornya. ”Setelah gempa tahun 2000 dan 2007, di sini dulu ada jalur retakan memanjang,” kata Dadang menunjuk permukiman padat di Pasar Ujung, Kecamatan Kepahiang, Bengkulu. ”Rumah-rumah ini dulu rusak, tapi mereka membangun kembali di tempat yang sama.”

Menurut Danny, pemerintah seharusnya membuat aturan yang melarang fasilitas umum dibangun di atas jalur patahan.

Sesaat setelah gempa berkekuatan 7,9 skala Richter mengguncang Bengkulu pada 12 September 2007, Stasiun BMKG Kepahiang memetakan jalur retakan di kabupaten itu. Dadang menunjukkan foto-foto pascagempa yang menggambarkan retakan memanjang membelah jalan, perkampungan, dan persawahan di Kepahiang.

Namun, jejak gempa yang bisa menjadi petunjuk posisi jalur patahan itu kini telah menghilang. Tanah yang retak telah ditimbun. Rumah-rumah yang runtuh dipotong sesar kembali dibangun dan dihuni. Beberapa pemilik lama menjual rumahnya dan pindah ke lokasi lebih aman. Penghuni rumah baru tidak mengetahui risiko bahaya gempa yang mengancam tepat di bawah tempat tidur mereka. ”Harusnya pemerintah daerah menyampaikan hasil pemetaan kami itu ke warga agar mereka tidak membangun kembali di atas jalur gempa,” kata Dadang. ”Ironisnya, rumah dinas Bupati Kepahiang juga persis di depan garis patahan.”

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Rumah Tradisional Tahan Gempa – Rumah Gadang Istano Basa atau yang lebih dikenal dengan Istana Pagaruyung di Kecamatan Tanjung Emas, Batusangkar, Sumatera Barat, Selasa (28/4/2012). Rumah gadang menjadi salah satu konstruksi bangunan tradisional yang telah terbukti tahan terhadap goncangan gempa.

Siang itu, pertengahan Febuari 2012, beberapa pekerja sibuk bekerja memperbaiki plafon Kantor Bupati Kepahiang yang ambrol karena gempa berkekuatan 5,9 skala Richter yang mengguncang dua minggu sebelumnya. Gempa itu tak seberapa besar jika dibandingkan dengan gempa-gempa yang pernah terjadi di segmen ini, tetapi tetap saja menyebabkan banyak kerusakan.

Tanah di Kepahiang terlapisi endapan abu dari letusan Gunung Kaba ribuan tahun lalu sehingga walaupun diguncang gempa kecil, getarannya akan tinggi. Padahal, bangunan di kota ini rata-rata tidak dibangun tahan gempa.” kata Dadang.

(Agung Setyahadi/ Prasetya Eko P/ Ingki Rinaldi/ Ahmad Arif)