RENAH KEMUMU menjadi contoh bagaimana proses adaptasi masyarakat tradisional terhadap gempa selama ratusan tahun terancam oleh kehadiran proyek pemerintah yang asal-asalan. Desa yang berada di pedalaman Taman Nasional Kerinci Seblat ini dibelah oleh patahan Sumatera dan menjadi pusat gempa berkekuatan 7 skala Richter pada 2009 lalu.

Renah Kemumu merupakan kampung tua di Jambi, bahkan mungkin yang tertua. Arkeolog Tri Marhaeni mengatakan, penelitian tahun 2008 di sekitar situs megalitik Batu Laruh di Renah Kemumu menemukan batu obsidian, batuan vulkanik yang biasa dipakai masyarakat purba untuk memotong sayur, dan gerabah yang berumur 3.400 tahun. ”Itu gerabah tertua yang pernah ditemukan di Jambi,” katanya.

Untuk mencapai desa itu, kami harus berjalan kaki selama 10 jam dari Desa Lumpur Mudik, Sungai Penuh, Jambi. Perjalanan membelah hutan hujan tropis dan naik-turun bukit itu diiringi auman harimau sumatera, teriakan monyet, serta kepak sayap burung rangkong. Tapak-tapak kaki harimau yang tercetak di jalan setapak membuat kami berjalan beriringan dan selalu waspada.

RENAH KEMUMU menjadi contoh bagaimana proses adaptasi masyarakat tradisional terhadap gempa selama ratusan tahun terancam oleh kehadiran proyek pemerintah yang asal-asalan.

Semakin mendekati Desa Renah Kemumu, layar pesawat global positioning system (GPS) memberi tanda semakin dekat dengan garis patahan Sumatera. Sudah pukul 20.00, saat kami akhirnya tiba di tepi desa ini. Sinar lampu terlihat dari balik dedaunan yang bergoyang-goyang dibelai angin. Rumah-rumah panggung kayu muncul dari kegelapan, berdiri di dataran yang dikepung perbukitan. Nyaris tak ada jejak tersisa dari petaka gempa yang mengguncang kampung ini tiga tahun silam.

Rumah-rumah panggung berdinding kayu dengan tiang-tiang yang ditumpukan di atas batu sandi itulah yang menyelamatkan warga Renah Kemumu saat gempa mengguncang. Sebagian rumah memang rusak, tiangnya banyak yang patah atau lepas dari batu sandi. ”Tetapi, tidak ada korban jiwa. Semua selamat karena rumah kami bukan batu bata yang akan runtuh menimpa penghuninya,” ujar Ibnu Hajar (60), mantan Kepala Desa Renah Kemumu.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Rumah Kayu di Renah Kemumu – Dari balik jendela rumah kayu, seorang wanita lanjut usia berbincang dengan tetangga di depan rumahnya di Desa Renah Kumumu, Kecamatan Jengkat, Kabupaten Merangin, Jambi, Selasa (6/3/2012). Keberadaan rumah kayu di Renah Kemumu menjadi salah satu siasat masyarakat setempat untuk bertahan hidup di kawasan rawan bencana gempa.

Ibnu Hajar mengisahkan, pagi itu, 1 Oktober 2009, matahari baru saja merekah, mengusir kabut yang selalu membekap desanya. Gerimis turun. Ibnu duduk-duduk di kolong rumahnya sambil menikmati udara pagi. Dia mengobrol dengan tetangganya, Sunar. Obrolan ringan mengalir ditemani teh hangat.

Jarum jam baru menunjuk pukul 08.30 saat Ibnu dan Sunar merasakan getaran gempa. Awalnya mereka masih santai karena gempa-gempa kecil merupakan keseharian desa yang berada persis di atas patahan itu. Namun, pada pagi itu, gempa seperti mengocok bumi tanpa henti. Pusat gempa yang hanya 10 kilometer di kedalaman tanah membuat guncangannya terasa sangat keras. Ibnu tak sanggup berdiri. Tubuhnya lalu terlempar akibat guncangan naik-turun sangat kuat. Ibnu terguling-guling di tanah, lalu terkapar tanpa daya. Sunar pingsan di dekatnya.

Ibnu hanya bisa menyaksikan rumahnya meliuk-liuk diguncang gempa, seperti dahan-dahan pohon tertiup angin. Ketika tiang-tiang rumah itu patah, bangunan kayu di atasnya terlempar ke tanah.

Ibnu meraung panik, membayangkan nasib istrinya, Anibas (50), yang sedang sakit dan putrinya, Surni (30). Keduanya masih di dalam rumah saat gempa mengguncang. Ajaib, Anibas tak cedera sedikitpun meski rumah itu ambruk tiangnya, demikian juga Surni.

”Ucapan orangtua kami terbukti, rumah kayu lebih aman dibandingkan rumah semen. Rumah tidak hancur walaupun tiangnya patah. Kalau tembok pasti sudah hancur, seperti balai desa yang rata dengan tanah,” ujar Ibnu.

Saat gempa mengguncang, rumah panggung kayu itu seperti biduk yang diayun gelombang. Sekalipun melambung dan berderak-derak, penumpang di dalamnya tetap selamat. Sebanyak 70 rumah rusak karena bangunannya bergeser dari tiang, tetapi tak ada satu pun korban tewas tertimpa bangunan.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Rumah Kayu di Renah Kemumu – Deretan rumah kayu di Desa Renah Kumumu, Kecamatan Jengkat, Kabupaten Merangin, Jambi, Selasa (6/3). Keberadaan rumah kayu di Renah Kemumu menjadi salah satu siasat masyarakat setempat untuk bertahan hidup di kawasan rawan bencana gempa.

Peristiwa itu direkam warga Renah Kemumu dan dimasukkan dalam aturan adat tentang pembangunan rumah. Aturan itu di antaranya, sudut-sudut rumah harus diperkuat dan tiang rumah panggung harus menggunakan kayu kualitas baik dengan ukuran besar. Aturan itu memang tidak melarang pembangunan rumah tembok, tetapi secara tidak langsung mendorong rumah dibangun dari kayu agar tahan gempa.

Bagi kebanyakan warga Renah Kemumu, gempa besar pada 2009 itu merupakan yang pertama kali mereka alami. Namun, sebelum petaka terjadi, warga sudah menyadari bahwa desa mereka berada di zona bahaya gempa. Kesadaran itu muncul karena orangtua mereka kerap mengisahkan tentang gempa besar di masa lalu.

Salah satu cerita gempa yang sangat populer di kalangan masyarakat Renah Kemumu adalah tentang gempa besar pada masa lalu yang terjadi selama seminggu berturut-turut. ”Ayah saya, Mak Kelam, sering bercerita tentang gempa yang terjadi selama tujuh hari tak henti,” ujar Sina (80), salah satu warga tertua di Renah Kemumu.

Ucapan orangtua kami terbukti, rumah kayu lebih aman dibandingkan rumah semen.

Gempa itu digambarkan sedemikian kuat hingga meruntuhkan bukit-bukit. Dikisahkan, guncangan gempa terjadi tiap saat sehingga warga tidak bisa memasak di dalam rumah. Rumah-rumah panggung itu terus menari-nari, mengikuti guncangan gempa. ”Mereka terpaksa memasak di tanah, di halaman rumah,” kata Sina.

Nenek yang suami pertamanya tewas diterkam harimau 60 tahun lalu itu juga masih ingat petuah ayahnya agar segera lari ke tempat terbuka jika gempa mengguncang. Itulah sebabnya rumah-rumah di Renah Kemumu disusun berjajar menghadap ruang terbuka yang luas.

Saat gempa tahun 2009, warga Renah Kemumu juga menggunakan ruang terbuka itu sebagai tempat pengungsian. Mereka mendirikan tenda terpal dan tinggal di sana selama sebulan hingga rumah-rumah selesai diperbaiki.

Saat itu, bantuan yang datang sangat minim. ”Bantuannya kesasar entah kemana. Desa kami susah dijangkau,” kata Asben (30), guru sekolah dasar (SD) di Renah Kemumu. ”Ada bantuan terpal dan tenda, tetapi ditinggal di Desa Lempur. Warga harus berjalan kaki mengambil bantuan itu.”

Warga akhirnya bahu-membahu memperbaiki sendiri rumah-rumah yang rusak. ”Bergantian kami memperbaiki rumah secara gotong-royong,” kata Asben. ”Warga yang tak memiliki papan atau kayu dipinjami oleh yang punya persediaan. Kami saling bantu.”

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Siluet Gunung Kerinci di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dilihat dari Simpang Tugu Macan, Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kerinci, Jambi, Sabtu (3/3/2012).

Warga Renah Kemumu membangun kembali rumah panggung, sebagaimana yang pernah dicontohkan para leluhur mereka. Tidak satu pun warga yang mengubah rumahnya menjadi tembok. Mereka yakin, bangunan kayu lebih aman menghadapi gempa yang kerap mengguncang kampung itu. ”Dari dulu rumah di sini panggung seperti ini. Bentuknya sama saja. Tiang ditaruh di atas batu. Hanya atapnya yang berubah, kalau dulu kayu atau ijuk, sekarang ganti seng,” ujar Sina.

Konstruksi rumah panggung kayu itu merupakan salah satu wujud proses adaptasi warga Renah Kemumu terhadap gempa. Demikian halnya, gotong-royong menjadi modal sosial yang membuat warga di sana selalu bisa bangkit dari kehancuran akibat gempa.

Maka, tak heran jika banyak warga Renah Kemumu yang mempertanyakan proyek pembangunan gedung sekolah menengah pertama (SMP). Gedung sekolah yang dibangun setelah gempa 2009 itu menggunakan batu bata. ”Gedung ini dibangun kontraktor. Tukangnya dari luar semua,” kisah Asben.

Gedung SMP itu berada satu kompleks dengan bangunan SD yang tetap dipertahankan dari kayu dan berdinding papan. Beberapa tiang SD itu rusak akibat gempa 2009, tetapi tidak sampai merobohkan bangunannya. ”Tidak ada siswa ataupun guru di dalam kelas yang luka,” kata Asben.

Demikian halnya, gotong-royong menjadi modal sosial yang membuat warga di sana selalu bisa bangkit dari kehancuran akibat gempa.

Menurut Ibnu, warga sudah memberi masukan ke kontraktor bahwa daerah mereka rawan gempa sehingga sebaiknya menggunakan bangunan kayu dan batu sandi sebagaimana bangunan SD. ”Tetapi, yang dibangun tetap saja gedung tembok. Mereka tak mendengarkan kami,” keluh Ibnu.

Padahal, menurut Ibnu, di sekitar Renah Kemumu tersedia pokok pohon kualitas terbaik untuk bangunan. Kayu itu bisa diambil di kebun dan hutan adat. ”Lebih murah dibandingkan membawa semen dan batu bata dari luar daerah yang biayanya pasti mahal sekali.”

Warga Renah Kemumu khawatir, gempa besar akan merobohkan bangunan SMP itu dan membuat celaka siswa dan para guru. ”Bangunan bata seperti itu bisa prei (ambruk) jika ada gempa besar.” Ketakutan Ibnu sangat beralasan. ”Balai desa kami yang dibangun dari tembok hancur saat gempa 2009.”

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Rumah Kayu di Renah Kemumu – Dari balik jendela rumah kayu, seorang wanita lanjut usia berbincang dengan tetangga di depan rumahnya di Desa Renah Kumumu, Kecamatan Jengkat, Kabupaten Merangin, Jambi, Selasa (6/3/2012). Keberadaan rumah kayu di Renah Kemumu menjadi salah satu siasat masyarakat setempat untuk bertahan hidup di kawasan rawan bencana gempa.

Masalahnya memang bukan sekadar kayu atau tembok. Tetapi, belajar dari sederet gempa yang telah terjadi, sebagian besar bangunan yang runtuh adalah tembok. Rumah kayu panggung dengan fondasi umpak dan sambungan pasak merupakan produk adaptasi ratusan tahun yang terus diwariskan. Tiap tukang tahu bagaimana membangun rumah kayu yang baik. Sementara bangunan tembok dicangkok dari luar dan belum disiapkan menghadapi konteks lokal. Banyak tukang tidak tahu bagaimana membangun rumah tembok tahan gempa.

Diperlukan perlakuan khusus untuk membangun rumah tembok tahan gempa. Walaupun sangat kuat terhadap gaya tekan, batu bata dan beton sangat lemah terhadap guncangan atau tarikan yang diakibatkan gempa. Diperlukan besi yang bisa menahan gaya tarik itu. Kombinasi beton dan besi biasa atau disebut beton bertulang menjadi syarat utama untuk bangunan tembok tahan gempa.

Selain itu, batu bata yang dipakai minimal harus berkekuatan 30 kilogram per cm² dan besi untuk tulangan minimal berdiameter 10 mm. Antar-komponen bangunan juga harus dibuat saling terkait agar tidak mudah terlepas saat gempa. Untuk bangunan tembok harus ada angkur-angkur dari besi sebagai pengait antarkomponen, seperti antara fondasi dengan tiang dan tiang dengan dinding.

Rumah kayu panggung dengan fondasi umpak dan sambungan pasak merupakan produk adaptasi ratusan tahun yang terus diwariskan.

Namun, sederet pengetahuan dasar ini kerap tidak sampai ke masyarakat yang kebanyakan membuat sendiri rumahnya dengan bantuan tukang-tukang lokal. Bahkan, beberapa bangunan proyek sengaja mengabaikan standar itu untuk mengejar keuntungan. Padahal, sebagaimana disebutkan dalam SNI 2002, pembangunan gedung tahan gempa harus dilaksanakan dengan kontrol kualitas ketat.

Jika sudah begini, gempa bumi dengan kekuatan yang mungkin membunuh lusinan orang Sumatera di masa lalu, bisa membunuh ribuan orang. Selain karena padatnya penduduk yang tinggal di zona patahan, juga karena rumah-rumah yang dibangun dengan teknik tahan gempa telah ditinggalkan. Rakyat lupa, pemerintah tutup mata, bahkan turut menumpulkan kemampuan warga untuk beradaptasi terhadap gempa.

(Ahmad Arif/ Agung Setyahadi/ Prasetya Eko P/ Ingki Rinaldi/ Wawan H Prabowo/ Rustiono/ Andri)