BANGUNAN tahan gempa sebenarnya sudah dikenal masyarakat tradisional Sumatera. Nenek moyang mereka yang telah hidup ribuan tahun di zona patahan ini mewariskan teknik adaptasi berhuni dalam bentuk rumah-rumah tahan gempa.

Walaupun bentuknya beragam, rumah di sepanjang zona Patahan Sumatera memiliki kesamaan teknik konstruksi: rumah panggung berbahan kayu dengan tiang utama ditumpukan di atas batu, sambungan direkatkan dengan pasak atau ikatan, dan atap ringan sejenis ijuk. Intinya, struktur bangunan dibuat lentur sehingga mampu meredam guncangan vertikal dan gaya horizontal gempa.

Konstruksi ini, utamanya penggunaan batu sandi, agaknya sengaja didesain untuk merespons gempa. Kesengajaan ini terlihat dari perbedaan detail bangunan rumah tradisional di Sumatera Selatan. Meski sama-sama rumah kayu berbentuk panggung, rumah-rumah di sepanjang aliran Sungai Musi di Palembang yang berawa-rawa, tiang-tiangnya biasanya ditanam di dalam tanah dan tidak ditumpukan di atas batu. Bahkan, di aliran sungai Musi, masyarakat tradisional mengembangkan rumah rakit yang bisa mengapung di air. Sementara rumah tradisional Sumatera Selatan di sekitar Lahat dan Dempo yang berada di jalur patahan tiang-tiangnya ditumpukan di atas batu sandi.

Intinya, struktur bangunan dibuat lentur sehingga mampu meredam guncangan vertikal dan gaya horizontal gempa.

Perbedaan detail konstruksi rumah panggung di Sumatera Selatan ini membuktikan bahwa rumah masyarakat kebanyakan pada masa lalu atau sering disebut dalam istilah arsitektur sebagai rumah vernakuler merupakan respons lokal terhadap kondisi alam. Sebagaimana diterangkan Amos Rapoport dalam bukunya, House, Form and Culture (1969), rumah vernakuler selalu merespons lingkungan dan merespons sumber daya lokal serta terbuka untuk berubah agar bisa bertahan. Model rumah ini berbeda dengan prinsip berhuni masyarakat modern yang cenderung bergaya seragam dan abai terhadap konteks lokal.

William Marsden (1783) menyebutkan, pembangunan rumah panggung dari kayu di Sumatera bukanlah semata-mata untuk menghindar dari gangguan binatang buas, tetapi, ”Alasan kuat mengapa rumah-rumah memakai material kayu karena seringnya terjadi gempa bumi di wilayah ini.”

Saat itu, teknologi batu bata sudah mulai dikenalkan Belanda di Sumatera. Namun, kebanyakan warga tak mau menggunakannya. Marsden menyebutkan, ”Bangunan (kayu) di Sumatera tahan gempa, penduduk hanya sedikit merasakan bahaya.”

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Rumah Tradisional Tahan Gempa – Rumah Gadang yang masih dipertahankan di Jorong Kubu Rajo, Kanagarian Limo Kaum, Kecamatan Limo Kaum, Tanah Datar, Sumatera Barat, Minggu (19/2/2012). Rumah gadang menjadi salah satu konstruksi bangunan tradisional yang telah terbukti tahan terhadap goncangan gempa.

Kesadaran tentang ketidakcocokan rumah tembok juga digambarkan Muhamad Radjab dalam buku autobiografinya, Semasa Kecil di Kampung, 1913-1928 terbitan Balai Pustaka tahun 1974. Dalam buku ini, dia menggambarkan tentang gempa yang dialaminya pada 28 Juni 1926.

”Orangtua mengatakan kepada kami, bila gempa jangan bersembunyi di rumah, tetapi harus berlari ke lapangan supaya jangan ada yang menimpa dan mengimpit,” tulis Radjab. ”Barulah kami insaf. Tadi kami tidak tahu karena belum ada pengalaman. Untunglah surau kecil bukan dari batu.”

Radjab juga menyebutkan, sebagian warga pada waktu itu mulai beralih ke tembok dan para penghuninya banyak yang celaka. ”Rumah bata semuanya roboh oleh gempa. Beratus-ratus orang mati tertimbun,” tulis Radjab.

Catatan Marsden dan Radjab menegaskan, masyarakat Sumatera sejak dulu sadar terhadap ancaman gempa dan mereka meresponsnya dengan bangunan tahan gempa. Jejak adaptasi itu masih bisa dilihat dari rumah-rumah tradisional Saibatin di Desa Sebarus, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat.

Rumah kayu ini berbentuk panggung dengan panjang sekitar 20 meter dan lebar 9 meter. Terdiri atas tiga kamar, beranda depan, ruang tamu, ruang keluarga, tempat makan atau dapur, dan ruang tambahan di belakang rumah.

Untuk bahan tiang utama, warga menggunakan kayu tenam (Anisoptera costata korth) yang disebut juga sebagai kayu mersawa, yaitu kayu kualitas terbaik di kawasan ini. Tulang dan rangka utama terbuat dari kayu utuh tanpa sambungan. Tidak ada paku, kecuali untuk memasang engsel pintu atau jendela. Persambungan antarkayu dibuat dengan pengait dan pasak kayu. Rangka plafon dibuat dari bambu dan ijuk.

Semua rumah tembok roboh. Kalau rumah panggung dari kayu paling parah terduduk (patah tiangnya).

Mengalami dua kali gempa besar, yaitu tahun 1933 dan 1994, rumah adat ini masih tegak berdiri, sementara banyak rumah-rumah tembok yang lebih baru malah roboh. Dari penuturan warga di sepanjang daerah yang pernah diguncang gempa, rumah-rumah panggung dari kayu yang dibangun dengan teknik konstruksi tradisional lebih mampu menghadapi gempa dibandingkan rumah tembok.

”Semua rumah tembok roboh. Kalau rumah panggung dari kayu paling parah terduduk (patah tiangnya),” kata Jauhari (64), warga Sebarus, mengisahkan dampak gempa yang mengguncang kampungnya tahun 1994. Walaupun tiang-tiang rumah kayu ini roboh, bangunan di atasnya tetap utuh sehingga penghuninya tetap aman. Berbeda dengan rumah tembok yang jika roboh mengubur penghuninya.

”Kami hanya perlu mendongkrak rumah-rumah (panggung) ini untuk memperbaikinya dan mengembalikan rumah ke tiangnya cukup memakai dongkrak mobil,” ujar Zamzami, warga Sebarus lainnya.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Zona Patahan Kotogadang – Warga melintas di jalan yang mendekati jalur gempa di depan rumah gadang yang menjadi Balai Adat Jorong Kotogadang, Kenagarian Kotogadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Minggu (19/2). Selain membuat rumah dengan konstruksi tahan gempa, dampak kerusakan gempa bisa dikurangi dengan memperhitungkan keberadaan jalur gempa.

Ketangguhan menghadapi guncangan gempa juga dipertontonkan rumah-rumah gadang atau rumah besar di Sumatera Barat. ”Rumah gadang adalah contoh bangunan tahan gempa,” kata dosen Arsitektur Universitas Bung Hatta, Padang, Eko Alvares.

Selama bertahun-tahun, Eko meneliti dan mendokumentasikan rumah-rumah gadang di Sumatera Barat. ”Rumah-rumah ini telah berusia ratusan tahun dan terbukti bertahan terhadap beberapa kali gempa yang melanda Sumbar,” katanya.

Menurut dia, kunci kekuatan rumah gadang terhadap gempa adalah pada tiang-tiang utama dari kayu yang diletakkan di atas umpak batu. Tiang rumah ini bukan disusun tegak lurus, tetapi sengaja dibuat miring dengan sudut semakin mengecil ke bawah dan jika ditarik lurus akan bertemu di satu titik di dalam bumi. Konstruksi ini menciptakan badan rumah gadang berbentuk segi empat yang membesar ke atas berbentuk trapesium terbalik. Tiang-tiang rumah yang sengaja di buat miring itu menjamin kekokohan rumah.

Sementara teknik pasak pada sambungan (tanpa paku) juga membuat struktur rumah tidak patah ketika terjadi gempa karena teknik sambungan ini memungkinkan balok-balok penyangga berputar seperti engsel. Dinding rumah dibuat dari papan kayu atau bambu yang relatif ringan dan lentur sehingga rumah tidak retak atau runtuh akibat guncangan.

Namun, rumah-rumah tradisional berusia ratusan tahun dan telah bertahan menghadapi beberapa kali guncangan gempa itu semakin ditinggalkan. ”Rumah gadang terus berkurang jumlahnya. Tak ada rumah gadang baru yang dibuat, sementara rumah lama roboh karena usia,” keluh Eko.

Hilangnya rumah gadang berarti hilang juga bukti penting kemampuan adaptasi masyarakat yang berhuni di zona rawan gempa ini. ”Kami tak sanggup lagi merenovasi rumah ini,” keluh Roswenidar (56), pewaris rumah gadang di Jorong Nagari, Kanagarian Sumpur, Kabupaten Tanahdatar. Harga kayu kualitas baik sangat mahal. Sebilah papan saat ini mencapai Rp 50.000 dan kayu 4 meter Rp 80.000.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Rumah Tradisional Tahan Gempa – Deretan Rumah Gadang di Jorong Baruh Bukit, Nagari Andaleh Baruh Bukit, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Minggu (19/2/2012). Rumah gadang menjadi salah satu konstruksi bangunan tradisional yang telah terbukti tahan terhadap goncangan gempa.

Walaupun terlihat kokoh dari luar, dengan cat warna-warni mencolok, rumah gadang milik keluarga Roswenidar itu telah melapuk. Keluarga Roswenidar pun memilih tinggal di rumah tembok di Padangpanjang. ”Membuat rumah kayu sekarang sulit. Perawatannya juga mahal,” katanya.

Keengganan sebagian besar masyarakat untuk membangun kembali rumah-rumah itu kebanyakan memang disebabkan semakin sulitnya memperoleh bahan baku kayu bermutu. Akan tetapi, tak kalah berperan adalah perubahan gaya hidup yang menempatkan rumah tembok seolah lebih tinggi derajatnya dibandingkan rumah kayu. Rumah tembok adalah simbol keberhasilan.

”Rumah bata lebih bergengsi, itu tandanya kita sudah maju,” kata Syahril, Sekretaris Desa Arah Tiga, Kecamatan Lubuk Pinang, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Pascagempa 2007, banyak warga yang rumah temboknya roboh atau rusak kembali membangun rumah kayu. ”Tetapi, lambat laun kembali lagi ke rumah tembok,” katanya.

Bahkan, Syahril pun kini ikut-ikutan membangun rumah tembok. ”Rumah saya dulu rumah papan, tidak rusak waktu gempa. Sekarang sudah saya ganti dengan rumah tembok,” katanya.

Rumah Bidai

MASYARAKAT di Sumbar dan Bengkulu memiliki cara cerdik untuk menjembatani kesenjangan budaya antara rumah kayu dan tembok ini dengan mendesain rumah bidai berlapis semen.

Sekilas, rumah berdinding bidai sama dengan rumah tembok berbahan batu bata. Namun, berbeda dengan bangunan tembok biasa, dinding rumah bidai ini dibuat dari anyaman bambu yang diikat dengan kawat lalu dilapisi adukan semen dan pasir. Kombinasi bambu dan kawat di dalam plester semen ini membentuk bidang dinding yang menyerupai beton, tetapi lebih ringan dan liat.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Deretan rumah bidai warga Desa Daspetah, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang, Propinsi Bengkulu, Senin (13/2/2012). Kearifan lokal masyarakat Bengkulu dalam membangun rumah bidai yang terbuat dari bambu ternyata bisa menjadi hunian alternatif tahan gempa untuk mengurangi risiko bencana.

Sifatnya yang ringan dan lentur inilah yang membuat rumah bidai lebih tahan gempa. Ujang Samsuri (62), warga Desa Daspetah, Kepahiang, menjadi saksi kekuatan rumah bidai warisan keluarganya. Rumah bidai yang dibangun pada 12 Desember 1965 itu telah melewati serangkaian gempa kuat, yaitu tahun 1979, 1997, 2000, 2007, hingga 2009.

Ketika banyak rumah tembok di sekelilingnya roboh akibat gempa, rumah dua lantai yang ditinggali Ujang dan istrinya itu masih berdiri tegak. ”Hanya lapisan semen luarnya yang sedikit mengelupas,” katanya.

Selain dinding bidai, kekuatan rumah Ujang agaknya juga ditopang oleh tiang-tiang kayu yang ditumpukan di atas umpak batu. Tiang kayu ini sekaligus menjadi pengikat kawat yang menjadi tulangan dinding bidai.

”Setiap gempa, saya tidak pernah keluar rumah karena saya yakin rumah bidai ini aman. Memang ada suara krak, krak, krak saat gempa, tetapi itu hanya gesekan kayu yang diguncang gempa,” ujar Ujang Samsuri, membanggakan rumahnya. ”Orangtua kami dulu selalu mengatakan, rumah bata tidak cocok di sini. Bata hanya elok bentuknya.”

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumbar Ade Edward mengatakan, rumah bidai merupakan evolusi arsitektur rumah tradisional Sumbar yang menggunakan sasak bugih atau anyaman bambu. Setelah PT Semen Padang beroperasi tahun 1910-an, warga kemudian mengenal semen dan memadukannya dengan sasak bugih itu.

”Masyarakat melapisi dinding bambu dengan semen agar rumah mereka terlihat seperti tembok. Untuk memperkuat agar semen tak rontok, mereka memberi kawat di antara anyaman bambu,” kata Ade. ”Desain bangunan rumah itu dibawa para tukang hingga ke Bengkulu yang kemudian dikenal dengan rumah bidai.”

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Rumah bidai milik warga di Desa Daspetah, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang, Propinsi Bengkulu, Senin (13/2/2012). Kearifan lokal masyarakat Bengkulu dalam membangun rumah bidai yang terbuat dari bambu ternyata bisa menjadi hunian alternatif tahan gempa untuk mengurangi risiko bencana.

Namun, rumah bidai, temuan lokal yang cerdas dan telah teruji menahan gempuran gempa, ternyata semakin ditinggalkan. ”Anak-anak saya maunya membangun rumah bata. Susah memberi tahu mereka. Rumah bidai dianggap ketinggalan zaman,” ujar Ujang.

Gairah untuk meninggalkan rumah-rumah berteknologi tahan gempa ini juga menyebar ke seluruh zona patahan Sumatera. Rumah adat Batak dan Karo di Sumatera Utara (Sumut) yang juga dibangun dengan teknik tahan gempa hanya tinggal segelintir di beberapa desa. Rumoh Aceh yang tahan gempa juga nyaris punah, sebagaimana rumah panggung kejang lako di Jambi.

Kebanyakan warga di Sumatera, terutama yang tinggal di kota, mengganti rumah mereka dengan rumah tembok batu bata yang abai terhadap prinsip aman gempa. Meski pemerintah telah menerbitkan Standar Nasional Indonesia (SNI) bangunan tahan gempa sejak 2002, aturan itu tak membumi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkulu Selatan Herman Sunarya mengatakan, pemberian izin mendirikan bangunan (IMB) semestinya bisa disatukan dengan mitigasi bencana gempa. Bangunan yang mendapat IMB hanya jika memenuhi kaidah tahan gempa sesuai SNI. ”Konsepnya sudah ada, tetapi belum ditindaklanjuti dalam peraturan yang mengikat,” kata Herman.

Salah satu rumah adat Karo yang masih tersisa di Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Selasa (19/7/2011). Dalam satu rumah adat ini biasanya tinggal beberapa keluarga.

Mitigasi bencana berhenti di konsep. Bahkan, peta risiko bencana yang seharusnya jadi dasar tata ruang peduli bencana pun tak luput dari masalah. Ade Edward menyebutkan, peta risiko bencana di daerahnya banyak yang keliru.

”Daerah perbukitan di peta itu disebutkan sebagai daerah rawan banjir. Ini kan ngawur. Saya curiga yang membuat peta tidak survei ke lapangan. Pembuatan peta ini ditenderkan dan dikerjakan secara nasional,” kata Ade sambil menunjukkan peta itu. ”Saya akan meminta peta ini diperbaiki karena ini harusnya jadi acuan kebijakan.”

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, peta risiko bencana itu pasti direvisi. ”Saat ini dilakukan pemetaan lebih detail untuk Sumbar dan kemungkinan baru selesai Mei 2012,” katanya.

Saat warga semakin melupakan siasat nenek moyang mereka menghadapi gempa, pemerintah pun turut menghancurkan daya adaptif itu melalui proyek-proyek yang dikerjakan secara gegabah.

(AGUNG SETYAHADI/ PRASETYA EKO P/ AHMAD ARIF/ INGKI RINALDI)