KOMPAS/DAHONO FITRIANTO

I Gusti Putu Ngurah Sedana.

Pelayaran Kapal Borobudur

I Gusti Putu Ngurah Sedana: Hidup Adalah Sebuah Pelayaran

·sekitar 5 menit baca

I Gusti Putu Ngurah Sedana

HIDUP ADALAH SEBUAH PELAYARAN

TANGGAL 15 Agustus 2003, Kapal Borobudur memulai pelayaran bersejarah menyeberangi Samudra Hindia menuju Accra, ibu kota Ghana, di pesisir barat Benua Afrika. Kapal yang dibuat berdasarkan relief Candi Borobudur itu adalah replika kapal tradisional asli bangsa Indonesia abad ke-9 dan akan menempuh rute yang diduga kuat dulu pernah dilewati nenek moyang kita untuk berdagang kayu manis hingga ke Afrika, yang dikenal sebagai Rute Kayumanis, The Cinnamon Route.

Kapten Laut I Gusti Putu Ngurah Sedana, seorang perwira Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) TNI Angkatan Laut, adalah orang yang dipercaya mengemban misi memimpin Samudraraksa, nama resmi Kapal Borobudur yang diberikan Presiden Megawati Soekarnoputri.

“Samudraraksa memiliki makna kapal ini akan menjadi penjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan RI,” ucap Kapten Putu. Pria kelahiran Singaraja, Bali, 8 September 1970, ini sebelumnya sama sekali tidak menyangka akan terpilih sebagai pelaksana misi yang penuh bahaya ini.

Perjalanannya menjadi kapten Kapal Borobudur dimulai awal Juni lalu ketika hendak menikmati hobi berlayar di Pantai Marina, Ancol, Jakarta Utara. Di tempat itu kebetulan Putu bertemu Koordinator Asosiasi Pelatihan Layar Indonesia (APLI) Kolonel (L) Subiyanto. “Saya ditanya, mau enggak bawa kapal layar ke Madagaskar. Saya langsung jawab, mau,” kata Putu.

Saat itu anak pasangan I Gusti Ketut Siem dan Ni Nyoman Sariani tersebut sama sekali belum memiliki gambaran, seperti apakah kapal layar yang akan ia naiki dan apa tujuan perjalanan menuju Madagaskar. Semua baru jelas setelah ia diajak melihat Kapal Borobudur yang waktu itu masih dalam proses pengerjaan di Pulau Kangean di utara Bali, yang masih masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

“Pertama kali saya lihat kapalnya, saya kaget juga. Ukurannya kecil. Seluruhnya dibuat dari kayu dan dibuat secara sangat tradisional,” ujarnya. Putu yang sudah sangat berpengalaman dengan kapal layar tipe apa pun saat itu bahkan tidak tahu bagaimana mengoperasikan layar kapal yang sangat tradisional itu.

Ia membutuhkan waktu satu bulan untuk belajar melayarkan Kapal Borobudur dengan pelaut setempat, sampai ia benar-benar bisa menaikkan dan melipat layarnya, serta yakin dapat melayarkannya di laut lepas.

Di sana Putu juga dipertemukan dengan penggagas sekaligus pemimpin Ekspedisi Kapal Borobudur: Indonesia to Africa 2003, Philip Beale dari Inggris, dan perancang kapal tersebut, Nick Burningham dari Fremantle, Australia.

Setelah berbincang dan Putu menceritakan pengalamannya berlayar, Beale dan Burningham akhirnya setuju Putu menjadi kapten kapal. Secara kebetulan pula, di tempat itu ia bertemu Alan Campbell, pelaut senior dari Tasmania, yang pernah berkompetisi dengannya dalam perlombaan kapal layar di Australia beberapa tahun lalu.

“Saya waktu itu jadi juara umum sehingga Alan sangat percaya kepada saya dan turut merekomendasikan saya menjadi kapten Kapal Borobudur,” tutur Putu yang masih aktif menjabat sebagai Perwira Staf Operasi Detasemen Markas Kolinlamil TNI AL.

Akhir Juni, Putu Sedana mendapat surat perintah resmi dari Kepala Staf TNI AL Laksamana Bernard Kent Sondakh untuk memimpin pelayaran Kapal Borobudur.

***

MESKIPUN mengaku baru mengenal dunia pelayaran pada saat masih menjadi taruna tingkat pertama di Akademi Angkatan Laut (AAL) Surabaya tahun 1991, kemampuan Putu dalam mengarungi samudra sudah sangat teruji.

Tahun 1996 ia merasakan keliling dunia pertama kali di atas Kapal Republik Indonesia (KRI) Arung Samudera, tiga tahun setelah lulus dari AAL. Sebagai perwira layar di kapal layar tiang tinggi milik TNI AL itu, Putu mengarungi perjalanan selama 14 bulan memutari bola Bumi. Dia mendapat kenaikan pangkat dari letnan dua menjadi letnan satu di tengah perjalanan, saat KRI Arung Samudera tiba di Spanyol.

Dua tahun kemudian, Putu mencatat prestasi pertamanya dalam lomba kapal layar tingkat dunia saat mengikuti Sidney-Hobart Race 1998. Masih menggunakan KRI Arung Samudera dan ia bertindak sebagai navigator, tim Indonesia menjadi juara umum mengalahkan puluhan peserta dari 24 negara lain. Di situlah Putu bertemu Alan Campbell.

Setelah itu, Putu berturut-turut ikut memenangi gelar juara kedua lomba layar Raja Muda Cup di Malaysia pada Oktober 1999 menggunakan Kapal Angkatan Laut (KAL) Arung Samudera I; kemudian juara III KingÆs Cup di Thailand pada Desember 1999, juga dengan KAL Arung Samudera I; dan terakhir merebut juara III Singapore Strait Regatta 2000 di Singapura dengan menggunakan KAL Arung Samudera II.

Dalam ketiga perlombaan itu, Putu menjadi nakhoda. Saat berlomba di Raja Muda Cup di Langkawi, Malaysia, ia kembali mendapatkan kenaikan pangkat dari letnan satu menjadi kapten.

***

PUTU mengaku sama sekali tidak mengerti dunia maritim sebelum masuk ke AAL. Sejak kecil hingga lulus sekolah menengah atas, ia tinggal di daerah pegunungan yang jauh dari pantai dan laut. Ia bahkan mengaku bukan seseorang yang menyenangi kegiatan petualangan, seperti mendaki gunung atau berkemah.

Masuk AAL pun bagaikan berkah terselubung yang diperoleh Putu. Keinginannya semula adalah mendaftar menjadi prajurit TNI Angkatan Darat. Namun, justru di AL dia menemukan jalan hidup dan cinta sejatinya, yaitu laut dan kapal layar.

Saat ini, bagi Putu, berlayar adalah hidupnya, dan hidup baginya adalah pelayaran yang harus diarungi. “Kepala saya pusing dan langsung masuk angin kalau lama tidak berlayar,” ungkapnya.

Pria yang tinggal di Surabaya itu akan segera meninggalkan keluarganya untuk memimpin 12 awak kapal berlayar menuju Ghana, dengan rute Jakarta-Seychelles-Madagaskar-Cape Town-Accra. Putu dikaruniai tiga anak dari pernikahannya dengan Diah Sri Wahyuni Purnamasari (30), yaitu Gusti Ayu Genova Arsadena (7), Gusti Ayu Nadeva Evilia (4), dan Gusti Bagus Denata Narawangsa (2).

Pada perjalanan etape pertama Jakarta-Seychelles, Kapal Samudraraksa akan diawaki enam warga negara Indonesia dan tujuh lainnya dari Inggris, Australia, Selandia Baru, serta Swedia.

Putu mengatakan, saat ini yang ada dalam kepalanya hanyalah berkonsentrasi penuh untuk membawa kapal selamat sampai tujuan. Sebagai manusia biasa, ia mengaku hatinya makin berdebar-debar seiring dengan semakin dekatnya waktu keberangkatan. “Tetapi, saya telanjur berangkat dan saya optimistis kami akan berhasil sampai ke tujuan,” ujarnya tegas.

Menurut dia, perjalanan ini lebih dari sekadar perjalanan petualangan biasa. Jika pelayaran ini berhasil sampai di tujuan dengan selamat, hal itu akan benar-benar membuktikan ketangguhan dan kejayaan nenek moyang bangsa Indonesia masa lalu.

“Apabila nenek moyang kita dulu berhasil melakukan perjalanan ini, mengapa kita yang hidup di zaman lebih modern tidak meneruskan kejayaan mereka? Menurut saya, sudah saatnya generasi muda Indonesia saat ini kembali lagi mencintai laut, karena negara kita adalah negara bahari,” kata Putu. (DAHONO FITRIANTO)

Artikel Lainnya