Kompas/Amir Sodikin

Penyembuhan balian hingga kini masih menjadi alternatif utama bagi warga di pedalaman Kalimantan seperti di Desa Tumbang Topus, Kecamatan Sumber Barito, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, ini. Ketiadaan infrastruktur kesehatan membuat warga mencari sendiri bentuk penyembuhan yang sesuai.

Ekspedisi Lintas Barito-Muller-Mahakam 2

Ritual Balian Masih Jadi Alternatif Penyembuhan

·sekitar 3 menit baca

RITUAL BALIAN MASIH JADI ALTERNATIF PENYEMBUHAN

Pelayanan Kesehatan di Pedalaman Belum Merata

Sendawar, Kompas

Ritual magis balian untuk meminta penyembuhan bagi anggota keluarga yang sakit hingga kini masih menjadi alternatif utama di kampung-kampung pedalaman hulu Sungai Barito, Kalimantan Tengah, dan hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Faktor utama masih eksisnya balian adalah karena infrastruktur pelayanan kesehatan yang seharusnya disediakan oleh negara hingga kini belum merata ke pelosok pedalaman.

Tim Ekspedisi Lintas Barito- Muller-Mahakam menyempatkan diri melihat ritual pengobatan di Desa Tumbang Topus, Kecamatan Sumber Barito, Kabupaten Murung Raya, Kalteng, dan di Kampung Papas Eheng, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kaltim, akhir pekan lalu.

Ritual penyembuhan di Tumbang Topus dipimpin seorang perempuan basie (sebutan pemimpin ritual Dayak Siang Murung) dan di Papas Eheng dipimpin para balian (sebutan pemimpin ritual Dayak Benuaq) laki-laki dan perempuan.

Zaelani (25), warga Tumbang Topus yang istrinya sakit asma, mengatakan, pengobatan basie merupakan pilihan utama untuk penyembuh karena tak ada puskesmas dan petugas kesehatan. “0bat-obatan di warung juga tak tersedia,” katanya.

Jarak ke puskesmas terdekat hanya bisa ditempuh melalui sungai selama tiga hari dengan biaya bisa mencapai Rp 2 juta pergi pulang. Perjalanan sungai pun tak berani dilakukan pada musim hujan seperti sekarang karena perahu bisa menabrak kayu yang hanyut di sungai.

Ritual pengobatan basie diselenggarakan lima malam berturut- turut. Setiap malam, melalui perantara basie, enam perempuan roh leluhur hadir untuk mengobati istri Zaelani. Perangkat yang digunakan adalah benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib, seperti batu, bulu burung enggang, dan berbagai jenis sesaji.

Antropolog dari Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis Marko Mahin yang menyertai tim ekspedisi mengatakan, pengobatan basie di hulu Sungai Barito merupakan fenomena unik. “Lewat basie perempuan ini mereka meyakini bidadari-bidadari cantik turun ke bumi untuk mengobati yang sakit. Itu dilakukan karena tidak ada alternatif pengobatan lain di daerah pedalaman,” katanya.

Di Papas Eheng

Di lamin atau rumah panjang khas Kaltim di Desa Papas Eheng, Kutai Barat, juga dilaksanakan upacara balian. Upacara selama 20 hari ini digelar untuk pengobatan massal bagi warga penghuni lamin yang sakit.

Merang (50), salah seorang warga Lamin Papas Eheng yang memiliki hajatan, mengatakan, upacara berbiaya mahal itu terpaksa digelar karena banyak warga usia tua yang sakit dan tidak bisa disembuhkan dengan pengobatan modern. “Kakak saya yang sakit ini sebenarnya sudah diobati ke puskesmas, tetapi tidak sembuh. Karena itu, kami memanggil balian atau dukunkampung,” katanya.

Pada hari ke-19 upacara dilakukan penyembelihan sembilan babi dan belasan ayam. Pada hari ke-20 atau hari terakhir, upacara disempurnakan dengan menyembelih seekor sapi.

“Biaya upacara ini sampai Rp 10 juta lebih,” kata Merang. Walaupun mahal, warga Lamin Papas Eheng meyakini ritual adat itu harus digelar minimal sekali dalam 10 tahun.

Antropolog dari Universitas Lambung Mangkurat Setia Budhi mengatakan, pengobatan balian atau basie merupakan upaya terakhir dan menjadi alternatif utama karena pengobatan modern tak menjangkau pedalaman. “Ini menjadi kritik bagi para penyelenggara negara dan juga bagi dunia kedokteran,” katanya.(AMR/THY/RAY)

Artikel Lainnya