Mengunjungi Pulau Biak, Provinsi Papua, benak serasa melayang ke buku sejarah Perang Dunia II, yang mengisahkan pertempuran pasukan Jepang dengan Amerika Serikat. Residu dari kisah 77 tahun silam itu melukiskan kekejian perang yang penuh kisah pilu.

Salah satu lokasi yang menjadi saksi bisu pertempuran hebat Perang Dunia II di Biak adalah Goa Binsari di Kelurahan Samofa, Kabupaten Biak Numfor. Oleh masyarakat setempat, Goa Binsari juga kerap disebut sebagai Goa Jepang.

Pada puncak periode Perang Dunia Kedua, Goa Binsari menjadi lokasi tewasnya 3.000 serdadu Jepang di bawah komando Letnan Kolonel Kuzume Naoyuki. Pasukan Jepang terbakar hidup-hidup akibat serangan udara tentara Amerika Serikat, yang menjatuhkan ratusan drum berisi bahan bakar dari udara, lalu menyulut api dengan menembaki drum tersebut.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Pengunjung melihat kondisi di dalam Goa Binsari yang menjadi destinasi wisata sejarah Perang Dunia II di Kabupaten Biak Numfor, Papua, Sabtu (1/5/2021). Pada Perang Dunia II, Goa Binsari dijadikan tempat persembunyian tentara Jepang untuk berlindung dari sergapan tentara Amerika Serikat.

Selang 77 tahun setelah peristiwa itu, Sabtu (1/5/2021) sore, goa tersebut hanya menyisakan keheningan. Goa dengan lubang berkedalaman 20 meter tersebut terasa gelap, hampa, dan lembab bagai gudang terbengkalai. Dari mulut goa, sinar matahari menyorot masuk tipis ke dalam, menambah eksotis tempat yang dipenuhi stalaktit ini.

Di tengah keheningan goa, dalam bulan puasa dan kondisi pandemi Covid-19, terdengar langkah kaki dua pengunjung. Mereka adalah Indra (25) bersama istrinya yang menyukai wisata sejarah. Dari ekspresinya yang tampak terpesona, mereka seperti bisa membayangkan kekejian perang pada masa lalu.

”Saya memang suka sejarah. Saya seperti bisa membayangkan ulang kejadian bersejarah di tempat seperti ini. Di sini nilai historisnya, kan, sangat besar karena, kan, merupakan lokasi kejadian sebenarnya. Ada kepuasan pribadi untuk bisa melihat langsung,” kata Indra, pendatang yang bekerja di Biak tersebut.

Baca juga : Realitas Getir Benteng Terakhir

Sejak 1943, Goa Binsari sudah menjadi markas persembunyian dan logistik tentara Jepang. Mereka membentuk markas di dalam goa dengan pertimbangan sulit ditemukan pasukan lawan. Dulunya, lubang goa yang terletak di tanah milik warga ini sangatlah kecil, tidak terlihat jelas dari atas.

Tentara AS baru mengetahui keberadaan serdadu Jepang setelah berhasil membujuk warga setempat untuk memberi tahu. Dari sinilah rencana pembantaian terhadap tentara Jepang itu disusun.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Pengunjung melihat foto-foto dan dokumen terkait Perang Dunia II di dalam museum di destinasi wisata sejarah Goa Binsari, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, Sabtu (1/5/2021)

Pasukan sekutu di bawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur, yang datang pada Mei 1944, merencanakan serangan brutal tersebut sebagai bagian dari upaya merebut Pulau Biak. Lokasi Pulau Biak dianggap strategis untuk dijadikan pangkalan militer AS yang berencana melanjutkan peperangan ke Halmahera di Kepulauan Maluku dan Pulau Palau di Samudra Pasifik.

Di Biak, Goa Binsari ini adalah tanah ulayat milik keluarga Rumaropen. Untuk itulah, Yusuf Rumaropen kemudian menyulap Goa Binsari menjadi destinasi wisata sejarah. Selain goa, benda-benda bersejarah peninggalan Perang Dunia Kedua juga menjadi daya tarik tersendiri.

Dijadikan museum
Benda-benda yang dikumpulkan Yusuf selama 19 tahun atau dari 1980 hingga 1999 dipajang di halaman luar Goa Binsari seluas 4.000 meter persegi. Tidak hanya di halaman, barang-barang yang kebanyakan merupakan peninggalan serdadu Jepang itu juga dipamerkan di dalam sebuah bangunan kecil yang diubah menjadi semacam museum.

Sejak (benda-benda ini) ditemukan, hanya dibersihkan saja. Kalau diperbaiki atau dicat, nanti bisa mengurangi nilai sejarahnya. Saya justru ingin memperlihatkan sisi sejarahnya

Mulai dari pesawat pengebom, samurai, topi baja, peluru, senjata, hingga seragam pasukan Jepang. Setiap benda sisa peperangan itu seolah punya ceritanya masing-masing. ”Sejak (benda-benda ini) ditemukan, hanya dibersihkan saja. Kalau diperbaiki atau dicat, nanti bisa mengurangi nilai sejarahnya. Saya justru ingin memperlihatkan sisi sejarahnya,” ucap Yusuf yang kini mengelola Goa Binsari bersama keluarganya.

Benda-benda peninggalan perang yang dikumpulkan Yusuf juga menjadi penanda hebatnya pertempuran saat itu. Misalnya saja, botol minum tentara Jepang yang penuh lubang di sana-sini akibat hujan peluru. Selain itu, juga terdapat bangkai pesawat pengebom yang bagian kepala hingga tubuhnya hilang. Hanya tersisa sasis di bagian ekor.

Tidak hanya benda peninggalan perang, Yusuf juga menyimpan sisa tulang belulang korban di dalam sebuah gudang. Jumlahnya tinggal sedikit karena sebagian besar tulang belulang tersebut sudah dikremasi dalam ritual pemberkatan bersama anak dan cucu korban yang datang langsung dari Jepang.

Ya, keluarga korban perang dari Jepang memang kerap mengunjungi Goa Binsari sebelum pandemi. Mereka sering berdoa, juga mengucapkan terima kasih karena tulang belulang keluarganya disimpan dan dirawat di gudang khusus.

Selain Goa Binsari, salah satu saksi sejarah lainnya adalah Monumen Perang Dunia II di Desa Parai yang berseberangan dengan Pantai Mokmer. Di dalam gudang penyimpanan monumen dengan arsitektur seperti ombak ini terdapat abu jenazah dan foto-foto tentara Jepang berserta keluarganya.

Monumen yang dibangun pada 1992 ini, lewat kesepakatan Pemerintah Indonesia dan Jepang, merupakan lokasi pertama kedatangan para pasukan Jepang. Setelah berkumpul di lokasi ini, mereka baru berpencar ke penjuru Kota Biak. Di monumen terdapat delapan batu besar yang terpajang, melambangkan jumlah jenderal yang memimpin peperangan.

”Mereka (Jepang) membuat monumen ini untuk melambangkan perjuangan prajuritnya. Batu-batu itu melambangkan jenderalnya. Ada delapan jenderal total. Sebanyak tiga jenderal masih belum ditemukan, mungkin terkubur di dalam goa,” ucap Kostan Koibur, warga setempat yang bertugas menjadi penjaga monumen.

Selain Pantai Mokmer di Desa Parai, banyak pantai lain di Biak yang juga membawa residu tentang perang. Pantai-pantai ini pernah menjadi tempat berlabuhnya para tentara Jepang atau AS, dengan alutsista beragam dan ribuan pasukan mereka. Itu merupakan awal tragedi yang menelan korban sekitar belasan ribu nyawa di pulau karang ini.

Tidak mudah
Dilihat dari luar, perjalanan wisata sejarah di Biak sangatlah menarik. Pengunjung seolah menyusuri lembar demi lembar catatan sejarah dari berbagai peninggalan yang ada. Namun, menjaga warisan yang sudah bertahan selama nyaris delapan dekade ini sama sekali tidak mudah.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Pengunjung melihat kondisi di dalam Goa Binsari yang menjadi destinasi wisata sejarah Perang Dunia II di Kabupaten Biak Numfor, Papua, Sabtu (1/5/2021).

Yusuf merasakan sendiri betapa sulitnya mengelola Goa Binsari. Sejak awal hingga sekarang, dia mengelola tempat wisata ini dengan biaya sendiri. Tidak ada bantuan pemerintah setempat ataupun Jepang untuk merawatnya. Dia hanya mengandalkan uang masuk tiket sebesar Rp 25.000 per orang untuk pengunjung umum dan Rp 10.000 untuk anak sekolah.

Mirisnya, pengunjung goa selama pandemi menurun drastis sekitar 5-10 kali lipat. Dengan penghasilan seadanya, Yusuf semakin sulit mewujudkan mimpinya untuk memagari tempat wisata ini. Adapun barang bersejarah di sekitar goa sering dicuri karena tempat ini berada di lahan terbuka.

”Saya selaku pengelola ingin sekali situs seluas 200 meter x 200 meter ini bisa dipagar. Supaya benda-benda di sini bisa aman. Sebab, sekarang di Biak banyak pembeli besi tua. Mulai sering banyak yang hilang. Harapan saya, pemerintah bisa membantu ini,” ucap Yusuf.

Baca juga : Derita Warga Sima Seusai Hutan Sirna

Nasib Kostan tidak kalah sulit. Dia menjaga Monumen Perang Dunia karena merupakan warisan dari ayahnya, Stevanus. Ayahnya yang meninggal pada 2007 adalah sosok penjaga monumen ini, dari sebelum dibangun hingga berdiri tegak di area Pantai Mokmer.

Kostan biasanya digaji oleh Pemerintah Jepang. Namun, dia belum mendapat kabar upah tersebut selama pandemi. Pria yang berprofesi sehari-sehari sebagai nelayan ini pun sekarang lebih banyak bekerja sukarela mengelola monumen.

Monumen untuk mengingatkan umat manusia tentang kekejaman perang dengan segala akibatnya agar tidak terulang lagi.

Pria asli Biak ini tidak bisa banyak mengandalkan tiket pengunjung. Selain monumen berada di tempat terbuka, bisa didatangi siapa pun untuk berfoto, dia juga lebih sering berada di laut. Belum lagi, pandemi benar-benar menggerus wisatawan yang hadir.

Terlepas dari semua kesulitan yang dihadapi, saksi bisu perang ini memang patut dijaga. Tidak hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga untuk refleksi sejarah. Seperti pesan di batu Monumen Perang Dunia II yang bertuliskan, ”Monumen untuk mengingatkan umat manusia tentang kekejaman perang dengan segala akibatnya agar tidak terulang lagi.” (Kelvin Hianusa/Fabio Maria Lopes Costa)