Kompas/Priyombodo

Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Bayu

Para Penjaga Terang Papagarang

·sekitar 4 menit baca

Sebagai perpanjangan tangan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), mereka tidak hanya menangani operasional pembangkit, tetapi juga turun melayani pelanggan. Terjaganya terang Desa Papagarang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, ada di tangan mereka.

Oleh ISMAIL ZAKARIA

Siang yang terik di Sabtu (2/10/2021), membuat warga Papagarang memilih berdiam di rumah panggung masing-masing. Tapi tidak dengan Bin Boy (23). Siang itu, ia memutuskan berkeliling menyusuri jalan kecil dari Dusun Lamolo Jaya hingga Dusun Tanjung Keramat. Tujuannya untuk bertemu warga guna mencari tahu sekiranya ada masalah dengan listrik mereka.

Sepanjang perjalanan, setiap bertemu warga, Boy dengan ramah menyapa mereka. Warga yang telah mengenal Boy sebagai operator pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Papagarang juga melakukan hal yang sama. Setelah menyapa, ia kemudian menanyakan apakah ada keluhan atau masalah dengan listrik warga. Siang itu, tidak ada yang menyampaikan keluhan.

“Biasanya keluhan mereka soal meteran atau instalasi listrik yang mengalami gangguan. Setiap ada laporan seperti itu, kami langsung menanganinya,” tutur Boy.

Berkeliling bertemu warga adalah kegiatan rutin yang dilakukan Boy selaku operator PLTS Papagarang yang berkapasitas 380 kilowatt peak (kWp). Kegiatan itu dilakukan dua kali dalam sepekan. Biasanya, Boy bergantian dengan Ihram (21), operator lainnya. PLTS Papagarang beroperasi sejak 1 November 2019.

Beroperasionalnya PLTS telah membuat warga bisa mengakses listrik selama 24 jam. Ini sekaligus memutus ketergantungan mereka bertahun-tahun ke listrik dari mesin genset yang berbiaya mahal.

Kompas/Priyombodo

Pekerja melakukan pemeriksaan rutin panel surya di PLTS Papagarang di pulau Papagarang, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (1/10/2021).

Sejalan dengan mulai beroperasinya PLTS, Boy dan Ihram juga mulai bertugas sebagai operator. Sejak saat itu, dua pemuda asli Papagarang itu menjadi perpanjangan tangan PLN di pulau yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo tersebut.

Tanggung jawab

Baik Boy maupun Irham sama-sama tidak memiliki latar belakang pendidikan kelistrikan. Keduanya adalah lulusan sekolah menegah atas (SMA). Boy lulus dari SMA di Bima, Nusa Tenggara Barat, sementara Irham bersekolah di SMA di Labuan Bajo.

“Saya setelah lulus SMA sempat jadi nelayan. Melanjutkan pekerjaan saya sejak kecil. Tetapi sekarang, sepenuhnya di sini. Sebagai operator PLTS,” tutur Irham.

PTLS adalah hal baru sehingga keduanya harus belajar banyak. Termasuk mengikuti pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit selama seminggu. “Selanjutnya setelah PLTS berjalan, kami tetap belajar sambil kerja,” kata Irham.

Kedua operator ini bekerja dengan sistem sif, masing-masing 12 jam. Selama bertugas, mereka berada di area pembangkit yang dibangun di puncak perbukitan di belakang Desa Papagarang. Mereka biasanya pulang sebentar untuk makan siang atau makan malam. Selama berada di area pembangkit, setiap hari mereka bertugas membuat laporan per jam terkait operasional pembangkit. Mereka juga mengecek kondisi panel hingga baterai sekali dalam sepekan.

Saat tidak bertugas, baik Ihram maupun Boy tidak selalu bisa bersantai. Menurut Ihram, mereka kadang masih tetap harus siaga sambil memantau kondisi listrik pelanggan. Apalagi, gangguan bisa terjadi kapan saja. Sebagian besar gangguan yang muncul selama PLTS beroperasi di Papagarang, kata Boy, bisa mereka tangani sendiri. Tetapi jika ada tidak tertangani, mereka melapor ke Labuan Bajo.

“Teman-teman operator bisa ambil keputusan. Selama bisa ditangani sendiri, kami serahkan ke mereka. Tetapi untuk yang sifatnya strategis, tetap koordinasi ke Labuan Bajo,” kata Manajer Unit Layanan Pelanggan PLN Labuan Bajo I Gede Ambara Natha.

Pada kondisi tertentu, seperti di musim angin barat atau saat Papagarang masuk musim hujan, para operator ini jauh lebih sibuk. Terutama antara Desember hingga Februari. Pada periode itu, matahari tidak selalu muncul karena mendung, sehingga pasokan listrik ke warga sepenuhnya bergantung pada cadangan di baterai. Kondisi itu membuat Boy dan Ihram harus melakukan pembatasan. Caranya dengan mengatur jadwal pemadaman aliran listrik ke warga.

“Menjelang pemadaman, biasanya kami ke masjid. Lalu dengan pengeras suara, mengumumkannya,” ujar Boy.

Kompas/Priyombodo

Petugas memeriksa batre bank yang menjadi media penyimpanan energi listrik di PLTS Papagarang di pulau Papagarang, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (1/10/2021). PLTS Papagarang memiliki kapasitas 380 kilo wattpeak (kWp).

Warga yang telah terbiasa dengan kondisi PLTS saat musim hujan, kemudian menggelar musyawarah. Boy dan Ihram turut hadir untuk menjelaskan situasinya. Musyawarah akan berakhir dengan kesepakatan warga mengatur pemakaian listriknya.

Operator selanjutnya akan mematikan listrik warga di siang hari. Dinyalakan setiap azan saja. Sementara di malam hari, dinyalakan hingga pukul 24.00. Selanjutnya padam lagi dan nyala kembali saat Subuh. Saat pembatasan, warga mengurangi lampu yang menyala. Misalnya, dari empat ke dua lampu saja. Begitu juga alat elektronik lain. Para pembuat es batu juga sementara menghentikan usahanya.

“Melakukan pembatasan adalah cara terbaik. Itu juga demi warga. Kalau tidak, bisa habis (tidak ada listrik),” kata Ihram.

Menurut Boy dan Ihram, mereka beruntung karena selalu mendapat dukungan dari warga Papagarang. Tidak hanya saat pembatasan, tetapi kondisi-kondisi darurat. Misalnya, pada Agustus lalu saat terjadi kebakaran bukit di dekat PLTS. Kebakaran terjadi menjelang sore. Bukit yang terbakar berjarak beberapa puluh meter dari lokasi panel-panel surya PLTS Papagarang.

Begitu mendapat kabar setelah diumukan lewat masjid, warga beramai-ramai ke lokasi. Kemudian bekerja sama memadamkan api sebelum meluas, termasuk ke area panel-panel surya berada.

Bagi Boy dan Ihram yang digaji bulanan, tidak mudah menjadi operator PLTS di wilayah kepulauan. Tetapi mereka tetap berusaha menjalani rutinitas itu dengan sebaik-baiknya. “Susah rasanya PLTS ini berjalan tanpa dukungan masyarakat. Itu sangat penting bagi kami,” kata Boy.

Artikel Lainnya