KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Bayu

PLTS Terapung Cirata, Masa Depan Energi Hijau Indonesia

·sekitar 5 menit baca

Usia Waduk Cirata di Jawa Barat kini sudah lebih dari 30 tahun. Namun, keberadaannya mendukung pasokan listrik Jawa-Bali masih vital. Setelah menjadi yang terbesar dengan tenaga air, Cirata kini tengah merintis peran menjadi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung terbesar se-Asia Tenggara.

Oleh MACHRADIN WAHYUDI RITONGA

PLTS yang menggunakan teknologi photovoltaic (PV) ini ditargetkan beroperasi di tahun 2022. Panel-panel surya ini bakal “terapung” di bagian utara Waduk Cirata yang seluas 200 hektar. Lokasinya hanya berjarak sekitar 400 meter dari pintu pengambilan air (waterintake) Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata.

Pembangunannya masih berlangsung hingga saat ini. Satu unit buoy (pelampung) diletakkan di bagian utara waduk, menjadi penanda lokasi pemasangan panel surya. Alat berwarna kuning ini memiliki panel surya di empat sisinya. Jarak pelampung dari pelabuhan milik PT Pembangkitan Jawa Bali, anak usaha PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), yang berada di sisi timur waduk mencapai 1,45 kilometer.

Dari pelabuhan tersebut, petugas butuh waktu hingga 20 menit untuk mencapai lokasi ini dengan menggunakan perahu cepat. Pada Jumat (24/9/2021), riak air waduk akibat laju kapal hingga teriknya matahari tidak mengurangi konsentrasi sejumlah petugas yang memeriksa pelampung itu.

Di salah satu sisi perbukitan yang terdekat dari pelampung, sejumlah alat berat tampak meratakan sejumlah titik miring. Pemerataan lahan ini dilakukan untuk membangun infrastruktur penyokong PLTS, seperti Gardu Induk Tegangan Tinggi 150 kilovolt (KV) Cirata.

Bila usai dibangun, General Manager Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Unit Pembangkitan Cirata Ochairialdy memaparkan, PLTS ini diklaim sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 145 megawatt (MW). Saat ini, PLTS terbesar di Asia Tenggara dipegang Cadiz Solar Powerplant di Filipina dengan kapasitas 132,5 MW.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Lokasi bakal dibangunnya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di tengah Waduk Cirata, Jawa Barat, Jumat (24/9/2021).

Ochairialdy optimistis, pembangunan PLTS terapung di Cirata ini sesuai target 23 persen penyediaan listrik di Indonesia berasal dari energi baru dan terbarukan di tahun 2025. Apalagi, Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan PLTS terapung.

Berdasarkan paparan PJB, Indonesia memiliki lebih dari 192 bendungan dengan luas tangkapan 86.247 hektar. Sebagian besar berada di Jawa dengan total 82 bendungan dan waduk, lalu Bali dan Nusa Tenggara sebanyak 90 bendungan dan waduk. Luasan lahan ini bisa dimanfaatkan untuk PLTS terapung hingga 4.300 megawatt peak (MWp) dengan catatan pemanfaatan 5 persen dari daerah tangkapan air.

“Potensi Cirata sendiri masih sangat besar. Sekarang baru digunakan 3 persen dari waduk. Jika ini berhasil, kami tinggal menambah solar panel PLTS terapung. Kebutuhan lahannya kira-kira 1 hektar untuk kapasitas 1 MW,” ujarnya.

Menurut Ochairialdy, PLTS terapung Cirata ini bakal menjadi alternatif sumber listrik yang didistribusikan ke sejumlah sektor, seperti industri dan lainnya. Karena belum menggunakan baterai, energi langsung disalurkan sesuai dengan kebutuhan. “Nantinya, listrik akan dihubungkan ke sektor lain, sesuai permintaan PLN P2B (Pusat Pengatur Beban). Yang terpenting, kebutuhan tetap terpenuhi,” ujarnya.

Tenaga air

Ochairialdy menyatakan, PLTS Cirata tidak akan mengubah peran PLTA Cirata yang dibangun sejak tahun 1982 dan beroperasi pada tahun 1988. PLTA ini berfungsi sebagai penyangga beban puncak (peak load) untuk sistem koneksi listrik Jawa-Madura-Bali (Jamali).

PLTA Cirata terdiri dari delapan unit pembangkit berkapasitas 128 MW sehingga kapasitas total dari pembangkit ini mencapai 1.008 MW dan menjadi yang terbesar di Indonesia. Energi yang dibangkitkan mencapai 1.428 gigawatt jam (GWh) per tahun atau setara 428.000 ton minyak.

Ochairialdy memaparkan, selain berperan sebagai penyangga beban puncak, PLTA Cirata memiliki fasilitas black start dan line charging. Teknologi ini bisa memulihkan daya tanpa harus menggunakan sumber dari luar.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Lokasi proyek pembuatan jalan akses untuk material pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di Waduk Cirata, Purwakarta, Jumat (24/9/2021). PLTS terapung tersebut akan berada di tengah Waduk Cirata.

Kelebihan PLTA Cirata lainnya adalah bisa beroperasi dalam waktu singkat. Generator beroperasi dan bisa disalurkan ke jaringan dalam waktu 6 menit. Kecepatan ini berguna untuk memastikan suplai listrik untuk jaringan 500 kilovolt (kV) sistem Jamali jika terjadi gangguan frekuensi atau masalah lainnya, seperti blackout di sebagian wilayah Jawa tahun 2019 lalu.

“Di saat transmisi sudah tidak ada masalah, kami diharapkan bisa masuk beroperasi dulu karena unit lain, seperti pembangkit batubara, butuh waktu lebih lama untuk memulai operasi,” ujarnya.

Semakin hijau

Ochairialdy menuturkan, PLTS terapung Cirata ini nantinya bisa membantu PLTA dalam menunaikan tugas terus memanfaatkan energi hijau. “Semakin banyak sumber energi terbarukan yang tersedia, semakin sedikit energi fosil yang digunakan. Ini adalah proses untuk beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Oleh karena itu, dibutuhkan persiapan sumber daya manusia dan penguasaan teknologi panel surya ini. Di Cirata, lanjut Ochairialdy, persiapan ini telah dilakukan sejak tahun 2015, saat PLTS 1 MW di kompleks PLTA Cirata beroperasi.

Pembangkit yang berjarak sekitar 550 meter dari gardu induk Cirata ini menggunakan lebih kurang 1 hektar lahan. Fasilitas tersebut dinamakan C-Gen Park (Cirata Green Energy) ini beroperasi sejak tahun 2015. Beberapa fasilitas yang erat dengan energi hijau di dalamnya, seperti pelacak sumbu ganda, stasiun pengisian daya dari energi surya, hingga kampus energi terbarukan untuk edukasi energi hijau.

“Untuk 1 hektar PLTS, hanya dibutuhkan 2 petugas. Jadi, tenaga kerja yang dibutuhkan praktis tidak terlalu banyak. Pembersihan unit hanya dilakukan berkala dan melibatkan petugas lain. Tapi untuk PLTS terapung nantinya, bisa saja ada bagian khususnya,” ujar Ochairialdy.

Dengan segala dinamikanya itu, Ochairialdy optimistis PLTS terapung tidak hanya menghasilkan listrik baru, tapi juga berkontribusi pada dunia lebih baik. Sedikit banyak, keberadaannya bisa ikut andil menghadapi tantangan perubahan iklim dewasa ini.

Dia mengatakan, tutupan panel surya mampu mengurangi penguapan air dan meningkatkan hasil energi hingga 10 persen karena suhu lingkungan lebih rendah. Pembangunan PLTS yang menutupi permukaan waduk juga menghindari penggunaan lahan baru.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Teknisi memantau suhu serapan di atas permukaan panel surya di Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Cirata yang dikelola PT Pembangkitan Jawa Bali yang berada di kawasan Waduk Cirata, Kabupaten Purwakarta, Kamis (23/9/2021). Menurut rencana di dalam Waduk Cirata akan dibangun PLTS terapung dengan kapasitas terpasang 145 MW.

Sekretaris Daerah Jabar Setiawan Wangsaatmaja menyakinkan, PLTS terapung ini ramah lingkungan. Menurut dia, PLTS terapung merujuk Perjanjian Paris 2015, yakni sebuah persetujuan dalam kerangka United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) mengawal reduksi emisi karbondioksida efektif yang mulai berlaku 2020.

“Persetujuan dibuat pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2015 di Paris, Prancis,” ucap mantan Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Jabar ini.

Menurut Setiawan, dengan Perjanjian Paris, Pemprov Jabar berkomitmen melaksanakan Green Productivity. Tujuannya, hadir pembangunan yang berwawasan lingkungan demi menuju pertumbuhan ramah lingkungan. “Di samping kita punya pembangkit listrik, kita pun bisa menyelamatkan lingkungan,” tambahnya.

Maju dan mundurnya PLTS terapung Cirata akan menjadi contoh ke depan pengembangan EBT di Indonesia. Harapan itu mesti terwujud untuk dunia yang tengah membutuhkan kontribusi “energi hijau” lebih banyak untuk masa depan manusia selanjutnya.

Artikel Lainnya