KOMPAS/AHMAD ARIF

Truk tangki pengangkut minyak sawit mentah terjebak kubangan lumpur di jalan trans-Kalimantan KM 50, ruas Labanan Muara Wahau, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Minggu (8/2). Truk rata-rata bermuatan 12 ton memperparah kehancuran jalan.

Liputan Kompas Nasional

Jelajah Kalimantan: Kuala Lumpur Xpres Jurusan Kubangan

·sekitar 4 menit baca

Langit jernih penuh bintang. Bulan separuh, membiaskan cahaya pada pucuk-pucuk pohon. Bau harum dedaunan di kaki Bukit Pimping, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur, itu mencipta sensasi rimba raya Kalimantan.

Namun, bagi Saiful (29), segenap romantisisme itu hanya ilusi yang menjauhkan dari dunianya. Dunia Saiful malam itu tak ada di langit, tapi di tanah tempat bertumpu roda-roda truknya. Dunia itu kini terhenti. Lumpur erat mencengkeram truk, yang dinamainya Kuala Lumpur Xpres (baca Ekspres).

“Kuala tu kubangan, lumpur tu ya lumpur, kalau Xpres artinya cepat. Jadi, Kuala Lumpur Xpres tu cepat masuk kubangan,” kata lelaki ceking berambut gondrong sebahu itu menjelaskan makna Kuala Lumpur Xpres yang tertulis besar di kaca depan truknya.

Kini Kuala Lumpur Xpres tertimbun tak berdaya dalam lumpur yang menenggelamkan semua rodanya. Truk terjebak lumpur jalan sejak Jumat (6/2), pukul 15.50. Telah enam jam dia berjuang keluar dari lumpur saat kami tiba di sana, tapi belum berhasil.

“Bibit karet ini harus cepat sampai Malinau, kalau tidak akan mati semua,” kata Saiful.

Saiful berangkat dari Samarinda pada 3 Februari dini hari. Artinya, sudah empat hari tiga malam. Kalau lancar, perjalanan dari Samarinda hingga Malinau sejauh 827 kilometer dapat ditempuh sehari semalam. Namun, laju truk bermuatan 50.000 bibit karet itu terseok-seok karena jalan hancur.

Di ruas Labanan, Kabupaten Berau, truk tertahan dua hari karena terjebak lumpur sebelum terjebak lagi di Pimping. “Di Labanan lebih parah, ratusan kendaraan terjebak,” katanya.

Selama terjebak di Labanan, Saiful terpaksa makan nasi basi seharga Rp 25.000 per bungkus. “Saya kelaparan. Terpaksa dimakan jualah,” kata Saiful, dengan logat Banjar.

Kisah derita lekat dengan para sopir yang melintasi jalan trans-Kalimantan di ruas Samarinda-Nunukan. “Saya bawa uang Rp 3 juta, tapi di dompet tinggal Rp 200.000. Padahal belum beli solar untuk pulang. Rugilah. Nanti, pulang hanya bawa baju kotor,” kata Saiful.

Pukul 23.25, dua lelaki berpakaian lusuh muncul dari kegelapan jalan dan bergabung dengan Saiful. “Kami baru saja cari makan. Harus bayar warga memasak untuk kami,” kata Udin (33), salah satu lelaki itu. Udin yang bertubuh ceking juga sopir truk. “Mobil kami nyangkut di bawah, sekitar 1 kilometer dari sini. Sudah dua hari tak bisa keluar,” katanya.

Udin dan kernetnya, Nande (36), harus berjalan kaki sekitar 4 jam pergi-pulang untuk mengganjal perut. “Bekal kami sudah habis di jalan,” kata Nande.

“Saya juga belum makan sejak siang,” Saiful menimpali.

Perut lapar dan hawa dingin membuat tubuh menggigil. Saiful mengorek lumpur, memasang kawat seling, dan mengikatnya pada mobil gardan ganda kami. Dia meminta mobil kami menarik truk dan muatannya yang berbobot sekitar 5 ton. Truk hanya bergeser sedikit. Lumpur terlalu dalam mencengkeram roda. “Kalau tak ada dozer tak akan bisa keluar. Kita akan nginap di sini,” kata Saiful.

Politik jalan

Sudah sembilan tahun Saiful jadi sopir truk di trans-Kalimantan. Sembilan tahun yang melelahkan. “Ulun (saya) kada (tidak) pernah ketemu jalan baik. Heran, jalan bagus kalo pejabat lewat aja. Apa kerja orang-orang PU?” keluh lelaki dua anak ini.

Saiful tidak tahu, malam itu, di antara rombongan kami, ada beberapa pejabat Departemen Pekerjaan Umum dari Jakarta. “Ini salah satu jalan terparah yang pernah saya alami,” kata Kepala Sub-Direktorat Jalan dan Jembatan Wilayah Timur Ditjen Bina Marga PU Suharyanto.

Jalan rusak di Pimping adalah jalan nonstatus. Tahun 2008, perawatannya dikelola Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dengan dana APBD. “Kami sudah usulkan statusnya diubah menjadi jalan nasional agar bisa dibiayai APBN,” kata Suharyanto.

Entah karena dingin menusuk, perut lapar, atau akumulasi penderitaan sembilan tahun sebagai sopir, Saiful makin bersemangat mengkritik pemerintah. “Siapa presidennya sama jualah. Pemilu besok kada mau ikut milih ulun. Golput sajalah. Milih atau kada milih sama jua, jalan tetap rusak. Lebih bagus zaman Soeharto,” Saiful terus bicara.

Teman-teman PU hanya tersenyum menanggapi ucapan Saiful yang memerahkan telinga itu. “Terkadang, warga tak menyadari keterbatasan dana,” kata seorang teman dari PU.

Sebagai gambaran, tahun 2009 alokasi pusat untuk jalan negara sepanjang 50 kilometer di Labanan hanya Rp 3,5 miliar. Tak pelak dari 50 kilometer jalan, hanya tertangani 1,4 kilometer!

“Persoalannya, alokasi anggaran jalan tak jelas. Ruas jalan yang tahun lalu ada dana bisa jadi tahun ini terhenti. Jalan yang dulu dibangun hancur lagi. Ketidakjelasan status jalan juga membuat pekerjaan dan anggaran tak optimal,” kata Kepala Staker Jalan Perbatasan Kalimantan Suheriyatna.

Pukul 24.14, bantuan alat berat datang, disusul dua alat berat lain, setelah Suheriyatna sibuk menelepon kontraktor. Malam itu, roda-roda hidup Saiful kembali berputar. Namun, hari-hari ke depan tetap suram bagi Saiful dan para sopir lain di trans-Kalimantan, jika tak ada perubahan dalam politik anggaran jalan. Artinya, lain kali, Saiful harus mempersiapkan diri lebih baik dengan membawa sekarung beras, ikan asin, dan kompor jika tetap hendak bertahan sebagai sopir trans-Kalimantan….(HARYO DAMARDONO/AMBROSIUS HARTO)

Artikel Lainnya