Adakah yang memaknai makanan serumit masyarakat Hindu-Bali? Makanan bukan sekadar pemuas lidah, melainkan sarana meraih berkah. Itu sebabnya orang Bali tidak pernah lelah menyiapkan begitu banyak makanan untuk sajen ritual agama. Zaman terus berubah. Makanan instan olahan pabrik yang menopang sebagian manusia urban akhirnya menyelinap ke dalam sajen meski belum ada burger McDonald’s dan Coca-Cola.

PEKERJAAN di dapur Ni Nyoman Loten (74) seperti tak ada habisnya awal April lalu. Sejak pagi hingga sore, ia terus memasak aneka kue dan masakan. Tepat tengah hari ketika terik mentari disapu mendung, sejumlah kue buatan Loten telah matang dan ditumpuk di atas meja. Ada jaje bantal, jaje adrem, kembang duren, jaje begine, jaje dendeng, jaje satuh, dan pesor dengan tiga jenis daun pembungkus: daun bambu, kasa, dan pisang batu.

Makanan instan olahan pabrik yang menopang sebagian manusia urban akhirnya menyelinap ke dalam sajen meski belum ada burger McDonald’s dan Coca-Cola.

Tanpa beristirahat, Loten melanjutkan masakan berikutnya. Dibantu suaminya, I Ketut Nomer (73), Loten membuat lawar klungah—sejenis lawar yang hanya dibuat di kawasan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali. Lawar klungah berbahan utama tempurung kelapa muda ditambah daging irisan tipis daging ayam. Sambil lesehan di teras samping rumah yang teduh, Nomer mencacah tempurung kelapa muda yang telah direbus dan daging ayam, sementara Loten memarut daging kelapa yang telah dibakar.

Nomer kemudian memeras cacahan tempurung kelapa muda itu hingga airnya tandas, lantas ia campur dengan ayam dan parutan kelapa di sebuah panci. Loten menambahkan basa genep—bumbu dasar bali yang terdiri dari hampir semua bumbu yang ada di dapur—dan minyak kelapa buatan sendiri. Nomer mengaduk semuanya dengan tangan telanjang hingga jari-jarinya belepotan bumbu. Aroma harum bumbu dan minyak kelapa segera meruap ke udara.

KOMPAS/ HERU SRI KUMORO

Lawar klungah

Loten memberi sentuhan akhir berupa taburan bawang goreng dan bawang merah serta beberapa tetes jeruk limau. Lawar klungah telah selesai. Sebagian disisihkan untuk persembahan dewa dan alam semesta, sisanya dalam jumlah banyak dijadikan suguhan untuk keluarga. Kami, tamu-tamu keluarga Loten dari Jakarta yang sedang lapar, menyantap lawar klungah itu dengan lahap.

Tekstur tempurung kelapa muda seperti jamur yang kenyal. Rasanya seperti nangka atau jantung pisang batu dengan sedikit jejak sepat. Rasa sepat itu berpadu dengan pedas, asin, manis, asam, dan gurih bumbu genep. Sebuah harmoni rasa tercipta dari orkestra aneka bahan dan bumbu yang terdiri dari cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, lengkuas, kencur, serai, salam, jeruk nipis, terasi, gula aren, garam, ketumbar, lada, pala, jinten, dan lain sebagainya.

Di meja makan juga terhampar aneka makanan lain mulai nasi kuning, pesor, kare ayam, saur, serundeng, sambal matah, dan tum ayam—sejenis pepes ayam dengan bumbu genep dan daun jeruk purut.

”Bagaimana rasanya? Enak, kan?” ujar Loten diikuti senyum. Ia tak menunggu jawaban kami yang sedang kalap menikmati semua makanan. Perempuan ramah itu kembali ke teras rumah untuk menyusun sesajen. Dibantu seorang asisten dan dua anak perempuannya, Loten menganyam janur kelapa menjadi wadah sajen berbagai ukuran. Di atas puluhan wadah tersebut, mereka menyusun semua masakan yang dimasaknya hari itu dalam ukuran serba sejumput. Dalam sajen kemudian ditambahkan kepiting, udang, ikan goreng, telur rebus, buah-buahan, aneka kue, roti, uang kertas, serta bunga warna-warni.

KOMPAS/ RIZA FATHONI

Warga menyiapkan sesaji pada mebat di Negara, Jembrana, Bali.

Semua bahan sesajen itu diletakkan dengan hitung-hitungan yang rumit. Warna dan bentuk sajen yang beraneka sarat dengan simbol. Semua akan dipersembahkan kepada dewa-dewa yang turun dan bersemayam di bumi selama 10 hari sejak hari raya Galungan untuk memberi berkah kepada alam semesta. Itulah saat terbaik untuk sembahyang.

Esok hari, jatuh hari raya Kuningan di mana dewa-dewa akan kembali ke kahyangan. Karena itu, sebelum matahari bersinar, Loten dan keluarga membawa sebagian sesajen ke pura keluarga. Di batas antara dini hari dan pagi, mereka berdoa dan mempersembahkan sesajen kepada dewa-dewa. Di hari Kuningan itulah rangkaian upacara terasa panjang dan memuncak.

Semua bahan sesajen itu diletakkan dengan hitung-hitungan yang rumit.

Ribuan umat Hindu-Bali berkunjung dari satu pura ke pura lainnya. Di Pura Jagatnatha, Jembrana, sesajen dibawa umat bertumpuk di meja panjang mirip altar. Di depan sesajen, umat Hindu-Bali berdoa khusus dengan kedua tangan menangkup di atas kepala. Di ujung jemari mereka tersemat sekuntum-dua kuntum bunga. Air suci dan asap dupa mengantarkan doa-doa mereka ke langit yang cerah di pagi itu.

Empat jam perjalanan dari Jembrana, ritual Kuningan juga berlangsung di Pura Sakenan, Pulau Serangan, Denpasar Selatan dan berlanjut esok harinya dengan upacara piodalan atau ulang tahun pura yang digelar berdasarkan sistem kalender Bali. Kalau dikonversi ke sistem penanggalan Masehi, ulang tahun terjadi setiap enam bulan sekali. Momen itu seperti sebuah karnaval. Ribuan umat berpakaian putih-putih dari seantero Bali datang dan pergi ke Pura Sakenan. Di jalan menuju pura, serombongan umat yang selesai berdoa menggelar arak-arakan di jalan dengan iringan musik yang rancak.

KOMPAS/ HERU SRI KUMORO

Umat Hindu membawa sesaji pada persembahyangan Kuningan di Pura Luhur Dhangkahyangan di Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, Sabtu (5/4/2013). Di saat upacara-upacara besar seperti Kuningan, aneka makanan dijadikan sesaji untuk dewa.

Sebagian dari mereka menyunggi benda-benda pusaka dan perwujudan dewa di atas kepala. Arak-arakan yang panjang itu bertemu dengan antrean umat yang hendak masuk ke pura. Dua rombongan dengan arah berbeda itu diapit para pedagang makanan yang menjajakan minuman dan aneka sate, mulai sate ayam, ikan, babi, dan penyu. Di dalam pura, suasana terasa khidmat. Doa-doa meminta berkah disenandungkan ribuan orang dalam irama yang ritmis. Di pelataran pura, satu kelompok pemusik Bali, yang semua pemainnya perempuan berpakaian keemasan, bergantian memainkan musik.

Begitulah Bali, ritual agama tampak bagai pertunjukan massal yang meriah. Semua orang memainkan perannya. Ada arak-arakan, sajen-sajen persembahan, tarian, musik, dan doa-doa yang semuanya mengandung simbol-simbol sarat makna. Tidak salah jika antropolog Clifford Geertz menjuluki Bali sebagai negara teater di mana simbol-simbol kekuasaan dan status diperlihatkan saat upacara.

(Budi Suwarna/ Aryo Wisanggeni Gentong/ Benny Dwi Koestanto/ Putu Fajar Arcana/ Bey julianery/ Arjendro Darpito/ Myrna Ratna M/ Frans Sartono)