Hampir tak ada upacara Hindu-Bali tanpa lawar. Apa pun tingkatan upacaranya, baik nista (sederhana), madya (sedang), dan utama (mulia), lawar selalu disajikan. Lawar selalu menjadi sarana upacara yang sangat penting.

Apa sebenarnya lawar? Dari wujudnya lawar merupakan makanan olahan yang terbuat dari daging cincang dicampur, sayuran, kelapa, dan bumbu-bumbu. Lawar biasanya dibuat berwarna putih (alami) dan merah. Pewarna merah diambil dari darah hewan segar yang diberi perasan jeruk nipis.

Hampir tak ada upacara Hindu-Bali tanpa lawar.

Di luar wujud fisiknya, lawar mengandung banyak simbol. Putu Eka Guna Yasa dari Perpustakaan Lontar Universitas Udayana, Denpasar, menjelaskan, dalam Lontar Siwa Gama Purwana Bumi, lawar melambangkan kekuatan para dewa penguasa penjuru mata angin. Syahdan, ketika dunia masih kosong tanpa penghuni, Bhatara Siwa beryoga dalam wujud Bhatara Guru. Lalu lahirlah putra-putranya, antara lain Kursika, Maitri, Pratanjala, Kurusia, dan Bhatara Siwa.

Kursika kemudian menjadi Bhatara Iswara yang menguasai penjuru timur dengan simbol warna putih. Maitri menjadi Bhatara Brahma yang menguasai penjuru selatan dengan simbol warna merah. Pratanjala menjadi Bhatara Mahadewa, penguasa arah Barat berlambang warna kuning. Kurusia menjadi Bhatara Wisnu, penguasa arah utara dengan simbol warna hitam. Terakhir, Bhatara Siwa yang berkedudukan di tengah empat mata angin dengan simbol campuran warna putih, merah, kuning, hitam, dan pada mara (setengah putih dan setengah merah).

KOMPAS/ HERU SRI KUMORO

Lawar dan komoh (berkuah)

Lawar dibuat berdasarkan simbol-simbol warna para dewa di setiap penjuru mata angin. Lawar putih yang berbahan campuran kelapa melambangkan Bhatara Iswara. Lawar barak atau anyang yang berwarna merah karena diberi darah daging hewan kurban melambangkan Bhatara Brahma.

Lawar kuning yang biasanya dibuat dari kacang hijau melambangkan Bhatara Mahadewa. Lawar hitam yang berbahan daun belimbing melambangkan Bhatara Wisnu. Selanjutnya, lawar campuran melambangkan Bhatara Siwa. Lawar dengan aneka warna dan rasa itu mengandung pesan, perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup rukun dan harmonis.

KOMPAS/ RIZA FATHONI

Sate lilit

Sate dan Senjata Para Dewa

Sate atau sesate merupakan salah satu sarana upakara Hindu di Bali. Biasanya sate dibuat sehari sebelum hari raya Galungan dan Kuningan, tepatnya saat penampahan atau hari pemotongan hewan persembahan.

Sate menyimbolkan bentuk-bentuk alat perang. Dalam buku Dharma Caruban, Tuntunan Membuat Olahan/Bebanten karya Wayan Budha Gautama disebutkan ada sembilan macam sate dalam Galungan. Namanya sate penawa-sangan, yang melambangkan senjata Sang Hyang Nawa Dewata atau sembilan dewata yang berada di sembilan penjuru mata angin.

Sate menyimbolkan bentuk-bentuk alat perang.

Ada juga sate yang disuguhkan untuk para tamu, yakni sate linggih. Daging yang digunakan biasanya daging bebek atau babi. Yang termasuk sate linggih antara lain sate lembat dan sate empol. Biasanya daging dililitkan pada batang serai sehingga disebut sate lilit. Sate ini menggambarkan bahwa masyarakat Bali tidak bisa diceraiberaikan.

(Bey Julianery)