Pekarangan rumah Razali Hanafiah (61) rimbun oleh aneka tanaman. Di sanalah, sebagian bumbu kari disediakan alam. Namun, dari tahun ke tahun jumlahnya kian menipis, dan kini hanya cukup untuk bumbu semangkuk kari.

Sebatang pohon temurui tumbuh di halaman samping rumah Razali di Desa Meunasah, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Daun pohon perdu itu menjanjikan aroma kari yang nikmat.

Ya, daun temurui adalah salah satu bumbu utama kari. Itulah sebabnya daun temurui disebut daun kari. Karena pentingnya daun itu dalam masakan kari, pohon temurui ditemukan di hampir setiap pekarangan rumah orang Aceh.

Selain temurui, ada sejumlah tanaman bumbu yang tumbuh subur di pekarangan rumah Razali mulai kunyit, jahe, daun pandan, jeruk purut, serai, dan aneka cabai. Di desa itu juga terlihat beberapa batang pohon cengkeh dan kemiri. ”Meski serba sedikit, sebagian bumbu kari ada di pekarangan rumah kami. Sebagian lainnya seperti lada, kacakraci (kaskas), jintan, pala, dan lawang keling mesti beli di pasar,” ujar Razali, pencicip kari di Desa Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya.

KOMPAS/ AGUS SUSANTO

Daun temurui dimasukkan dalam kari kambing untuk dihidangkan dalam acara akikah sebuah keluarga di pinggiran kota Banda Aceh, Aceh, Rabu (27/2).

Boleh dikata, sebagian besar bumbu kari disediakan alam. Cut Nyak Mizar, warga Seuneubuk, Meulaboh, Aceh Barat, menceritakan, di pekarangan rumah neneknya tumbuh beberapa pokok lada. ”Kalau ingin memasak kari, kami ambil ladanya dari sana,” ujar Cut Nyak.

Pekarangan rumah Rohani (70) di Ie Suum, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar, menyediakan bahan bumbu kari lebih lengkap lagi. Ada pohon pala, lada, temurui, cabai, kunyit, jahe, kemiri, kayu manis, kelapa, serai, pandan, dan jeruk purut. Kalau hanya untuk kebutuhan rumah tangga, Rohani tinggal memanennya sedikit dan mencemplungkannya sebagai bumbu ke dalam kuali.

Sumber lada

Sumatera sejak ribuan tahun lalu tercatat dalam jalur perdagangan dunia. Komoditas yang dicari pedagang asing di Sumatera, antara lain, kapur barus, kemenyan, emas, dan rempah seperti cengkeh, kayu manis, dan pala. Aceh berada dalam mata rantai perdagangan itu.

Kerajaan yang menguasai wilayah Aceh dan daerah di pesisir barat Sumatera bagian utara itu disebut-sebut kaya-raya karena lada.

Arun K Dasgupta (1962) mengatakan, sejak kejatuhan Malaka ke tangan Portugis, pedagang Muslim melirik Pasai dan Pidie sebagai tempat berniaga. Kota pelabuhan itu pun menjelma bandar niaga yang sibuk pada abad ke-16. Abad ke-17, muncul Kesultanan Aceh yang mengalami masa jaya di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda.

Kerajaan yang menguasai wilayah Aceh dan daerah di pesisir barat Sumatera bagian utara itu disebut-sebut kaya-raya karena lada. Pada masa itu, kebun (seuneubok) lada banyak dibuka. Namun, berapa persis produksi lada yang dihasilkan tidak jelas benar. Kita hanya bisa melihat serpihan catatan yang dibuat oleh pedagang atau utusan asing. Tome Pires (1512-1515), misalnya, mencatat, pelabuhan Pidie dan Pasai saja ketika itu memperdagangkan lada sebanyak 16.000 bahar atau sekitar 2.718 ton per tahun.

Jitet

Ilustrasi pohon lada

Van Leur memperkirakan jumlah total lada yang diproduksi per tahun di pesisir barat Sumatera sekitar 2.400.000 lbs atau 1.088,62 ton. Ditambah lada yang dikuasai Raja Aceh sebanyak 408,2 ton, total produksi lada Kerajaan Aceh sekitar 1.524 ton. Namun, catatan lain dibuat sebelum tahun 1620 yang menyebutkan volume lada yang dikuasai Kerajaan Aceh hanya sekitar 1.190 ton (Dasgupta, 1962).

Terlepas dari perbedaan data di atas, catatan tersebut me-nunjukkan produksi lada saat itu jauh melampaui produksi lada Aceh saat ini. Buku Statistik Perkebunan Aceh tahun 2011 mencatat, produksi lada Aceh sebesar 217 ton pada 2009, 205 ton tahun 2010, dan 216 ton di tahun 2011. Luas areal tanaman lada juga terus menyusut dari 1.022 hektar (2009) menjadi 921 hektar (2010) dan 896 hektar (2011). Dari angka itu pun ternyata hanya 424 hektar kebun lada yang menghasilkan. Sisanya, 332 hektar, belum menghasilkan dan 141 hektar rusak. Sebagian besar kebun lada saat ini tersisa di Aceh Besar dan Pidie.

Tinggal kenangan

Kejayaan lada di Aceh tinggal kenangan. Dan, kenangan manis panen lada terakhir kali dirasakan Rohani tahun 1980-an. Saat itu, ia masih mengelola 1 hektar kebun lada peninggalan orangtuanya di Ie Suum, Aceh Besar. Ia ingat, setiap musim panen lada, para pengepul lada datang dengan mobil pikap untuk memborong lada milik warga. ”Dari menanam lada, orang bisa naik haji,” kenang Rohani.

Rohani juga bermimpi naik haji ketika itu. Namun, mimpinya tidak terwujud lantaran kebun lada warisan orangtuanya diserang hama dan mati. Kini, Rohani hanya memiliki tiga pokok lada yang sudah tua. ”Tanaman yang tersisa ini pun akan segera mati karena pohon dadap yang jadi tumpangannya terserang hama,” tuturnya.

KOMPAS/ AGUS SUSANTO

Menu ayam tangkap yang menggunakan lada.

Khoiri Anwar (62), warga sekampung Rohani, sempat mencecap manisnya bisnis lada hingga tahun 1981. Pada 1982, petani membabat kebun lada dan menggantinya dengan tanaman cengkeh. Manis rezeki cengkeh pun tidak lama dicecap Khoiri. Ketika produksi cengkeh melonjak tinggi, harga malah jatuh. Akibatnya, cengkeh dimusnahkan. ”Sebenarnya saya ingin menanam lada, tetapi bibit lada sulit didapat. Kami mencarinya ke Gunung Ular di Montasik,” ucapnya.

Kejayaan lada juga masih diingat Cut Nyak Mizar pada 1960-an. Ketika itu sekeliling rumah neneknya dikepung tanaman lada. Hasil panen lada ditampung oleh pedagang di Kota Meulaboh sebelum dikirim ke Malaysia. ”Saya ingat, penampung lada di Meulaboh bernama Haji Ibrahim,” ujar Cut Nyak.

Cut Dahlia, kerabat Cut Nyak, mencoba menanam lada lagi tahun 1997, sebanyak 400 batang pohon lada di kebun seluas 4 hektar di Meulaboh. Belum sempat menikmati panen lada, konflik politik pecah di Aceh. Kebun lada itu pun telantar dan akhirnya rusak. ”Setelah konflik reda, kebun itu saya jual dan pembelinya mengganti tanaman lada dengan sawit,” katanya.

Sejak saat itu, Cut Dahlia mengubur mimpi untuk menjadi petani lada. ”Lada itu bagian dari masa lalu. Orang Aceh sekarang lebih senang menanam sawit,” katanya dengan senyum kecut.

Kini, orang Aceh membeli lada untuk memasak kari dalam jumlah banyak. Sebab, lada yang tersisa di pekarangan hanya cukup untuk bumbu semangkuk kari.

(Budi Suwarna/ Ahmad Arif)