KOMPAS/EDDY HASBY

Kawasan Seberang Ulu yang berada di tepian Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (25/2).

Liputan Kompas Nasional

Jelajah Musi 2010: “Jingok” Palembang dari Puncak Ampera…

·sekitar 4 menit baca

Rasanya tidak ada penduduk Palembang, Sumatera Selatan, yang belum pernah melewati Jembatan Ampera. Namun, pastinya tidak banyak yang pernah menaiki menara Jembatan Ampera. Padahal, dua menara Jembatan Ampera setinggi 60 meter itu bisa dinaiki meskipun butuh perjuangan dan keberanian.

Sejak bagian tengah Jembatan Ampera di Palembang yang diresmikan tahun 1965 itu tidak dinaik-turunkan lagi, praktis menara jembatan tak terawat. Selama hampir 40 tahun diabaikan. Sejak tahun 1973, kondisi menara Jembatan Ampera, baik di luar maupun di dalam, kotor.

Untuk mencapai puncak menara, tidaklah mudah. Saat Kompas berusaha menaiki puncak menara jembatan yang berada di sisi Seberang Ilir, Kamis (25/2), bau pesing dan sampah bertebaran di kaki menara. Gelap dan pengap membayangi perjalanan mendaki lebih dari 230 anak tangga.

Penerangan hanya mengandalkan lampu hias yang tak membantu menerangi bagian dalam menara jembatan. Suasana yang demikian membuat kita harus berhati-hati.

Sampai di ruangan berdinding kaca di puncak Jembatan Ampera, kaca- kaca terlihat dalam kondisi pecah di beberapa bagian. Sampah sisa air minum kemasan dan kardus berserakan di mana-mana. Kursi tak terpakai pun bergelimpangan. Beberapa tanaman paku tumbuh subur di pinggir ruangan.

Di ruang atas itu ada keterangan tentang spesifikasi jembatan yang masih tertulis dalam bahasa Indonesia ejaan lama. Namun, tak semua bisa terbaca jelas. Sebagian huruf sudah kabur.

Untuk menuju atap menara jembatan, tidak ada tangga. kami harus bertumpu pada sebuah drum dan berpijak pada tali tambang untuk naik ke bagian yang berbentuk mirip plafon. Selanjutnya, menyusuri lubang dengan diameter sekitar 60 sentimeter untuk naik ke atas atap.

Segala penderitaan untuk mencapai puncak Jembatan Ampera terbayar setelah sampai di atap. Dari ketinggian itu, pemandangan Kota Palembang sangat indah. Suasana Palembang dan sekitarnya terlihat jelas, termasuk alur Sungai Musi.

Di Seberang Ilir, terlihat pabrik Pupuk Sriwidjaja, Pelabuhan Boom Baru, mal, hotel, Masjid Agung Palembang, dan Kantor Wali Kota Palembang, dengan menara leding yang khas. Di Seberang Ulu, terlihat kilang minyak Pertamina di Plaju dan Sungai Gerong, muara Sungai Komering, Stadion Gelora Sriwijaya, Pabrik Semen Baturaja, dan muara Sungai Ogan.

Menurut RM Amron, petugas perawat lampu hias Jembatan Ampera dari Dinas Penerangan Jalan Umum, Pertamanan, dan Pemakaman Kota Pelambang, bagian tengah jembatan itu tak lagi dinaik-turunkan sejak tahun 1973. Saat itu, dengan volume kendaraan yang masih rendah, kemacetan di setiap sisi jembatan bisa mencapai dua kilometer saat bagian itu dinaik-turunkan.

“Jika sekarang dinaik-turunkan untuk memberi kesempatan kapal lewat, bisa dibayangkan kemacetan yang akan melanda Palembang,” katanya.

Jingok (melihat) Palembang dari puncak Jembatan Ampera sungguh menyenangkan. Menikmati pemandangan dari puncak jembatan itu bisa menjadi obyek wisata baru, tetapi perjalanan ke puncaknya tentu harus dibuat nyaman. Selain itu, perlu dilengkapi papan informasi mengenai sejarah jembatan tersebut. (M ZAID WAHYUDI DAN WISNU AJI DEWABRATA)

GIS: SLAMET JP, GRAFIK: BUYUNG, SEPTA

Sumber: Litbang Kompas

Jelajah Musi 2010: Pembuat Perahu Keluhkan Sulitnya Bahan Baku

Para pembuat perahu berbagai jenis di tepi Sungai Musi di Kabupaten Ogan Ilir dan Kota Palembang, Sumatera Selatan, mengeluhkan sulitnya mencari bahan baku berupa kayu bungur dan meranti. Ketidakpastian adanya bahan baku itu mengancam kelangsungan industri pembuatan perahu yang menghidupi ribuan masyarakat di sana.

Pembuat perahu motor asal Desa Kemang Bejalu, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sihafuddin (51), yang ditemui tim Jelajah Musi 2010-dalam perjalanan menyusuri Sungai Musi dari Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, hingga Benteng Kuto Besak di Palembang, Sabtu (13/3)-mengatakan, pasokan kayu bungur (Lagerstroemia speciosa pers) hanya mengandalkan perkebunan-perkebunan warga Sekayu, Musi Banyuasin. Sekayu saat ini merupakan satu-satunya daerah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Musi yang warganya masih menanam kayu bungur.

Di luar kebun rakyat, yaitu di hutan-hutan umum, kayu bungur sudah habis. Puluhan tahun lalu, di sekitar Kemang Bejalu juga banyak kayu bungur. Namun, saat ini pohon jenis itu sudah tidak ditemukan lagi.

Kayu bungur adalah jenis tanaman rawa. Jika ditanam semakin jauh dari rawa, kualitas kayunya justru lebih rendah. Kayu ini dipilih sebagai bahan dasar pembuatan kapal karena sifatnya yang tidak menyerap air. Batang kayu yang dapat digunakan adalah pohon yang umurnya lebih dari 35 tahun. “Zaman anak-anak saya nanti yang meneruskan pembuatan kapal, saya tidak yakin kayu bungur masih ada,” kata Sihafuddin menyangsikan.

Selain kayu bungur, Sihafuddin menggunakan kayu meranti (Shorea sp) untuk bagian dalam perahu. Namun, kayu meranti ini tak dapat digunakan sebagai kerangka dasar atau bagian luar kapal karena tidak tahan air.

Bahan baku utama

Berbeda dengan Sihafuddin. Hanan (43), pembuat taksi air di Kelurahan Muara Ogan, Kecamatan Kertapati, Palembang, justru menjadikan kayu meranti sebagai bahan baku utama. Taksi air yang berukuran jauh lebih kecil daripada perahu motor hanya digunakan sebagai alat transportasi untuk menyeberangi Sungai Musi yang menghubungkan bagian hulu dengan hilir.

Kayu itu selama ini diperoleh di Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin. Namun, kini kayu meranti juga susah diperoleh.

Sihafuddin sebenarnya dapat menimbun kayu bungur untuk menjamin pembuatan perahunya. Namun, itu tentunya membutuhkan modal besar.

Beberapa bank pernah menawarkan bantuan modal kepada dia. Namun, Sihafuddin menolaknya dengan alasan sulit untuk membayar cicilan setiap bulan karena pembayaran dari pembeli kapal tidak tentu.

Kayu bungur sebenarnya masih dapat diperoleh di Lampung dan Jambi. Namun, biaya angkutnya mahal. (MZW/HLN/ONI/WAD/JAN/MUL)

Artikel Lainnya