KOMPAS/KARTONO RYADI

AWAK PINISI - Ketujuh awak Pinisi Ammana Gappa telah tiba dengan selamat, disambut upacara sederhana di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu siang (19/10). Ketujuh awak asli Tanaberu (Sulsel) masing-masing (dari kiri ke kanan, berkalung bunga) Muhammad (25)Tutu Abba (61), kapten Muhammad Yunus (73) Kuasa Kuasa Usaha Indonesia di Madagaskar, Ny. Is Rachmat Sapparing (57), Arauddin (46), Appong (46) dan Udin (35).

Kepulangan Awak Ammana Gappa

Awak “Ammana Gappa” Tiba di Tanah Air

·sekitar 5 menit baca

Awak “Ammana Gappa” Tiba di Tanah Air

SEBUAH KEBERSAHAJAAN DALAM GEMERLAP PENYAMBUTAN

TIADA yang dapat dikatakan Muhammad Yunus (73) ketika menjejakkan kembali kakinya di bumi Indonesia, begitu turun dari pesawat Singapore Airlines itu. Hari terik, sekitar pukul 12.05. Bahkan manakala seorang kerabatnya mendekati, menyalami, dan memeluknya, pelaut tradisional dengan pengalaman 50 tahun melayari lautan luas di perairan Indonesia yang dipercaya menjadi nakhoda perahu Pinisi Ammana Gappa itu, hanya diam. Tapi matanya berair.

Appong (46) lain lagi. Jurumudi ulung ini juga sempat hanya terdiam beberapa saat, ketika Ahmad Nur selaku salah seorang penjemput yang juga ikut membidani pembuatan perahu Pinisi Ammana Gappa di Tanaberu (Sulawesi Selatan), menyalaminya. Setelah itu, hanya sepenggal kalimat yang diucapkannya, “Bagaimana orang-orang di kampung?”

Sekelumit suasana haru itulah yang mewarnai upacara cukup gemerlap dalam penyambutan rombongan awak perahu Pinisi Ammana Gappa, di bandara Soekarno-Hatta, Sabtu siang kemarin (19/10). Tujuh dari seluruh 10 penumpang kapal itu telah tiba kembali dengan selamat di tanah air, setelah menempuh penerbangan sekitar 24 jam dari Madagaskar-Mauritius-Singapura-Indonesia.

Mereka adalah nakhoda Muhammad Yunus, Appong, Sapparing (57), Tutu Abba (61), Udin (35), Arauddin (46), dan awak termuda Muhammad (25). Ikut pula mengantarkan hingga ke Tanah Air, Ny Is Rachmat istri Kuasa Indonesia di Madagaskar. Seorang awak lainnya, wartawan Kompas Norman Edwin (36) selaku juru bahasa dan satu-satunya wartawan yang mendapatkan kehormatan menyaksikan proses pengukiran sejarah bahari bangsa Indonesia ini, tidak ikut serta dalam rombongan karena masih melanjutkan perjalanannya ke Afrika Timur. Sedangkan pemilik kapal, Michael Carr dan istrinya Anne, masih mengurusi perahu Pinisi di perairan Madagaskar.

Cukup gemerlap sambutan yang diberikan kepada rombongan pahlawan samudera ini. Sepasukan pemain kesenian daerah Sulsel ikut menyemarakkan suasana, ditambah dengan puluhan anggota Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS). Tampak pula hadir pengusaha Sulsel Haji Yusuf Kalla, pejabat dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Uwe Thomas selaku perwakilan perusahaan perkapalan Jerman Blohm + Voss yang menjadi sponsor ekspedisi ini, dan beberapa orang tokoh masyarakat Sulsel di Jakarta.

Menyabung nyawa

Usailah sudah perjalanan penuh misi namun menyabung nyawa ini, setelah berangkat meninggalkan pelabuhan Makassar persis di hari ulang tahun kemerdekaan, petang 17 Agustus lalu. Empat hari empat malam berlayar hingga tiba di pelabuhan Benoa (Bali), dan beristirahat di sana sekitar 10 hari. Tanggal 31 Agustus 1991 Pinisi Ammana Gappa kembali menjejak samudera luas, dan 7 September tiba di Pulau Christmas, antara lain untuk menurunkan salah seorang awak yang menderita sakit, Jumadi. Tanggal 10 September, perahu bertolak lagi, kali ini benar-benar di samudera tak berbatas.

“Tak terlihat sama sekali bukit atau gunung. Ini benar-benar perairan terbuka, dengan tantangan yang sangat dahsyat. Modal kami sebagai pelaut Bugis-Makassar hanya tiga, yakni perahu yang kami pikir andal, hati teguh, dan keberanian sambil berserah diri kepada Allah,” ungkap nakhoda Muhammad Yunus, sambil menggambarkan ombak yang tingginya sampai 7-10 meter. Mandi pun tidak, hingga tiba di perairan Madagaskar. Makan pun sedikit menjadi masalah, karena mereka kurang terbiasa memakan makanan dari kaleng. “Ikan susah dapat. Mungkin karena di samudera luas begitu, makanya sulit dapat ikan. Ikan-ikan mungkin tahu, tak akan ada orang yang mau memancing mereka di sana,” ungkap Yunus, seraya tertawa.

Yunus juga mengakui, Michael Carr dan istrinya sering marah- marah. Namun ini lebih karena sulitnya komunikasi. “Untunglah ada wartawan Anda (Norman Edwin-red) yang menjadi penterjemah. Fisiknya juga luar biasa, tidak pernah mual apalagi muntah. Tidak tidur semalaman pun dia tahan,” katanya lagi.

Selama beberapa hari perahu sempat dihajar badai. Namun perjuangan hidup-mati itu berakhir juga, ketika 5 Oktober mereka tiba di pelabuhan Antsiranana, utara Madagaskar. Setelah itu, sedikit pupuslah kejenuhan yang membelenggu selama pelayaran total 46 hari itu (dihitung dari Makassar). Yang ada berikutnya hanya rasa bangga, bahagia. Di Madagaskar saja mereka disambut hangat, mulai dari Kuasa Usaha RI, hingga ke para pejabat di negeri tersebut. “Saya mendapat medali, seperti emas dari seorang pejabat di sana,” ungkap Yunus. Beberapa awak lainnya mengaku diberi uang, meskipun tidak besar, dari orang-orang KBRI.

Bersahaja

Meskipun ketujuh awak asli Sulsel yang telah sarat pengamalan di lautan ini telah kembali sebagai layaknya para pahlawan sesudah menunaikan tugas yang tak semua orang bisa atau berani melakukannya, tak sedikit pun terbersit kesombongan di mata mereka. Yang terlihat hanya sebuah kebersahajaan yang sangat tulus. Muhammad Yunus ketika tiba kemarin hanya mengenakan baju kaos training warna biru yang telah lusuh, berjalan dengan sedikit terpincang karena kaki kirinya sakit akibat terlalu lama duduk di pesawat. Kru lainnya berbatik, dari bahan yang juga sederhana.

Mereka memang orang-orang yang sederhana, lugu, namun niscaya bersih hati. Lihat saja keluguan Yunus ketika di awal pelayaran dari Makassar dulu mengakui, dia menerima tawaran menantang maut ini hanya lantaran harga diri sebagai pelaut tulen, serta sekaligus ingin dapat melihat-lihat negeri lain termasuk naik pesawat terbang tanpa perlu membayar. “Kalau ajal, di mana pun bisa datang menjemput,” ujarnya ketika itu.

Keluguan serupa terungkap kembali, dan niscaya memancing keharuan. Kemarin Yunus bercerita bahwa setibanya di Madagaskar dia tidak punya cukup uang untuk membelikan buah tangan bagi keluarganya. “Tapi saya usahakan juga membelikan anak saya sepasang sepatu, lain tidak. Hanya saja, setelah berhari-hari saya pandangi sepatu itu, tak tahan saya dan akhirnya saya pakai juga. Saya beli murah, hanya Rp 8.000.”

Awak lainnya juga sama. “Kami tidak punya uang lagi, karena semua sudah ditinggalkan ke keluarga di kampung. Jadi tidak sempat membelikan mereka sekadar oleh-oleh,” kata Arauddin. Sedangkan Sapparing hanya berujar singkat, “Yang kami bawa pulang hanya pakaian kotor saja.”

Menurut rencana, ketujuh awak ini akan berada di Jakarta selama seminggu, atas tanggungan Blohm + Voss dan KKSS. Selain bertemu dengan beberapa pejabat pemerintah, mereka juga akan diajak mengunjungi beberapa lokasi rekreasi di Jakarta.

Keberhasilan ekspedisi ini sekalilgus membuktikan kebesaran nenek moyang kita, antara lain dari Sulsel, dalam mengarungi samudera luas. Sekaligus juga sebagai bukti betapa kokohnya konstruksi perahu tradisional Pinisi dari Bugis-Makasar itu. Bahkan Uwe Thomas dari Blohm + Voss yang menjadi sponsor ekspedisi ini berkeyakinan, nenek moyang Indonesia sudah lebih dulu mengarungi lautan luas dibandingkan dengan Columbus atau para pelaut tersohor lainnya.

Wartawan Kompas dari Ujungpandang yang sempat menemui pembuat perahu Ahmad Nur di Tanaberu, juga sangat bangga akan ketahanan perahu ini. “Karena itu, saya sepakat dengan tokoh Sulsel Pak Yusuf Kalla, bahwa sukses ini jangan dibuyarkan oleh hal-hal sepele,” ujarnya berkaitan dengan bserita yang mneyebutkan salah paham yang sempat terjadi antara para awak. Ditambahkannya, ini antara lain disebabkan kesenjangan komunikasi, karena rendahnya taraf pendidikan para awak. “Saudara-saudara saya itu tak terlampau berpikir tentang napak tilas sejarah, atau hal muluk lainnya. Mereka hanya berpikir bagaimana melayarkan perahu dengan baik,” kata Ahmad Nur. (kr/fm/as/ary)

Artikel Lainnya