KOMPAS/NAWA TUNGGAL

Asep Suherman.

Susur Rel 2014

Sosok: Asep Suherman – Cinta Mati pada Jalur Rel Mati * Liputan Khusus Susur Rel 2014

·sekitar 4 menit baca

Hobinya aneh, menyusuri rel kereta api. Lebih aneh lagi, yang disusurinya adalah rel kereta api yang sudah tak berfungsi atau sudah mati. Itulah Asep Suherman (35). Hobi aneh ini bukan baru sekarang dia tekuni. Sejak 2006 Asep menyusuri rel-rel mati di Pulau Jawa. Di kalangan pencinta kereta api, dia dikenal sebagai ”spesialis” jalur-jalur mati.

Jalur-jalur kereta api itu banyak dimatikan pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Meski sebagian lain jalur kereta api ada pula yang dinyatakan ditutup sementara setelah memasuki masa kemerdekaan.

”Pengalaman paling berat ketika saya menyusuri jalur mati Banjarnegara menuju Wonosobo sekitar tahun 2012. Saya seorang diri berjalan kaki menelusuri bekas jalur kereta api yang menanjak. Apalagi ketika itu juga sering turun hujan,” cerita Asep, Selasa (8/4), ketika memandu penelusuran bekas jalur kereta api lintas Banjar-Cijulang dan Garut-Cikajang di Jawa Barat.

Menurut Iman Subarkah dalam buku Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita 1867-1992, lintas Banjarnegara-Wonosobo dibangun perusahaan swasta Serajoedal Stoomtram Maatschappij dalam dua periode. Lintas Banjarnegara-Selokromo sepanjang 19 kilometer selesai dibangun dan dibuka operasionalnya pada 1 Mei 1916.

Kemudian, dari Selokromo dilanjutkan ke Wonosobo sepanjang 14 kilometer, selesai dibangun pada 7 Juni 1917. Lintas Banjarnegara sampai Wonosobo menjadi sepanjang 33 kilometer.

”Penjelajahan saya di jalur itu menjadi paling berat karena menanjak. Dari pengalaman itu, setiap kali menemui lintasan menanjak, jalur jelajahnya saya balik dari titik berangkat paling atas lalu ke bawah,” kata Asep.

Lintas Banjarnegara-Wonosobo merupakan jalur konsesi yang dimiliki Serajoedal Stoomtram Maatschappij, di samping lintas Maos-Banjarnegara sepanjang 84 kilometer dan lintas Banjarnegara-Purbalingga sepanjang 7 kilometer. Menurut Asep, semua lintasan itu menjadi jalur mati sejak tahun 1983-1984 sampai sekarang.

”Sangat disayangkan ketika jalur itu dimatikan. Dari Maos, jalur rel kereta api itu mengikuti pinggir Sungai Serayu. Padahal, pemandangan di sekelilingnya sangat indah,” kata dia mengenang.

Pada 2006-2013 Asep bergabung dengan komunitas pencinta kereta api Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Wilayah Bandung. Sekarang Asep tidak mengikatkan diri pada kelompok atau komunitas pencinta kereta api mana pun, tetapi dia tetap aktif bergaul dengan sesama pencinta perkeretaapian.

”Ini yang keempat kalinya saya menjelajahi lintas Banjar-Cijulang dan Garut Cikajang,” ujar dia.

Asep bersama koordinator wilayah Bandung untuk IRPS, Deden Suprayitno, mendampingi Kompas pada 6-8 April 2014. Kami menyusuri jalur mati kereta api lintas Banjar-Cijulang sepanjang 82 kilometer, di sebagian besar wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Perjalanan kami dilanjutkan pada lintas Garut-Cikajang sepanjang 28 kilometer di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Dihidupkan kembali

Selain untuk mengobati rasa ingin tahunya, Asep juga memiliki harapan, jalur-jalur mati kereta api yang ada selama ini agar bisa dihidupkan kembali. Jejaknya sebagian besar masih bisa ditemukan dan kereta api sebagai angkutan massal akan sangat berguna bagi masa depan.

”Ketika tahun 2012 menelusuri dua jalur kereta api di Yogyakarta yang dimatikan tahun 1943 oleh Jepang, saya masih bisa menemukan jejaknya,” kata Asep.

Jepang membongkar rel di sepanjang jalur Palbapang di Kabupaten Bantul sampai Sewugalur di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, sepanjang 15 kilometer.

Kemudian, jalur rel dari Ngabean di dekat Keraton Yogyakarta sampai Pundong, Bantul, sepanjang 27 kilometer juga dibongkar Jepang. Rel-rel itu dialihkan Jepang untuk pembangunan jalur lain, termasuk ke wilayah negara Burma yang sedang dikuasainya.

Perusahaan swasta Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) membangun lintas Yogyakarta-Brosot-Sewugalur dalam tiga periode. Lintas Yogyakarta-Srandakan sepanjang 23 kilometer mulai dibuka operasionalnya pada 21 Mei 1895.

Adapun lintas Srandakan-Brosot sepanjang 2 kilometer, dengan menyeberang muara Sungai Progo, dibuka pada 1 April 1915. Lintas Brosot-Sewugalur sepanjang 3 kilometer dibuka setahun kemudian, 1 April 1916.

”Jejak-jejak jalur rel kereta api dan bekas jembatannya masih bisa kita temukan,” kata Asep.

Pembangunan jalur Ngabean-Pundong dibagi dalam lintas Ngabean-Pasar Gede sepanjang 6 kilometer yang dibuka pada 15 Desember 1917. Kemudian, lintas Pasar Gede-Pundong sepanjang 21 kilometer dibuka pada 15 Januari 1919.

”Di stasiun akhir Pundong, kita masih bisa menemukan bekas depo atau bengkel lokomotif dan gerbong,” kata Asep.

Di Jawa Timur, Asep juga menjelajahi beberapa jalur mati kereta api. Jalur itu di antaranya lintas Madiun-Ponorogo-Slahung, lintas Kalisat-Panarukan, dan Banyuwangi lama.

Ciwidey

Penjelajahan jalur mati pertama kali diikuti Asep tahun 2006. Ketika itu dia bergabung dengan komunitas pencinta kereta api IRPS Bandung. Itu dilakukan dengan berjalan kaki dari Cikudapateuh menuju suatu titik wesel atau perlengkapan untuk pemindahan jalur rel ke arah Ciwidey.

”Waktu itu dengan berjalan kaki kami tidak sampai ke Ciwidey. Kemudian, beberapa waktu berikutnya perjalanan kami dilanjutkan dengan mengendarai sepeda motor dari Stasiun Bandung ke Ciwidey,” tutur Asep.

Lintas Bandung-Ciwidey sepanjang 41 kilometer dibangun dengan periode Bandung-Soreang sepanjang 29 kilometer yang dibuka pada 13 Februari 1921. Jalur ini dilanjutkan dengan Soreang-Ciwidey sepanjang 12 kilometer, dibuka pada 17 Juni 1924. Jalur ini tidak termasuk daftar yang dibongkar pada masa pendudukan Jepang.

”Pada era tahun 1980-an, banyak sekali jalur kereta api kita yang dimatikan sampai sekarang,” ungkap Asep.

Ciwidey merupakan bagian dari wilayah perkebunan kina di Jawa Barat selatan. Pembukaan jalur kereta api di sini dimaksudkan untuk mempercepat distribusi hasil perkebunan dari wilayah tersebut ke kota Jakarta, kemudian diekspor, antara lain, ke Eropa.

”Saya sangat tertarik dengan jalur kereta api ini. Setelah mengikuti jalur mati Bandung-Ciwidey itu, hampir setiap bulan saya menelusuri jalur-jalur mati kereta api lainnya. Biasanya pertama kali saya jalan bersama rombongan, kemudian perjalanan itu sering saya ulangi sendirian,” kata Asep.

Menjelajah jalur rel kereta api mati seakan telah menjadi cinta mati bagi Asep.

Artikel Lainnya