Kapak yang dipegang Nyoman Tukar (50) diayunkan dengan terampil untuk memotong batang kayu hingga ukuran yang dia butuhkan. Batang tersebut rencananya menjadi tiang untuk warung makan yang didirikan di bibir tebing Pantai Kelingking, sebuah pantai yang terletak di sisi timur Pulau Nusa Penida, Bali. Dia sedang beradu cepat dengan gairah wisata yang bertumbuh di pulau tersebut.

Berdinding anyaman bambu, warung makan yang dibangun untuk anaknya itu berdiri tidak jauh dari warung makan miliknya. Lokasinya tidak jauh dari tempat parkir mobil serta pintu masuk menuju pantai. Menghabiskan dana Rp 30 juta, dia optimistis warung baru itu bisa menjamu  wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara yang berkunjung.

”Saya yang pertama kali membuka warung di sini sekitar enam bulan lalu. Sebelumnya tempat ini sepi,” kata Nyoman, Selasa (24/10).

Di sekitar warung milik Nyoman juga berdiri warung-warung sejenis dengan beberapa variasi, sebagian sudah menggunakan tembok bata dan menawarkan layanan lain, seperti toilet umum ataupun kamar mandi bagi pengunjung yang ingin membilas diri.

Tak jauh dari situ ada pula warung milik Kuat (75) yang memiliki suguhan unik, yakni gardu pandang dengan satu tujuan, yakni tempat membuat swafoto atau selfie. Tarifnya cukup terjangkau, Rp 5.000 per orang yang naik ke atas dan membuat swafoto ataupun video sepuasnya. Dari sudut lokasi ini, tampilan lanskap laut yang ditawarkan sangat memesona.

Kompas/Hendriyo Widi

Panorama Pantai Antuh di Nusa Penida, Klungkung, Bali, ”Surga Biru” bagi wisatawan, Senin (23/10). Pantai itu memiliki daratan yang menjorok ke laut seperti jari kelingking.

Pintu masuk pantai ini terletak di sebuah tebing dengan bukit memanjang dan menjorok ke arah laut, menyerupai jari kelingking. Sisi barat dari bukit ini terdapat pantai berpasir yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki menyusuri anak tangga yang cukup menguras fisik.

Dari tebing saja, pemandangan yang bisa dinikmati oleh wisatawan sungguh memikat. Samudra yang luas dan ombak yang menabrak tebing batu. Di era media sosial saat ini, inilah kesempatan berharga untuk mendapatkan foto yang akan mengundang decak kagum para pengikut akun medsos masing-masing.

Jangan heran apbila menjumpai banyak pemandangan serupa: wisatawan yang menjulurkan tangan ke atas sambil memegang gawai atau kamera. Memasang mimik muka yang bahagia dan klik!

Cerita akan pantai ini yang beredar lewat linimasa media sosial menjadi medium promosi yang efektif untuk mendatangkan orang-orang lain yang penasaran.

Harga terjangkau

Suguhan batin yang disajikan Pantai Kelingking bisa didapatkan dengan harga yang terbilang terjangkau untuk mereka yang biasa berwisata di Pulau Jawa. Apalagi jika dibandingkan dengan obyek wisata di ”saudara besar”, yakni Pulau Bali. Retribusi Rp 10.000 saja yang menyambut saat masuk ke lokasi obyek wisata. Harga makanan di sana, seperti sepiring nasi goreng, masuk dalam kategori murah untuk kantong wisatawan.

Cerita akan pantai ini yang beredar lewat linimasa media sosial menjadi medium promosi yang efektif untuk mendatangkan orang-orang lain yang penasaran untuk mencoba sendiri. Pulau Nusa Penida bisa dijangkau dengan perahu penyeberangan dari beberapa titik di Pulau Bali, salah satunya dari Pantai Sanur di Denpasar, Kuasambe di daerah Klungkung, serta dari Pelabuhan Padang Bai. Ongkos yang harus dikeluarkan mulai Rp 40.000 hingga Rp 75.000 per orang.

Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo

Penumpang bersiap menaiki kapal cepat di dermaga yang menghubungkan Nusa Penida ke Pulau Bali, Rabu (25/10).

Di pulau itu  tersedia penginapan dalam bentuk vila ataupun kamar yang disewakan, lengkap dengan pilihan untuk menyewa mobil berikut pengemudi. Namun, bila keadaan memaksa, datang di pagi hari dan pulang pada sore hari tetap bisa dimungkinkan.

Festival Nusa Penida di tahun 2013 diyakini warga setempat sebagai sentakan yang mengawali gairah pariwisata ini. Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta membuat acara tersebut sebagai sarana untuk memperkenalkan panorama Nusa Penida kepada dunia luar.

Selama ini, warga Nusa Penida hidup dengan stigma terbelakang dan dibayangi industri pariwisata di Bali yang sudah matang. Festival tersebut salah satunya bertujuan untuk membuka mata publik bahwa tiga pulau, yakni Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan, memiliki potensi pariwisata yang dibutuhkan.

Kompas/Ichwan Susanto

Ikan scorpion ini tampak di titik selam Tugu, Nusa Penida, Klungkung, Bali, Senin (23/10).

Lebih dari selusin obyek wisata yang bisa ditawarkan oleh Nusa Penida selain Pantai Kelingking. Ada kawasan Wisata Atuh yang memiliki gugusan tebing karang yang menyelipkan rasa percaya diri kepada warga untuk menyebutnya sebagai ”Raja Lima”, nama yang dikaitkan dengan Raja Ampat di Papua. Ada pula Pasih Andus atau berarti pantai yang berasap.

Lokasi yang disebutkan merupakan sekelumit contoh dari obyek wisata yang ada di darat. Di laut, Nusa Penida juga memiliki titik-titik penyelaman yang ditawarkan kepada wisatawan. Usaha pusat penyelaman (dive center) yang menawarkan jasa mulai dari perahu, penyewaan peralatan selam, sertifikasi selam, ataupun pendamping selam.

Yang unik dari wisata selam Nusa Penida adalah pertemuan dengan ikan raksasa mola-mola (sunfish).

Yang unik dari wisata selam Nusa Penida adalah pertemuan dengan ikan raksasa mola-mola (sunfish). Namun, perjumpaan ini berlangsung musiman. Biasanya bulan Juli-Agustus, saat itu ikan mola-mola mengikuti aliran air dingin dari Australia mengarah ke perairan Nusa Penida.

”Ini sekarang sudah habis-habisan dan suatu keberuntungan kalau bisa bertemu mola,” kata Robby Domu, pendamping selam lokal, akhir Oktober lalu. Memang saat itu, tim Kompas gagal bertemu sunfish ini meski dua kali turun ke Crystal Bay, lokasi selam favorit untuk mencari mola-mola.

Sebagai pengobat kekecewaan, Robby membawa tim selam Kompas menuju Manta Point untuk menikmati keanggunan liukan ”sayap” ikan pari manta yang melintas bebas di atas kepala. Lokasi ini pun tak kalah ramai dengan para penyelam seperti di Crystal Bay sehingga harus pandai-pandai mengatur posisi agar mendapatkan jarak pandang yang baik tanpa mengganggu wisatawan lain.

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Ikan pari manta berenang di lokasi Manta Point, Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, Rabu (25/10).

Penataan

Meski Nusa Penida adalah pulau tersendiri, pusat pemerintahannya ada di Pulau Bali karena Nusa Penida merupakan salah satu kecamatan dari empat kecamatan di Kabupaten Klungkung. Dari sisi pariwisata, wisatawan yang datang ke kabupaten ini hampir 70 persennya mendatangi kawasan Nusa Penida.

Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Nusa Penida hingga akhir Oktober sebanyak 245.100 orang, sementara sepanjang tahun 2016 jumlahnya mencapai 265.500 orang. Obyek wisata lain yang ada di Kabupaten Klungkung di daratan utama Bali seperti Kertha Gosa atau kawasan keraton yang menyatu dengan pusat pemerintah atau Goa Lawah.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung I Nengah Sukasta mengatakan, angka tersebut belum bisa menggambarkan seluruh data wisatawan karena arus manusia yang hilir mudik ke Nusa Penida tercampur antara wisatawan dan warga. Belum lagi rumitnya pengawasan karena operator kapal bisa membuat dermaga mereka masing-masing yang melayani penumpang.

Masalah lain yang menghinggapi kawasan wisata ini adalah gelombang perubahan gaya hidup dan mata pencarian.

Solusi yang sedang diupayakan adalah membangun Pelabuhan Segitiga Emas untuk mengintegrasikan arus keluar masuk manusia, termasuk pendataan yang lebih akurat.

Masalah lain yang menghinggapi kawasan wisata ini adalah gelombang perubahan gaya hidup dan mata pencarian masyarakat karena terpapar industri pariwisata. Pemandangan ini terlihat saat menyusuri sisi timur dari Nusa Penida, rangkaian patok yang dulunya dipakai mengikat jaring yang melindungi petak rumput laut menyembul terbengkalai.

Berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Klungkung, produksi rumput laut secara tonase relatif tidak banyak berubah. Namun, yang cukup mengkhawatirkan adalah jumlah rumah tangga perikanan yang jumlahnya menurun. Tahun 2015 tercatat 2.608 keluarga, sementara tahun sebelumnya 2.641 keluarga. Pada tahun 2013 mencapai 3.053 keluarga.

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Nelayan memasang jaring di bekas tempat budidaya rumput laut di Desa Batununggul, Nusa Penida, Klungkung, Bali, Selasa (24/10).

Saat ditemui, Suwirta tidak mau gegabah menyebutnya sebagai korban dari tumbuhnya sektor pariwisata. Pemerintah Kabupaten Klungkung tahun depan akan memulai penelitian untuk mencari tahu apa yang membuat komoditas rumput laut yang dulunya menjadi andalan di Nusa Penida kini redup.

”Bisa jadi cuaca yang membuat gagal panen, bisa juga karena beralih ke sektor pariwisata. Dengan mengetahui penyebabnya, kami bisa merumuskan kebijakan yang tepat sasaran,” kata Suwirta.

Terus berkembang

Di pulau tetangga, Nusa Lembongan, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat pun terus berkembang. Masyarakat yang semula bertani garam dan rumput laut kini beralih ke sektor pariwisata. Mereka yang semula memanen garam dan rumput laut beralih ”memanen” turis.

Made Sada juga membuka tempat pembuatan garamnya bagi wisatawan.

Wisata yang dikembangkan masyarakat adalah susur hutan mangrove menggunakan perahu dan pembuatan garam tradisional. Petani garam Nusa Lembongan, I Made Sada (60), menyatakan,  wisatawan asing senang melihat pembuatan garam tradisional. Oleh karena itu, selain melayani pembelian garam konsumsi masyarakat sekitar, Made Sada juga membuka tempat pembuatan garamnya bagi wisatawan.

Made bekerja sama dengan sejumlah agen perjalanan. Setiap satu bulan sekali Made mendapatkan bagian dari agen-agen perjalanan yang membawa wisatawan ke tempatnya itu. ”Banyak wisatawan yang membeli garam. Saya hargai Rp 50.000 per kilogram. Kalau ke masyarakat, saya menjualnya Rp 30.000 per kilogram,” katanya.

Tokoh pelestari lingkungan Nusa Lembongan, I Wayan Suarbawa, mengatakan, pariwisata sangat mengubah pola hidup dan mata pencarian masyarakat. Sebagian besar masyarakat dulu memilih merantau, sekarang mereka mengembangkan aneka usaha terkait pariwisata. Adaptasi masyarakat yang tentu tak mudah.

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Warga setempat berinteraksi dengan wisatawan yang tengah menikmati suasana senja di Pantai Crystal Beach, Nusa Penida, Bali, Minggu (22/10).

”Edukasi wisata berbasis lingkungan terus kami sosialisasikan agar tidak merusak lingkungan. Investor dari luar daerah, kami minta untuk menggandeng masyarakat setempat dan turut menjaga lingkungan baik di darat maupun wilayah lautan,” ujarnya.

Tantangan yang muncul dari pariwisata memang tidak sedikit, sama halnya dengan potensi yang ditimbulkan. I Wayan Supartawan, Ketua Majelis Alit Desa Pakraman, Kecamatan Nusa Penida, menyebutnya sebagai konsekuensi yang harus diantisipasi demi menyambut perubahan yang membawa kebaikan bagi masyarakat.

“Telur emas kapan menetasnya kalau tidak dipanasi,” ujar Wayan Supartawan saat ditemui di rumahnya.

Setiap pembangunan, terlebih untuk menuju kepada hal yang lebih baik, ujarnya, membutuhkan pengorbanan. Itulah mengapa dia selaku bagian dari majelis adat di Bali ikut bertanggung jawab untuk meredam dampak negatif agar pengorbanan yang telanjur dibuat tidak sia-sia.

(DIDIT PUTRA ERLANGGA/HENDRIYO WIDI/HARRY SUSILO/ICHWAN SUSANTO)