Berabad silam, kain tenun dari Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, ”berkibar” di seluruh Nusantara. Namun, perjalanan waktu membuat warisan budaya itu nyaris menyentuh titik nadir. Kini, upaya membangkitkan kembali kejayaan tenun Selayar mulai dirintis.

Hujan masih lebat saat Tim Jelajah Terumbu Karang Harian Kompas tiba di depan sebuah rumah di pinggir jalan poros Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/10). Di halaman rumah itu terdapat sebuah alat tenun berukuran besar. Di sebelahnya, ada dua perangkat yang berukuran lebih kecil, yakni alat tenun dan pemintal benang dari kayu.

”Alat-alat itu dipakai anak-anak untuk belajar menenun,” kata Irfan Maulana, Lurah Batangmata, di Kecamatan Bontomatene. Sejak beberapa bulan terakhir, kata Irfan, rumah itu menjadi pusat pelatihan tenun bagi generasi muda di Kelurahan Batangmata.

Dijelaskan Irfan, alat tenun yang besar bukan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang umum. Alat itu sudah dipakai sejak lama. Dua perangkat yang lebih kecil juga merupakan alat tenun tradisional yang dipakai di Selayar sejak ratusan tahun silam.

Kompas/Ingki Rinaldi

Aktivitas di salah satu sudut lokasi revitalisasi tenun Selayar di Batangmata, Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/10).

Namun, tidak ada aktivitas menenun hari itu. Daeng Jibone (70), sang guru, sedang sakit. Dia adalah salah satu dari segelintir generasi tua yang masih menenun. ”Sebenarnya, ada beberapa orang lain yang masih bisa menenun, tetapi yang mau mengajarkan kepada generasi muda hanya Daeng Jibone,” ujar Irfan.

Sebelum orang Belanda tiba, kain tenun Selayar sudah kondang. Kain itu bahkan ditenun dari tanaman kapas jenis khusus yang dulu banyak tumbuh di seluruh penjuru pulau. Kapas itu dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain, terutama sarung, yang bertekstur tebal dan kuat.

Sejarawan Anthony Reid dalam ”The Pre-Colonial Economy of Indonesia” (Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol XX, No 2, Agustus 1984) menjelaskan, katun berkualitas tinggi yang diproduksi di Selayar dan Bira (Kabupaten Bulukumba, Sulsel) diminati warga Tanah Air. Sarung kotak-kotak dengan warna cerah itu, kata Reid, sempat dipakai kaum laki-laki dan perempuan di seluruh Nusantara.

Upeti

Begitu berharganya kain tenunan Selayar sehingga dijadikan salah satu upeti yang wajib diserahkan ke Kerajaan Gowa. Upeti tersebut berlanjut saat kongsi dagang Hindia Belanda (VOC) menguasai Sulawesi Selatan pada pertengahan abad ke-17. Kain Selayar pun bernilai untuk ditukar dengan rempah-rempah.

Pada bab ”Southeast Asian Consumption of Indian and British Cotton Cloth, 1600-1850”, dalam buku How India Clothed the World: The World of South Asian Textiles 1500-1850 (2009), Reid menerangkan, produksi kain di sejumlah wilayah di Nusantara, termasuk Selayar dengan sarung kotak-kotaknya, tumbuh pesat pada akhir abad ke-17.

Ketika itu, kain asal India yang berharga tinggi tidak mampu dibeli karena kemiskinan yang melanda berbagai wilayah di Nusantara. Daerah-daerah yang tadinya mengimpor kain India beralih memproduksi sendiri kebutuhan sandang itu sekaligus menjualnya.

Kain dari Selayar, kata Reid, mulai berekspansi ke kawasan timur Nusantara. Bahkan, kain Selayar juga menjadi salah satu komoditas penting yang dibawa pelaut-pelaut Bugis dalam pelayaran dagang ke Semenanjung Malaya hingga Kamboja.

Achmad Sarabi (81), pemerhati sejarah Selayar, mengatakan, dulu Batangmata merupakan pelabuhan besar di Selayar. Salah satu komoditas utama perdagangan di pelabuhan itu adalah kain tenun Selayar.

”Sebelum penjajahan Jepang, kain sarung dibawa ke Maluku untuk ditukar pala dan cengkeh. Dari Maluku, rempah-rempah itu dibawa ke Pulau Jawa untuk dijual,” ujar Achmad. Pada masa penjajahan Jepang, kata Achmad, satu lembar sarung setara nilainya dengan 40 liter beras.

Namun, sejak katun murah buatan pabrik-pabrik di Inggris menyerbu Nusantara pada abad ke-19, produksi tenun Nusantara, termasuk Selayar, kalah bersaing. Sentra-sentra produksi pun perlahan mengalami kemunduran.

Budayawan Selayar, Rahmat Zaenal, mengatakan, aktivitas tenun dalam skala kecil sempat bertahan karena kain tenun masih dipakai dalam acara-acara adat.  Namun, sekitar tahun 1990, tekstil murah buatan pabrik menyerbu Sulawesi sehingga perajin kian sulit bertahan. “Alat-alat pun kemudian rusak sehingga produksi berhenti,” kata Rahmat.

Revitalisasi

Dari Batangmata, upaya menghidupkan kembali tenun Selayar kini sedang dirintis. Menurut Irfan, ide itu muncul saat ia dan sejumlah tetua daerah berdiskusi tentang tenun sekitar pertengahan tahun 2017. ”Dari situ, saya terdorong untuk membangkitkan kembali warisan budaya ini,” ujarnya.

Irfan bersama sejumlah warga pun mulai menelusuri alat-alat tenun yang masih tersimpan di rumah-rumah warga, khususnya di rumah keturunan bangsawan. ”Ada alat yang kondisinya masih utuh. Namun, ada pula yang komponennya sudah tidak lengkap lagi sehingga harus dibuat ulang berdasarkan keterangan dari para tetua,” tutur Irfan.

Kompas/Ingki Rinaldi

Mesin tenun di lokasi revitalisasi tenun Selayar di Batangmata, Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/10).

Daeng Jibone pun didaulat sebagai guru untuk mengajarkan tenun kepada 10 remaja putri usia SMA yang berminat menekuni keterampilan itu. ”Mereka berlatih setiap sore sehingga tidak mengganggu sekolah,” ucap Irfan.

Demi mendapatkan pemahaman lebih dalam tentang seluk-beluk tekstil, Irfan sampai melakukan studi banding ke Bandung, Jawa Barat, dengan biaya sendiri. Ia meyakini kebangkitan tenun tradisional ini akan membawa banyak dampak positif bagi warganya.

Selain menghidupkan kembali warisan budaya leluhur, tenun dapat menjadi sarana pemberdayaan perekonomian masyarakat. Apalagi, saat ini pasar untuk produk-produk kerajinan tenun tradisional bermutu tinggi makin terbuka lebar.

Irfan mengatakan, pihaknya juga berencana melacak dan membudidayakan kembali varietas tanaman kapas yang dulu dipakai sebagai bahan baku utama kain Selayar. Sejak aktivitas tenun meredup, tanaman kapas setinggi 1-2 meter yang dulu banyak tumbuh di wilayah permukiman menjadi tak terurus dan kemudian habis. Secara perlahan, tenun Selayar kini meniti harapan untuk kembali berkibar. (MOHAMAD FINAL DAENG/MOHAMMAD HILMI FAIQ/INGKI RINALDI)