Kelapa pernah menjadi pilar utama perekonomian warga Selayar sehingga disebut sebagai ”emas hijau”. Sebutan emas hijau bukan tanpa alasan karena keuntungan dari penjualan kopra sebagai olahan kelapa kerap diwujudkan menjadi gigi emas. Adapun pohon kelapa kerap dijadikan sebagai mas kawin dalam pernikahan. Walau kini kelapa di Selayar tidak lebih berharga dibandingkan beras, kelapa tetap menjadi komoditas andalan.

Syafruddin (52) berdiri gagah memisahkan serabut kelapa dari batoknya. Peluh mengalir deras dari pelipis hingga dadanya yang tanpa baju itu. Udara Desa Parak, Kecamatan Bontomanai, Kepulauan Selayar, pada Selasa (24/10) itu membuat Syafruddin cepat berkeringat. Sejenak dia duduk, minum, lalu mengipas-ngipasi badannya dengan kaos yang tadi dia rentangkan di atas tumpukan kelapa. “Udara begini ini yang bikin cepat lelah,” ujarnya. Dia mengeluhkan udara panas karena angin tidak berembus.

Karena masih banyak kelapa yang harus dikupas, Syafruddin kembali bangkit berdiri. Apalagi, dari target untuk mengupas 1.000 kelapa, baru terkupas 460 kelapa. Dia baru menjalani separuh dari target. Ongkos yang diterimanya hanya Rp 100 per kelapa. Kelapa itu setelah dicungkil kemudian dijemur selama seminggu atau diasapi selama tiga hari sebelum dijual sebagai kopra.

Kompas/Mohammad Hilmi Faiq

Buruh mencungkil kelapa sebelum dijadikan kopra di Desa Parak, Kecamatan Bontomanai, Kepulauan Selayar, Selasa (24/10). Kelapa pernah menjadi penopang utama ekonomi warga selayar hingga disebut emas hijau.

Kopra-kopra itu biasanya dijual ke Jawa untuk bahan obat-obatan atau makanan. CV Sinar Laut milik Ariyanto, misalnya, mempekerjakan delapan orang untuk mengolah berton-ton kelapa. ”Apabila sudah terkumpul 50 ton, kopra itu saya kirim ke Surabaya,” ujarnya.

Ariyanto menampung kopra dari para petani dan pekebun dengan harga Rp 8.000 per kilogram. Dengan catatan, kadar air hanya 15 persen sampai 45 persen. Kopra dari petani kemudian masih akan dikeringkan sebelum dikirim ke Jawa. Jika tidak dikeringkan dan kadar air dalam kopra masih tinggi, katakanlah lebih dari 10 persen, kopra mudah rusak atau busuk.  

Pekebun kelapa

Di sini laut di sana laut, di tengah-tengah ada banyak pohon kelapa. Begitu gambaran Kepulauan Selayar. Selain laut, pandangan mata kerap membentur pohon kelapa. Di bawah naungan pohon kelapa, rumah-rumah panggung pun didirikan. Rumah itu dibangun dengan tiang-tiang dari pohon kelapa. Singkat kata, kelapa menopang hidup warga Selayar.

Data Kabupaten Kepulauan Selayar mengonfirmasi hal itu. Sebagian besar kebun yang dipelihara warga, misalnya, adalah perkebunan kelapa dengan total luas 19.416 hektar. Tanaman lain yang ditanam warga adalah jambu mete pada lahan seluas 3.714 hektar dan cengkeh pada lahan seluas 1.213 hektar.

Kebun kelapa itu rata-rata didapat warga dari warisan orangtua. Dari orangtuanya, Nur Yadin (48), misalnya, memiliki 18 hektar kebun kelapa atau setara dengan hampir 2.000 batang pohon. Namun, kata Yadin, hasil kebun kelapa tidak dapat diandalkan karena harganya yang tak kunjung naik.

Dengan harga kopra Rp 8.000 per kilogram, misalnya, pendapatan pemilik kebun relatif terbatas karena harus dipotong biaya pekerja yang mencapai 30 persen dari hasil panen. Idealnya, harga kopra minimal Rp 10.000 per kilogram. ”Pemilik kebun tidak bisa meminta harga naik karena semua tergantung tauke, tengkulak. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan harga kopra naik atau turun,” kata Yadin.

Menurut Ariyanto, pemilik CV Sinar Laut, harga kopra dipengaruhi banyak faktor, di antaranya fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Dia juga tidak dapat begitu saja menaikturunkan harga kopra. Prinsipnya, dia tidak mau rugi walau di sisi lain juga tidak mau mengambil untung terlalu besar dari pekebun kelapa.

Sebagai mas kawin

Buku Selayar and The Green Gold: The Development of the Coconut Trade on an Indonesian Island karya Christiaan G Heersink (1999) menguraikan, kejayaan kopra terjadi di masa kolonial. Orang-orang Eropa bahkan mengangkut kopra dari Indonesia timur untuk bahan dasar margarin dan sabun. Para pemilik perusahaan Eropa juga memberi modal tambahan kepada para tauke China untuk menjadi pengepul kopra dari para petani di daerah-daerah yang sulit dijangkau, salah satunya Selayar. Sekitar tahun 1880, untuk pertama kalinya, kopra dari Selayar dikirim ke Eropa lewat Makassar.

Kompas/Mohammad Hilmi Faiq

Tumpukan kelapa yang akan diolah menjadi kopra di Desa Parak, Kecamatan Bontomanai, Kepulauan Selayar, Selasa (24/10). Kelapa pernah menjadi penopang utama ekonomi warga Selayar hingga dijuluki emas hijau.

Masa keemasan kopra ikut mengerek keberadaan kelapa sebagai lambang status sosial. ”Semakin banyak pohon kelapanya, semakin terhormat,” kata Rahmat Zaenal, sejarawan Selayar.

Kelapa sebagai ukuran status sosial juga terlihat, setidaknya, dalam upacara pernikahan. Mempelai laki-laki akan memberi mas kawin (sunrang) berupa pohon kelapa. Semakin tinggi status sosialnya, semakin banyak jumlah pohon kelapanya. ”Kalau dia bangsawan, jumlah pohon kelapa yang diberikan sebagai mas kawin setidaknya 80 batang berikut tanahnya. Jadi, setelah menikah, mereka dapat memanfaatkan mas kawin itu untuk menjalani hidup,” kata Saharuddin Arif, Kepala Desa Patilereng, Kecamatan Bontosikuyu.

Untuk kelas sosial di bawahnya, biasanya hanya dijanjikan 20-40 batang pohon kelapa sebagai mas kawin. Mas kawin pohon kelapa ini setidaknya sudah dikenal selama tiga abad. ”Sekarang ada juga yang memberi pohon cengkeh sebagai mas kawin karena nilai kelapa terus menurun,” ujar Arif. (MOHAMAD FINAL DAENG/MOHAMMAD HILMI FAIQ/INGKI RINALDI)