KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Kesibukan pekerja pabrik tekstil CV Sandang Makmur di Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 22 Maret lalu. Kini, hasil produksi tekstil setempat itu terpaksa memasuki masa suram karena gempuran produk tekstil dari China.

Industri

Ekspedisi Citarum 2011: Majalaya, Seabad Geliat Tekstil Rakyat

·sekitar 3 menit baca

Memasuki daerah Majalaya di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sejauh mata memandang hanya tampak tembok pabrik-pabrik kusam berlumut, bekas endapan lumpur banjir. Udara kotor berdebu menyelimuti jalan-jalan sempit yang banyak berlubang.

Semrawut lalu lalang dokar menggantikan geliat kawasan yang pernah menyandang julukan “Kota Dollar” karena kiprah industri tekstil rakyatnya itu.

Matahari di atas Alun-alun Majalaya belum terlalu terik kala Didin (27) beristirahat di bangku dokar miliknya, Kamis (24/3). Sebagai penarik dokar, paras pemuda itu kelewat bersih. Celana jins dan sandal bermerek. Lebih mirip anak kuliahan.

“Saya beli dokar ini dua tahun lalu seharga Rp 1,5 juta. Saat itu Bapak beli lima dokar, empat yang lain disewakan kepada tetangga. Saya yang disuruh mengurus setoran hariannya,” tutur anak juragan dokar di Daerah Aliran Sungai Citarum itu.

Lima dokar itu dibeli dengan uang hasil penjualan mesin tenun kuno merek Suzuki yang diwariskan kakeknya. Awalnya, Misbun, ayah Didin, adalah seorang perajin tekstil rakyat yang memiliki tiga mesin tekstil buatan Jepang. Saat krisis ekonomi tahun 1999, satu per satu mesin dijual untuk modal usaha.

Didin mengaku sempat diajari ayahnya mengoperasikan mesin tenun. Namun, pada akhirnya ia lebih memilih menjadi juragan dokar karena melihat peluang usaha tekstil rakyat kian redup.

“Kalau bosan di rumah, saya baru narik dokar. Lumayan, sehari dapat Rp 50.000. Usaha tenun sekarang, kata Bapak, modalnya besar, tetapi untungnya belum tentu,” ujarnya polos.

Penjualan mesin tenun bekas di Majalaya bukan hal baru. Deden Suwega (47), pemilik CV Sandang Makmur, mengakui, banyak keturunan pengusaha tekstil gagal bertahan, lalu beralih menjadi juragan dokar, pedagang pasar, dan petani.

“Banyak mesin tekstil tua dijual di pasar. Bahkan ada yang dijual kiloan. Miris kalau saya melihat mesin-mesin itu teronggok di pasar loak. Padahal, Majalaya berutang besar pada mesin-mesin tua itu,” kata generasi ketiga ahli waris salah satu usaha tekstil rakyat di Majalaya itu.

“Kota Dollar”

Deden ingat betul kisah kejayaan industri tekstil pada 1960-an saat Majalaya dijuluki “Kota Dollar”. Pemenuhan bahan baku tenun dan keperluan harian saat itu sangat mudah. Begitu keluar rumah, sudah banyak penjual mengantre layaknya semut merubung gula.

Tidak dimungkiri, Majalaya adalah cikal bakal industri tekstil modern di Indonesia. Walau perkembangannya baru terasa pada 1930-an, dipelopori pengusaha tekstil lokal, seperti Ondjo Argadinata dan Abdulgani, geliatnya telah dimulai pada 1910.

Saat itu ada perempuan yang menekuni alat tenun kentreung atau gedhogan dengan bahan baku kapas dan pewarna dari kebun. Namun, skalanya masih sangat terbatas dan hanya dipakai rumah tangga.

Pada 1921 pemerintah kolonial Belanda mendirikan Textile Inrichting Bandoeng yang kelak bernama Sekolah Tinggi Tekstil Bandung. Pada 1928, empat gadis asal Majalaya dikirim ke Bandung untuk belajar tenun menggunakan alat tenun semiotomatis yang tidak membutuhkan listrik, disebut alat tenun bukan mesin (ATBM). Mereka kelak mewariskan teknik tenun dan membangun dinasti usaha tekstil rakyat Majalaya.

Pasca-kemerdekaan, Majalaya berkembang jadi pusat tekstil nasional. Akhir 1964, Majalaya menguasai 25 persen dari 12.882 alat tenun mesin di Jabar.

Gegap gempita tekstil rakyat mulai meredup pada 1980-an dengan masuknya kekuatan finansial pemodal luar dengan mendirikan pabrik di Majalaya. Ketidakmampuan industri tekstil lokal merestrukturisasi mesin yang lebih efisien ikut menurunkan daya saing. Perlahan, industri tekstil rakyat tersisih.

Pengusaha tekstil Majalaya, Satja Natapura, menyebutkan, sebelum krisis ekonomi tahun 1998, jumlah industri rakyat di Majalaya sekitar 250 unit. Seusai krisis tersisa 130 unit dan kini hanya 100 unit. Kini industri itu hanya bertahan dengan ceruk pasar yang kian sempit. (GREGORIUS MAGNUS FINESSO)

Artikel Lainnya