Kompas/Rony Ariyanto Nugroho

Lanskap Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, saat pagi yang cerah, Selasa (29/3). Selain menjadi pembangkit listrik untuk jaringan Jawa- Bali, waduk yang dibangun tahun 1957 dan diresmikan tahun tahun 1964 ini juga menjadi salah satu pilihan warga untuk berwisata keluarga atau memancing.

Pangan

Pesona Nusantara: Waduk Jatiluhur, Pesona di “Jantung” Citarum

·sekitar 4 menit baca

Waduk Ir H Djuanda, biasa disebut Waduk Jatiluhur, adalah jantung di aliran Sungai Citarum. Membendung sungai di wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, waduk seluas 8.300 hektar itu memompa “kehidupan”. Beragam potensinya layak dinikmati sebagai obyek wisata alam.

Mulai dibangun tahun 1957, Jatiluhur diproyeksikan menjadi waduk serbaguna. Selain mencegah banjir di hilir Citarum, Waduk Jatiluhur juga mengairi 240.000 hektar sawah di utara Jawa Barat, membangkitkan listrik 700-800 gigawatt hour per tahun, serta menyuplai kebutuhan air baku industri dan air bersih DKI Jakarta, Bekasi, dan Karawang.

Waduk Jatiluhur juga berkembang menjadi lahan budidaya ikan melalui keramba jaring apung (KJA). Teknologi KJA diuji coba pertama kali di waduk itu tahun 1974, kemudian dikembangkan tahun 1988. Sepuluh tahun terakhir, usaha itu berkembang pesat. Kini jumlahnya mencapai 17.000 unit dengan volume produksi sekitar puluhan ribu ton per tahun.

Belakangan Jatiluhur juga dikembangkan sebagai lokasi tujuan wisata. Berpusat di pantai timur-sebutan bagi kawasan di tepi timur waduk-obyek wisata Jatiluhur menempati lahan seluas 53 hektar di wilayah Desa Jatimekar, Kecamatan Jatiluhur.

Dari Bandung, kami menyasar lokasi ini melalui Jalan Tol Purbaleunyi. Keluar melalui gerbang Jatiluhur di daerah Ciganea, Purwakarta, lokasi obyek wisata dapat ditempuh hanya belasan menit. Pengunjung dari Jakarta juga akan lebih baik melalui gerbang tol ini, karena hanya berjarak tujuh kilometer dari obyek wisata.

Setelah melalui jalan menanjak dengan beberapa kelokan, gerbang utama kawasan wisata langsung menyapa. Di sini, para pengunjung diwajibkan membayar karcis masuk Rp 5.000 per orang. Khusus akhir pekan atau hari libur nasional, tarifnya naik menjadi Rp 7.500 per orang.

Hanya satu kilometer dari gerbang masuk, pengunjung langsung disuguhi hamparan air yang teramat luas. Saking luasnya, kami menyebut waduk ini mirip lautan. Deretan gunung dan ribuan petak keramba mengisi cakrawala di seberang barat.

Ditingkahi suara perahu yang lalu lalang mengantar pengunjung, angin menerpa daratan dan mengibarkan daun-daun pohon yang berderet di pantai timur. Di bawah pohon-pohon ini, panorama alam Jatiluhur bisa dinikmati utuh dari sisi utara, barat, kemudian selatan, atau sebaliknya.

Memancing

Di kawasan obyek wisata Jatiluhur, terdapat “markas besar” cabang olah raga dayung. Jika beruntung, Anda bisa menyaksikan atlet-atlet dayung nasional berlatih kano, kayak, atau perahu naga melintasi perairan Waduk Jatiluhur.

Akan tetapi, memancing ikan tidak kalah seru dari menonton atlet dayung yang beradu cepat. Pengunjung bisa membawa sendiri pancing dan umpannya.

Tetapi, Anda juga bisa membelinya di warung-warung di kanan kiri jalan beberapa kilometer menjelang obyek wisata dengan modal uang ribuan hingga belasan ribu rupiah.

Keberadaan belasan ribu unit keramba jaring apung sungguh menguntungkan pemancing. Zaenal (32), pemancing asal Plered, Purwakarta, yakin sebagian besar hasil tangkapannya adalah ikan-ikan yang terlepas dari kolam-kolam pembudidaya. Sebab yang tersangkut pancing umumnya jenis nila, mas, atau patin, yang banyak dibudidayakan di kawasan itu.

Untuk sekadar memancing, Anda bisa mencoba lokasi lain di luar kawasan wisata. Waduk Jatiluhur mencakup enam kecamatan di Kabupaten Purwakarta, yakni Jatiluhur, Sukatani, Plered, Tegalwaru, Maniis, dan Sukasari. Hampir semuanya memiliki tepian yang bisa dijadikan lokasi memancing.

Di Kawasan Cibinong, Kecamatan Jatiluhur; di Kutamanah, Kecamatan Sukasari; atau di Galumpit, Kecamatan Tegalwaru, Anda dengan mudah menemukan lapak pemancingan, semacam gubuk berbahan bambu, yang disewakan Rp 5.000 per hari. Di lapak-lapak itu para pemancing biasa menjulurkan umpan, menunggu sambaran ikan hingga berjam-jam, dan berteduh dari terik dan hujan.

Di beberapa lokasi itu juga terdapat tempat penitipan sepeda motor. Wajar, sebab sebagian pemancing juga bermalam di tepian waduk. Mereka membawa sendiri bekal makanan atau minumannya, tetapi tak sedikit pedagang berperahu menghampiri lapak-lapak pemancing di Jatiluhur menawarkan gorengan, nasi plus lauknya, atau sekadar rokok dan kopi.

Ikan bakar

Kawasan wisata Jatiluhur yang dikelola Unit Kepariwisataan Perum Jasa Tirta (PJT) II juga menawarkan wisata edukasi berupa kunjungan dan penjelasan soal teknologi bendungan dan pembangkit listrik. Namun, karena alasan keamanan, paket ini tidak dibuka untuk umum beberapa tahun terakhir.

Obyek wisata Jatiluhur menawarkan tempat berkemah dan gedung pertemuan, penginapan hotel dan bungalo, jelajah perairan waduk, arena bermain anak, serta kolam renang. Fasilitas kapal untuk jelajah perairan dapat dinikmati dengan tarif Rp 10.000-Rp 12.500 per orang untuk sekali perjalanan. Sementara sarana bermain kereta monorel Rp 10.000, motor mini Rp 10.000, dan water world Rp 27.500 per orang.

Salah satu yang membuat kawasan ini berbeda dari obyek wisata lain adalah menu ikan bakarnya. Pantai timur Waduk Jatiluhur dipadati warung makan dengan menu andalan ikan bakar. Jenis ikan yang ditawarkan antara lain ikan mas, nila, patin, jambal, dan betutu bakar atau goreng dengan tarif Rp 25.000-Rp 300.000 per kilogram. Beberapa pemilik warung juga menawarkan menu pendamping seperti sayur asam, sambal, lalapan, karedok, dan es kelapa muda.

Kepala Unit Kepariwisataan PJT II, Heri Hermawan, menambahkan, pihaknya menjalin kerja sama dengan pihak ketiga yang menawarkan jasa kegiatan luar ruang di kawasan Waduk Jatiluhur. Kerja sama antara lain dengan Pelopor Adventure Camp dan Outbond Indonesia, yang menawarkan jasa wisata petualangan alam dan team building.

Kawasan pantai timur Waduk Jatiluhur juga sering menjadi titik pemberangkatan menuju tebing batu andesit tertinggi di Indonesia, tebing Gunung Parang di Desa Sukamulya, Kecamatan Sukatani, salah satu kawasan di sisi timur waduk. Struktur batuan yang keras dan “miskin” pegangan menarik minat dan menantang pemanjat tebing profesional untuk datang dan menaklukkannya.

Lokasi Sukamulya dapat ditempuh dengan berperahu motor sekitar 1,5 jam perjalanan menyeberangi waduk dan meniti jalan setapak. Gunung Parang memiliki tiga puncak (tower), yang tertinggi Tower I setinggi 963 meter di atas permukaan laut. Tower ini memiliki medan panjat setinggi kurang lebih 600 meter dan menjadi lokasi favorit para pemanjat tebing.

Tertarik untuk menikmati salah satu atau semuanya? Silakan datang sendiri ke Waduk Jatiluhur. Selamat mencoba. (MUKHAMAD KURNIAWAN)

Artikel Lainnya