KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

"Simbiose Tradisi", tali-temali tradisi kenelayanan dan budaya agraris yang bersua di muara Sungai Cimadur, Desa Bayah, Lebak, Banten. Rombongan 53 kerbau milik Bunyamin digiring ke ladang rumput di Teluk Bayah. Penggembala kerbau memilih jalur itu ketimbang jembatan yang rawan kecelakaan karena lalu lalang kendaraan bermotor.

Liputan Kompas Nasional

Pameran Foto Ekspedisi Susur Selatan 2009: Visualisasi Jawa yang Tak Rata

·sekitar 3 menit baca

Selama ini kita banyak melihat suasana pantai utara Jawa dalam aneka visualisasi, video maupun foto. Gambar kendaraan bermotor yang terjebak kemacetan sudah menjadi foto basi untuk pantura, setidaknya pada setiap musim mudik Lebaran.

Pantura yang jadi menonjol sangatlah wajar karena kondisi pantainya yang umumnya landai dengan laut yang cukup ramah karenabukan samudra. Kota-kota perdagangan penting Jawa tumbuh pesat di pantura.

Lalu, bagaimana sebenarnya pansela (kalau boleh menyebut pantai selatan Jawa dengan julukan ini untuk pembanding pantura) saat ini?

Selama ini pansela umumnya cuma dikenal untuk tempat-tempat wisata lautnya, seperti Palabuhanratu dan Pangandaran di Jawa Barat; Parangtritis, Karang Bolong, dan Nusakambangan di Jawa Tengah dan DIY; serta Ngliyep dan Pulau Sempu di Jawa Timur. Untuk jalur transportasi, pansela Jawa sampai saat ini belum pernah disebut-sebut karena kenyataannya belum ada jalan yang layak di sana. Belum ada satu jalan utuh yang bisa menghubungkan ujung barat dan ujung timur Jawa lewat selatan.

Pameran Foto Ekspedisi Susur Selatan 2009 yang dibuka malam ini di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, sedikit banyak ingin mengungkapkan realitas pantai selatan Jawa dalam bentuk foto mutakhir. Berbeda dengan Pameran Foto Ekspedisi Anjer-Panaroekan beberapa waktu lalu, pameran ini tidak mampu menyertakan foto-foto dari masa lalu sebagai pembanding karena memang tak tersedia.

Bahasa gambar

Namun, foto selalu bisa berbicara banyak kalau dibuat dengan benar. Itu pakem fotografi yang selalu menjadi kalimat pertama dalam kursus-kursus jurnalistik. Pameran Foto Ekspedisi Susur Selatan memang menyertai tulisan-tulisan yang berhubungan dengan ekspedisi ini, tetapi sebenarnya foto-foto ini bisa juga berdiri sendiri. Ada hal-hal yang hanya bisa dijabarkan lewat tulisan, tetapi ada juga hal-hal yang hanya bisa ditularkan lewat gambar.

Sebagai contoh adalah tulisan ekspedisi ini saat bercerita tentang anak SD di Cianjur Selatan, Jabar, yang selalu pulang sekolah larut malam akibat jauhnya jarak ke sekolahnya. Hal tentang anak SD itu hanya bisa dijabarkan dengan tulisan.

Namun, ada kalanya foto lebih bercerita daripada tulisannya. Tengoklah foto karya Rony Ariyanto Nugroho yang berjudul “Simbiose Tradisi”. Foto itu memancing keheranan karena melihat kerbau dan perahu sama-sama berada di sungai. Pemilik kerbau memilih lewat jalur air karena jalur daratnya lebih rawan kecelakaan.

Demikianlah, pameran ini berusaha menampilkan realitas-realitas visual pantai selatan Jawa dari ekspedisi yang dilakukan harian Kompas sampai awal Mei lalu.

Membicarakan yang buruk-buruk, simak foto karya Iwan Setiyawan tentang buruknya jalan antara Tulungagung dan Pacitan. Atau karya Rony Arianto tentang ruas jalan di Cianjur Selatan yang seakan bukan di Pulau Jawa. Juga foto karya Wawan Prabowo berjudul “Memprihatinkan” tentang buruknya sarana sekolah di Gunung Kidul, DIY.

Minusnya pansela masih dihiasi dengan foto-foto yang menggambarkan sulitnya mencari air bersih di Gunung Kidul, DIY, bahkan pada abad XXI ini. Juga foto Raditya Mahendra tentang anak-anak Dusun Lempong Pucung, Cilacap, Jateng, yang hanya punya jendela keluar lewat siaran televisi.

Nelayan yang berubah profesi menjadi petani akibat perubahan alam bisa dilihat pada foto karya Raditya Mahendra yang berjudul “Perubahan Lingkungan”.

Keindahan alam

Potensi wisata? Foto-foto Wawan Prabowo tentang aneka goa indah di daerah sekitar Pacitan sungguh memancing gairah para penikmat wisata ekstrem. Pegunungan kapur di selatan Jawa memang sangat kaya dengan goa-goa yang penuh stalaktit dan stalagmit, kadang dengan aneka bumbu hikayat pula.

Mengagumkan pula menyaksikan foto berjudul “Pemukiman Adat” karya Rony Arianto Nugroho. Di tengah Pulau Jawa yang disebut pulau paling maju di Indonesia ternyata masih ada masyarakat yang bisa hidup demikian harmonis dengan alam di Kampung Adat Dukuh, Kabupaten Garut.

Ternyata bukan masyarakat Baduy di Banten saja yang bisa bertahan terhadap serbuan kemajuan teknologi masa kini.

Yang juga tak bisa dilupakan adalah potret betapa gigihnya manusia Indonesia dalam mencari nafkah lewat foto Wawan Prabowo berjudul “Keindahan Gunung Kidul”. Untuk mendapatkan lobster yang lezat dan mahal, masyarakat di Pantai Timang, DIY, mempertaruhkan nyawa pada seutas tambang.

Harapan

Pameran foto ini tentu di satu sisi hanyalah laporan dari sebuah media massa yang berusaha peduli pada keadaan negeri ini. Namun, di sisi lain, pameran ini adalah sebuah harapan agar kemajuan Indonesia tidak cuma dirasakan segelintir penduduk. Pantai selatan Jawa punya hak untuk semaju wilayah lain. (ARB)

Artikel Lainnya